Universitas Muhammadiyah Yogyakarta – 75 % Prodi Sudah Unggul 40 % Akreditasi Internasional

Share

Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc., menyatakan, perguruan tinggi yang dipimpinnya merupakan satusatunya perguruan tinggi Muhammadiyah yang masuk dalam pemeringkatan QS World University Rankings (QS WUR) 2026 oleh Quacquarelli Symonds, menempati peringkat 1201–1400 dunia dan peringkat ke-16 di Indonesia untuk kategori universitas.

Dari segi pengakuan internasional, UMY tercatat dalam Times Higher Education (THE) by Subject 2025 pada tiga bidang keilmuan.

Pertama, di bidang Ilmu Sosial yang mencakup ilmu sosial, ilmu politik, hubungan internasional, komunikasi, dan media, UMY menduduki peringkat ke-7 di Indonesia dan 801–1000 dunia.

Kedua, dalam bidang Ekonomi dan Bisnis yang meliputi bisnis, ekonomi, akuntansi, keuangan, dan ekonometrika, UMY juga berada di peringkat ke-7 nasional dan 801+ global.

Ketiga, pada bidang Teknik yang mencakup teknik sipil, elektro, dan mesin, UMY menempati peringkat ke-11 di Indonesia serta 1251+ dunia.

Menurut UI GreenMetric, peringkat UMY setiap tahun berada di kisaran 18–19. Sebelumnya, saat masih ada pemeringkatan dari Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi, posisi UMY konsisten masuk dalam top 10.

UMY memiliki reputasi yang baik di Indonesia dan menjadi referensi bagi universitas Muhammadiyah lainnya. Universitas ini telah meraih akreditasi institusi Unggul dari BAN-PT sejak tujuh tahun lalu dengan 8 fakultas dan 43 program studi, di mana 75% program studi berpredikat Unggul dan 40% diakui secara internasional.

UMY saat ini memiliki sekitar 20 ribu mahasiswa aktif, 657 dosen dengan 51 guru besar dan 361 doktor, serta lebih dari 66 ribu alumni yang berkiprah di berbagai bidang.

Kolaborasi Internasional
Selain tiga bidang keilmuan yang masuk pemeringkatan internasional QS WUR, UMY juga unggul dalam bidang keagamaan dan kesehatan. Saat ini, UMY telah membuka program pendidikan spesialis bedah, melengkapi Fakultas Kedokteran, Kedokteran Gigi, dan Farmasi yang berdiri sejak tahun 1990-an.

Dengan luas lahan sekitar 31 hektare, UMY memiliki fasilitas lengkap seperti Rumah Sakit Umum, Rumah Sakit Gigi dan Mulut, klinik, apotek, serta sarana olahraga

seperti lapangan sepak bola, basket, badminton, futsal, dan asrama mahasiswa berkapasitas 800 kamar. Tahun ini, UMY berencana membangun kolam renang dan pusat kebugaran.

Dalam kerja sama internasional, UMY menjadi tujuan bagi banyak pengajar dan mahasiswa asing. Setiap semester, sekitar 200 pengajar luar negeri terlibat dalam perkuliahan secara luring maupun daring.

Beberapa program studi memiliki program double degree atau joint degree, di antaranya dengan Asia University, Mindanao State University, dan Tatung University Taiwan.

UMY juga menerima mahasiswa asing melalui berbagai skema beasiswa, dengan penerimaan sekitar 60 orang tiap tahun melalui beasiswa penuh, selain skema parsial yang membebaskan SPP namun biaya hidup ditanggung sendiri.

Melalui program ini, semakin banyak mahasiswa internasional memilih UMY, terutama pada program studi Teknologi Informasi, Manajemen, dan Hubungan Internasional.

Dampak UMY
Dampak Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bagi masyarakat sangat besar. Hal ini terlihat dari kiprah para alumninya yang berpengaruh di tingkat daerah, nasional, hingga internasional.

Banyak lulusan UMY yang kini menduduki posisi strategis, seperti anggota DPR, Gubernur Nusa Tenggara Barat, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Bupati di Riau, Wakil Bupati Seram Bagian Barat, hingga Direktur Rumah Sakit Daerah.

Ada juga yang sukses menjadi pengusaha dan berkiprah di berbagai bidang lainnya. “Berdampak itu artinya alumni UMY hadir dan berkontribusi nyata di berbagai bidang,” ujarnya.

Selain melalui alumninya, dampak UMY juga terlihat dari hasil penelitian dosen yang bermanfaat bagi masyarakat, industri, rumah sakit, dan instansi pemerintah.

Salah satu riset unggulan adalah pengembangan alat deteksi kanker serviks oleh dosen UMY yang telah dipatenkan. Inovasi ini mampu mendeteksi potensi kanker serviks secara dini, membantu upaya pencegahan penyakit dengan tingkat kematian tinggi di kalangan perempuan.

UMY juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan, terutama di wilayah Bantul, tempat kampus ini berada. Dengan jumlah mahasiswa mencapai sekitar 20 ribu orang, perputaran ekonomi di sekitar kampus meningkat pesat, mulai dari kebutuhan makan, tempat tinggal, hingga layanan pendukung lainnya.

