HM Soesiswo (paling kiri) dalam acara KTT Angkringan

Banyak Idenya “Ora Duwe Wudel” – Drs. HM Soesiswo

Share

Wartawan dan redaktur senior yang pernah bekerja di Harian Suara Merdeka, Drs. HM Soesiswo, yang sering dipanggil Pak Wo, tidak banyak mengerti mengenai hal-hal yang berkait tentang Bambang Sadono (BS). Tapi ada yang tidak bisa dilupakan, yaitu kehadirannya setiap menjelang Hari Lebaran ke rumahnya di Jl. Kinibalu Timur 10 Tandang Semarang.

Pak BS bersama istrinya setiap menjelang Lebaran selalu ke rumah saya, memberi parcel atau bingkisan. Sampai istri saya merasa malu dan pekewuh karena selama ini kami belum pernah bisa membalas kebaikan Pak BS,” katanya.

Ia sendiri pun merasa belum pernah berkontribusi apa-apa buat BS. Maka, waktu dijawil oleh untuk kumpul kangen-kangenan di tempat angkringan yang istilahnya nasi kucing itu Pak Wo nekad hadir.

“Saya diam-diam berangkat, padahal saya dilarang keras keluar malam sendirian oleh istri dan anak saya,” katanya.

Ternyata di angkringan itu sudah ada juga ‘Burisrowo’ (yang dimaksud Hari Bustaman) dan teman -teman lain. Juga diberi kaos yang langsung dipakai seperti teman teman lain, seperti Mas Sudadi, Bambang Iss, Christiono, dan lain lain.

Pak Wo yang cukup lama menjabat sebagai redaktur kota di Harian Suara Merdeka, mengaku jarang berkegiatan di luar kantor. Yang meliput acara atau peristiwa adalah para wartawan di bawah komandonya, termasuk BS salah satunya.

“Pak BS itu orangnya cerdas dan gesit. Pernah jadi anak buah saya, yang kemudian menjadi atasan saya pada jabatan penting,” katanya.

Tidak Berubah

Pak Wo sungguh-sungguh angkat topi terhadap jenjang kariernya. Ia salut tidak hanya terhadap kariernya sebagai wartawan, tapi kiprah di dunia politik juga hebat. Keberhasilannya dalam dunia politik, ternyata tidak mengubah sikap pertemanan. 

“Salah satu bukti nyata, terhadap diri saya masih selalu ingat dan bersilaturahmi,” katanya.

Menurut Pak Wo, BS itu seperti ‘ora duwe wudel’ – tidak punya rasa capek. Setiap ada teman sakit, selalu menjenguk, ada teman yang meninggal juga hadir bertakziah. Yang lebih membuat heran lagi, BS masih sering berkunjung ke beberapa kota untuk menemui orang-orang. Entah siapa saja yang ditemui itu, dari berbagai kalangan.

BS, menurut Pak Wo, merupakan satu-satunya teman yang berbeda di antara para senior dan sebayanya, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.

Teman-teman senior Pak Wo semua telah meninggal, yang sebaya juga hampir habis. BS itu lain daripada yang lain. Sangat nguwongke wong – memanusiakan manusia.

“Saya sampai kesulitan menggambarkan dan mengungkapkan sikap demikian itu, tapi saya sangat bisa merasakan,”jelasnya.

Masih Gesit

Pak Wo yang kini berusia 78 tahun itu sambil geleng-geleng kepala mengatakan, BS sekarang mestinya sudah saatnya beristirahat menikmati hari tua, tapi nyatanya masih beraktivitas jauh lebih gesit dibanding kalangan yang lebih muda usia. 

Diibaratkan, langkah Pak BS sudah jauh di titik sana, sementara yang masih muda-muda masih berfikir ingin berbuat. 

“Tidak mudah untuk meniru kiprahnya dan menyusul karier Pak BS, apalagi untuk menyamai atau melampaui,” katanya.

BS ada saja yang dikerjakan, akal dan idenya seakan-akan tidak pernah habis dan selalu muncul. Yang dikerjakan itu juga selalu berhasil kemudian manfaatnya bisa dirasakan orang banya. 

Ketika ditanya apa saja yang hingga sekarang masih terkesan sulit untuk dilupakan tentang BS, Pak Wo secara cepat menjawab, tentang kebaikannya, tentang jiwa sosialnya, tentang kepedulian terhadap teman.

Suka Main Kartu

Ada hal yang sangat diingat Pak Wo, mengenai BS ketika masih menjadi wartawan lapangan. Sambil tersenyum, diceritakan ketika bersama teman teman wartawan lain BS main kartu di kantor. 

“Saya selalu bersikap tegas dan disiplin. Semua saya ultimatum jangan sampai ada yang main kartu di lingkungan kantor,” katanya.

Suatu hari sepulang dari kantor Kaligawe, Pak Wo mampir ke kantor redaksi kota yang di Jl. Pandanaran II. Di sana ada yang sedang bermain kartu. BS ada di antara mereka. 

Tanpa kata-kata, Pak Wo ambil botol beling dari dalam kulkas. Botol berisi air putih itu diangkat lalu saya lepas, pecah berantakan di atas keramik lantai. Kemudian cepat-cepat pergi, tanpa bilang apa-apa. Sejak itu tidak ada lagi yang main kartu di lingkungan kantor.

“Begitu saya bertemu BS dan yang lain di beda hari, saya tidak membicarakan atau menyinggung kejadian itu lagi, jelasnya.

Pak Wo mempunyai harapan BS, mau membagi ilmu dan pengalamannya pada generasi yang lebih muda. Sangat disayangkan apabila ilmu dan pengalaman tersebut itu tidak ditularkan kepada generasi penerus

“Karena, belum tentu ada pelajarannya di sekolah atau kampus. Saya yakin, pasti sangat bermanfaat”, tambahnya. 

Artikel Terkait