Pertanyaan ini penting karena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan kejadian yang seluruh risikonya datang secara tiba-tiba. Ada musim kemarau, kondisi lahan kering, titik panas, arah angin, prakiraan cuaca, kualitas udara dan kelompok penduduk yang dapat dipetakan.
Banyak indikator bahkan dapat diketahui sebelum dampak kesehatan mencapai puncaknya. Artinya, kita sebenarnya memiliki kesempatan untuk bersiap sebelum masyarakat jatuh sakit. Itulah pesan yang perlu dibangun:
SAAT ASAP DATANG, KITA SIAP.
Bukan karena kita menunggu asap datang, melainkan karena kita sudah mengenali risikonya sebelum asap menjadi masalah kesehatan.
Karhutla sering dilihat sebagai persoalan lingkungan: hutan terbakar, lahan rusak, satwa kehilangan habitat dan emisi karbon meningkat. Semua itu benar. Tetapi ada konsekuensi lain yang tidak boleh berada di belakang layar: kesehatan manusia.
“Berdasarkan Situation Report Kementerian Kesehatan per 27 Agustus 2026, karhutla berdampak pada 10.674.201 penduduk di tujuh provinsi. Pada tanggal yang sama tercatat 4.082 kasus ISPA, sehingga secara kumulatif mencapai 13.449 kasus yang dilaporkan dari 63 kabupaten/kota di tujuh provinsi terdampak.
Hingga 27 Agustus 2026, sebanyak 848 tenaga kesehatan telah dimobilisasi di tujuh provinsi terdampak. Kemenkes juga memastikan kesiapan 1.691 puskesmas, 360 rumah sakit rujukan, dan 87 Labkesmas untuk menghadapi dampak kesehatan karhutla. Angka tersebut bukan sekadar statistik.
Di balik angka itu ada anak yang batuk, lansia yang sesak, ibu hamil yang lebih khawatir, pekerja yang tetap harus keluar rumah, tenaga kesehatan yang menghadapi peningkatan kebutuhan pelayanan, dan keluarga yang harus mengubah aktivitas sehari-hari.
Data terkini per September 2026, wilayah Indonesia yang paling parah terpapar kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berada di Pulau Kalimantan dan Sumatera, disusul oleh beberapa wilayah di Papua dan Nusa Tenggara. Fenomena kemarau panjang yang diperkuat oleh Super El Niño membuat sebaran titik api (hotspot) melonjak.
Selanjutnya Kompas.com 4 September 2026 menyampaikan bahwa kepulan Asap Karhutla Kalimantan Terekam NASA, menyebar hingga Malaysia. “Api membara di Indonesia, yang tengah mengalami kekeringan parah dan meluas.
Sebagian di antaranya merupakan kebakaran lahan gambut tropis yang terbakar perlahan, menghasilkan polusi udara lebih tinggi, dan sangat sulit dipadamkan,” tulis NASA Earth dalam twitnya.
Sementara itu Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kebakaran terjadi di berbagai daerah Indonesia, mulai dari Aceh, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, hingga Maluku Utara.
Kita juga perlu berhati-hati membaca angka kasus. Angka dalam situation report dan angka yang diberitakan setelahnya dapat berbeda karena periode dan cakupan pelaporan tidak sama.
Karena itu, yang lebih penting bukan sekadar memperdebatkan angka mana yang lebih besar, tetapi memahami arah risikonya: paparan asap dapat berkembang menjadi beban kesehatan yang nyata.

Asap Tidak Mengenal Batas Wilayah
Salah satu persoalan karhutla adalah bahwa lokasi api dan lokasi orang yang terdampak tidak selalu sama. BMKG pada akhir Agustus 2026 mencatat kondisi kering semakin meluas seiring puncak musim kemarau.
Titik panas meningkat di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatera, sementara sebaran asap terdeteksi di sejumlah wilayah dan dapat meluas mengikuti pola angin.
Ini berarti masyarakat tidak harus tinggal tepat di sebelah lokasi kebakaran untuk menghadapi risikonya.
WHO mengingatkan bahwa asap kebakaran dapat bergerak jauh dan membawa partikulat serta berbagai polutan yang berdampak pada kesehatan. PM2.5 menjadi perhatian utama karena ukurannya sangat kecil dan dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.
Bahkan, persoalan ini dapat melampaui batas negara. Pada Agustus 2026, ASEAN Specialised Meteorological Centre meningkatkan kewaspadaan kawasan terkait kondisi titik panas dan asap di wilayah ASEAN bagian selatan.
Ini mengingatkan kita bahwa asap adalah persoalan lintas wilayah dan dapat menjadi persoalan lintas negara. Maka, kalau asap tidak mengenal batas, komunikasi tentang risikonya juga tidak boleh terkotak-kotak oleh batas administrasi.
Yang Tidak Terlihat Justru Perlu Diwaspadai
Asap memang terlihat. Tetapi yang paling berisiko justru sering tidak terlihat. PM2.5 tidak dapat kita lihat dengan mata telanjang. Kita mungkin merasa udara hanya sedikit berkabut, tetapi partikulat halus tetap dapat terhirup.
