RSUD Dr. Moewardi Solo

dr. Heri Dwi Purnomo, Sp. An, M. Kes – Andalan Jateng Selatan dan Jatim Bagian Barat

Share

Sebagai satu-satunya rumah sakit tipe A di Solo, RSUD Dr. Moewardi memiliki peran penting sebagai rujukan di kawasan Jawa Tengah selatan dan Jawa Timur bagian Barat. Saat ini menghadapi tantangan keterbatasan lahan, dengan luas hanya 4,4 hektar. Untuk meningkatkan kapasitas, Moewardi membangun gedung yang lebih tinggi.

Heri juga menyampaikan bahwa pengembangan rumah sakit di luar lokasi saat ini hampir tidak mungkin dilakukan karena biaya yang sangat tinggi. Meskipun sebelumnya Moewardi pernah memiliki klinik di Paragon, namun kebijakan yang ada mengharuskan seluruh layanan berada dalam satu kompleks rumah
sakit.

Untuk meningkatkan sistem pelayanan, berupaya memperbaiki akses keluar masuk rumah sakit dengan menambah titik keluar kendaraan dan memperluas fasilitas parkir.

“Kemungkinan akan dibangun gedung parkir baru,” jelasnya.

Inovasi Pelayanan
Heri mengungkapkan adanya peningkatan jumlah pasien yang signifikan di RSUD Dr. Moewardi, dari sekitar 1.000 pasien poliklinik pada tahun 2000-an, kini
menjadi 2.500-2.600 pasien, yang menyebabkan kondisi rumah sakit cukup padat dan tidak nyaman.

Meskipun demikian, rumah sakit tetap berupaya menjaga dengan menerapkan semboyan “cepat, tepat, nyaman, dan mudah”. Salah satunya adalah dengan memastikan dokter selalu stand by dan disiplin untuk mempercepat pelayanan.

Pelayanan pendaftaran pun dapat dilakukan secara online untuk mengurangi antrean pasien. Selain itu, tersedia layanan pengantaran obat gratis bagi pasien di dalam kota Surakarta dan berbayar untuk pengiriman ke luar kota.

Sebagai rumah sakit rujukan, Moewardi tidak hanya melayani pasien dari Surakarta, tetapi juga dari berbagai daerah di Jawa Tengah, serta Jawa Timur bagian barat, seperti Ponorogo, Madiun, dan sekitarnya.

Hal ini menunjukkan kualitas pelayanan rumah sakit yang semakin luas, terutama dengan adanya peningkatan akses tol yang mempermudah perjalanan pasien. Selain berfokus pada pasien rujukan, juga melayani pasien umum yang jumlahnya bisa mencapai 2.500 per hari, yang berasal dari sistem rujukan berjenjang (Tipe C, B, A).

Berusaha mengelola beban tersebut dengan meningkatkan jumlah tenaga kesehatan dan memperbaiki sistem pelayanan. “Yang terpenting bagi rumah sakit adalah meningkatkan kualitas pelayanan,” katanya.

Keunggulan Moewardi
RSUD Dr. Moewardi diakui sebagai rumah sakit rujukan terbaik tipe A menurut BPJS Nasional, yang unggul dalam menyediakan layanan medis tingkat lanjut, seperti bedah jantung, bedah torak, transplantasi ginjal, kanker terpadu, dan endoskopi minimal invasif, yang tidak dilakukan oleh rumah sakit tipe di bawahnya.

Tercatat ada 8 pasien yang telah melakukan transplantasi ginjal. Salah satu layanan yang menonjol di RSUD Dr. Moewardi adalah penanganan stroke. Berhasil
meraih penghargaan dari World Health Organization (WHO) untuk kecepatan diagnosis stroke, dimulai dengan program Code Stroke di Unit Gawat Darurat (UGD), yang mencakup pemberian obat dan tindakan medis lanjutan di catheterization laboratory (cath lab).

Moewardi juga berkoordinasi dengan rumah sakit swasta sekitar untuk menangani pasien stroke akut, dengan mengirimkannya langsung ke UGD Moewardi agar perawatan lebih cepat tanpa harus melalui prosedur lain.

“SDM kami mampu melakukan intervensi cepat untuk mencegah kerusakan tubuh lebih lanjut,” tambahnya.

RS Pendidikan
RSUD Dr. Moewardi, sebagai rumah sakit umum dan pendidikan, memiliki dua kewajiban utama, yaitu memberikan pelayanan dan mendidik calon dokter spesialis. Dokter-dokter yang magang di rumah sakit ini akan melakukan tindakan sesuai aturan yang ada sebagai bagian dari pembelajaran.

Jumlah pasien yang cukup banyak dan bervariasi memberikan pengalaman luas bagi residen dalam menangani berbagai penyakit. Juga dilengkapi peralatan canggih yang mendukung proses pembelajaran.

Target utamanya adalah mendidik dokter-dokter spesialis yang berkualitas agar siap bekerja di tempat asal mereka. Heri mengatakan salah satu keistimewaan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di Moewardi adalah program anestesi, khususnya dalam teknik regional anestesi blok perifer, yang sangat berkembang karena banyaknya kasus.