Paparan asap dapat menimbulkan atau memperburuk batuk, sesak napas, mengi, iritasi mata dan saluran pernapasan, asma, PPOK serta gangguan kesehatan lainnya.
Pada kelompok rentan, dampaknya dapat lebih serius. WHO menempatkan anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit kronis dan pekerja luar ruang sebagai kelompok yang memerlukan perhatian lebih.
Karena itu, pesan kesehatan tidak boleh berhenti pada: “Hati-hati, ada kabut asap.” Pesan itu harus berkembang menjadi: “Kualitas udara sedang memburuk. Ini risikonya. Ini kelompok yang paling rentan.
Dan ini yang perlu kita lakukan.” Perubahan kecil dalam cara berkomunikasi tersebut sesungguhnya merupakan perubahan besar dalam kebijakan.
Dari “Memadamkan Api” Menjadi “Melindungi Manusia”
Tentu saja, solusi utama karhutla tetap pencegahan kebakaran. Tidak ada komunikasi yang dapat menggantikan penegakan hukum, pengelolaan lahan yang baik, perlindungan gambut, pencegahan pembakaran dan pengendalian sumber api.
Tetapi ketika kebakaran terjadi, kita tidak boleh hanya menghitung: berapa hektare yang terbakar. Kita juga harus menghitung: berapa orang yang terpapar?; berapa anak yang terdampak?;
berapa lansia yang harus mendapatkan pertolongan?; berapa fasilitas kesehatan yang harus bersiap?; berapa hari sekolah dan produktivitas terganggu?; berapa biaya kesehatan yang harus ditanggung? Dengan perspektif tersebut, pencegahan karhutla sesungguhnya adalah investasi kesehatan.
Setiap hektare yang tidak terbakar bukan hanya menyelamatkan hutan. Ia juga dapat berarti lebih sedikit asap, lebih sedikit paparan, lebih sedikit penyakit, lebih sedikit beban pelayanan kesehatan dan lebih sedikit keluarga yang harus mengubah kehidupannya.
Karhutla mempertemukan banyak persoalan sekaligus: lingkungan, cuaca, perubahan iklim, kualitas udara, kesehatan, ekonomi, pendidikan dan komunikasi.
Karena itu, responsnya tidak mungkin dikerjakan oleh satu sektor. BMKG membaca cuaca dan potensi kekeringan. Sektor lingkungan memantau kualitas udara dan sumber pencemaran.
Sektor kehutanan dan pemerintah daerah melakukan pencegahan serta pengendalian kebakaran. Kementerian Kesehatan memantau dampak kesehatan dan menyiapkan pelayanan.
Sekolah dan tempat kerja mengatur aktivitas. Media menyampaikan informasi. Dan masyarakat mengambil tindakan. Bertindak bersama bukan slogan. Ia adalah kebutuhan.
Saat Asap Datang, Kita Siap
Komunikasi risiko yang buruk dapat menghasilkan dua ekstrem. Pertama, masyarakat menganggap asap biasa saja dan tidak melakukan perlindungan. Kedua, masyarakat menjadi panik karena tidak mendapatkan informasi yang jelas. Kita membutuhkan jalan tengah: Waspada tanpa panik.
Masyarakat perlu mengetahui bahwa tidak semua paparan akan langsung menyebabkan penyakit berat. Tetapi masyarakat juga perlu memahami bahwa paparan berulang dan kualitas udara yang buruk bukan sesuatu yang boleh diabaikan.
Ikuti arahan pemerintah, cegah kebakaran, jangan sebarkan informasi yang belum terverifikasi dan segera mencari pertolongan ketika muncul tanda bahaya.
Mungkin kita tidak dapat menghilangkan seluruh risiko karhutla dalam satu musim. Tetapi kita dapat mengurangi dampaknya. Kita dapat mendeteksi lebih awal.
Kita dapat memberi tahu masyarakat lebih cepat. Kita dapat membuat informasi lebih sederhana. Kita dapat melindungi anak-anak. Kita dapat melindungi lansia.
Kita dapat melindungi ibu hamil dan penderita penyakit kronis. Kita dapat menyiapkan puskesmas dan rumah sakit. Kita dapat memperkuat sekolah dan tempat kerja. Kita dapat mencegah informasi palsu mengalahkan informasi yang benar.
Dan yang paling penting, kita dapat mengubah cara berpikir: dari menunggu sakit menjadi mencegah paparan. dari merespons kejadian menjadi mengelola risiko. dari sekadar memadamkan api menjadi melindungi manusia.
Karena itu, ketika asap datang, pertanyaan kita jangan hanya: “Kapan asap ini hilang?” Tetapi: “Apa yang sudah kita lakukan agar masyarakat tetap sehat?” Itulah makna sesungguhnya dari: SAAT ASAP DATANG, KITA SIAP
***