Didukung peralatan yang memadai dan staf ahli yang akan membimbing serta mengevaluasi. “Jadi timbal balik, residen mendapatkan pelatihan, sementara rumah sakit mendapatkan tenaga muda profesional, sehingga proses pendidikan dan pelayanan berjalan beriringan,” katanya.

Peran BPJS
Sekitar 95% pasien RSUD Dr. Moewardi peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, menunjukkan peran pentingnya dalam memberikan akses kesehatan bagi masyarakat. Meskipun ada beberapa masalah dengan penundaan klaim, secara umum proses layanan masih berjalan lancar.

Heri menyatakan bahwa Moewardi tidak pernah menghadapi masalah seperti pengembalian pembayaran atau kesalahan. Karena evaluasi BPJS. Fokusnya pada
transparansi dan prosedur yang tepat.

Pelayanan rujukan yang cepat tanpa membedakan pasien BPJS dan non BPJS, menjadi komitmen selama 5 tahun terakhir. Meskipun prosedur penanganan kasus berbiaya tinggi umumnya dibebankan pada BPJS,

namun di Moewardi yang memiliki pasien advance seperti bedah jantung dan transplantasi ginjal, seringkali menyebabkan kerugian dan rumah sakit harus mensubsidi silang melalui keuntungan dari layanan lainnya.

Kemandirian Finansial
Bantuan dana untuk pegawai, peralatan, dan pemeliharaan berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), sementara pengembangan rumah sakit didukung oleh Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Bagi Hasil (DBH), dan Dana Alokasi Cukai (DAC), meskipun arahnya menuju kemandirian.

Heri mengungkapkan bahwa pendapatan rumah sakit terus meningkat dari tahun ke tahun, dari sekitar Rp. 700 juta pada 2020 menjadi Rp. 1,1 miliar, dengan surplus yang diinvestasikan kembali untuk pengembangan fasilitas dan pembelian alat medis.

Juga berhasil menjaga kesejahteraan tenaga kesehatan, terutama dokter dan perawat, dengan memberikan pendapatan yang tinggi. Bahkan, perawat di Moewardi disebut mendapat penghasilan tertinggi di Jawa Tengah.

Moewardi memiliki sistem yang memastikan dokter tetap berkomitmen bekerja di rumah sakit ini, meskipun mereka dapat bekerja di tempat lain setelah jam kerja tertentu. Dengan sistem manajemen yang teratur, rumah sakit dapat menciptakan lingkungan yang nyaman dan profesional.

“Dokter itu kan unik, susah-susah gampang, jadi diskusi itu harus banyak dilakukan,” ujarnya.

Hubungan RSUD Dr. Moewardi dengan pemerintah daerah, baik Provinsi Jawa Tengah maupun Kota Solo, juga berjalan lancar. Secara keseluruhan, dukungan dari pemerintah daerah tetap solid.

Program Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda), hingga saat ini masih berjalan, meskipun sebagian besar warga Solo kini sudah menggunakan BPJS. Jamkesda masih memberikan layanan untuk sebagian kecil warga yang membutuhkan pengobatan gratis.

Pelatihan Manajemen
Heri berharap ke depan rumah sakit di Indonesia, termasuk Moewardi, terus meningkatkan pelayanan dan mewujudkan sistem kesehatan yang setara dengan negara maju. Melalui pengalamannya belajar di Jepang serta kunjungan ke Singapura dan Malaysia, ia melihat pentingnya pelatihan manajerial tidak hanya untuk dokter spesialis, tetapi juga untuk direktur rumah sakit.

Banyak direktur rumah sakit daerah yang kurang memiliki kemampuan manajerial yang memadai, karena seringkali dipilih berdasarkan hubungan personal, bukan profesionalisme.

Ia mengusulkan agar pemerintah menyediakan pelatihan atau pendidikan manajemen rumah sakit untuk para direktur, agar rumah sakit di Indonesia bisa dikelola dengan lebih baik.

Heri menekankan bahwa selain keunggulan dalam aspek medis, manajemen yang kuat sangat penting dalam pelayanan kesehatan. Meskipun dokter spesialis merupakan aspek vital rumah sakit, manajemen yang buruk akan menghambat hasil yang optimal.

“Tidak masalah jika manager rumah sakit tidak berlatar belakang medis, asalkan memiliki kemampuan manajerial yang baik dalam mengelola rumah sakit,” jelasnya

Sementara itu, dr. Heri Dwi Purnomo, Sp. An, M. Kes.,sendiri  lahir di Ngawi pada 13 Oktober 1966. Menyelesaikan S1 Kedokteran di Universitas Airlangga dan Spesialis Anestesiologi di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Kariernya dimulai di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sragen. Bergabung di RSUD Dr. Moewardi, mengabdi di berbagai posisi, mulai dari Kepala Instalasi Gawat Darurat (IGD), Wakil Direktur Umum, Wakil Direktur Pelayanan, hingga akhirnya sebagai Plt. Direktur sejak 2024.

Juga aktif mengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS).

Tonton Video Selengkapnya

Artikel Terkait

Scroll to Top