Dampak sosial UMY pun terlihat melalui komitmen pemberian beasiswa. Setiap tahun, universitas ini mengalokasikan sekitar Rp16 miliar untuk membantu mahasiswa dari keluarga kurang mampu.

“Kalau mereka lulus dan berhasil, itu luar biasa, karena ikut mengangkat harga diri dan martabat mereka,” katanya.

Kembangkan Bisnis
Untuk menjaga kemandirian dan mengurangi ketergantungan pada pendapatan mahasiswa, UMY telah mengembangkan berbagai unit bisnis strategis. Saat ini, UMY memiliki tiga perusahaan yang bergerak di bidang berbeda.

Pertama, Umat Mandiri Berkemajuan, yang fokus pada ritel dan usaha komersial lainnya. Kedua, Karya Umat Berkemajuan, perusahaan konstruksi yang menangani proyek pembangunan. Ketiga, Astri Mandiri Berkemajuan, yang bergerak di sektor kesehatan.

“Perusahaan-perusahaan ini didirikan untuk mencari dana di luar SPP,” jelasnya.

UMY terus membangun dana abadi demi keberlanjutan keuangan universitas di masa depan, dengan total dana terkumpul mencapai sekitar Rp150 miliar. Dana ini diharapkan dapat mendukung kegiatan akademik, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Dalam bidang akademik, UMY juga produktif dengan rata-rata 1.100 publikasi ilmiah terindeks Scopus setiap tahun, mencerminkan komitmen terhadap peningkatan kualitas riset dosen dan mahasiswa, serta kontribusi pada kenaikan Sinta Score universitas.

Untuk menjaga transparansi, UMY rutin mempublikasikan laporan kinerja melalui berbagai saluran, termasuk laporan rektor tahunan, media konvensional, dan media sosial. “Karena masyarakat banyak menggunakan media sosial, kami aktif mempublikasikan kinerja melalui akun resmi universitas,” ujarnya.

Pondasi Kemanusiaan
Nilai-nilai Kejogyaan menjadi bagian penting dari karakter UMY. Dalam perencanaan strategisnya, UMY secara tegas mendukung keistimewaan Yogyakarta. Selain itu, UMY memiliki kekhasan sebagai perguruan tinggi Muhammadiyah yang menyeimbangkan pendidikan keislaman dan kebangsaan.

Bagi banyak orang tua, memilih UMY berarti mempercayakan pendidikan anak untuk unggul secara akademik sekaligus memiliki dasar keislaman dan kebangsaan yang kuat.

Jika perguruan tinggi negeri umumnya fokus pada aspek kebangsaan, UMY menambahkan dimensi keislaman dalam kurikulumnya. Mahasiswa mendapatkan pembelajaran keislaman dan kebangsaan dengan porsi besar, sekitar delapan SKS, ditambah kegiatan pendukung untuk memperkuat nilai moral dan spiritual.

UMY juga memandang ilmu pengetahuan dari perspektif Islam, menjadikan nilai agama sebagai pondasi kemanusiaan. UMY hadir sebagai wajah Rahmatan lil ‘alamin, tempat di mana siapa pun bisa menempuh pendidikan tanpa memandang latar belakang agama.

Setiap tahun, UMY menerima mahasiswa non-Muslim dari berbagai daerah dan program studi. Tahun ini, tercatat 25 mahasiswa non-Muslim, dan rata-rata jumlahnya berkisar antara 30 hingga 40 orang per tahun, termasuk pemeluk agama Hindu, Katolik, dan Kristen.

“Mereka memilih UMY bukan karena alasan agama, melainkan kualitas pendidikan yang ditawarkan.” tambahnya

Perguruan Tinggi Swasta Hadapi Tantangan Berat

Secara keseluruhan, setiap tahun UMY menerima sekitar 5.000 mahasiswa baru, termasuk dari program pascasarjana.

Menurut Achmad Nurmandi, tantangan terbesar perguruan tinggi swasta (PTS) saat ini bukan lagi bersaing dengan sesama PTS, melainkan dengan perguruan tinggi negeri (PTN), terutama yang berstatus PTN Badan Hukum (PTN-BH).

Persaingan ini tidak hanya menyangkut reputasi akademik, tetapi juga persepsi publik terhadap kualitas dan biaya pendidikan. Masyarakat masih sering menganggap bahwa PTN lebih baik dan lebih murah dibandingkan PTS.

Padahal, kenyataannya banyak PTN-BH yang justru memiliki biaya pendidikan lebih tinggi dibanding PTS berkualitas.

UMY berusaha mengubah persepsi tersebut dengan menunjukkan bahwa mutu akademik, fasilitas, dan jejaring internasional yang dimilikinya mampu bersaing dengan PTN. Secara kualitas, UMY siap bersaing dengan PTN-BH mana pun di Indonesia. 

Achmad Nurmandi juga menyebutkan bahwa saat ini sekitar 50 persen mahasiswa PTN-BH masuk melalui jalur mandiri dengan standar seleksi yang berbeda dari penerimaan nasional. Kondisi ini menunjukkan bahwa dunia pendidikan tinggi semakin kompetitif.

Namun, situasi ini juga menjadi tantangan berat bagi PTS. Hingga kini, sudah ada 12 PTS di Yogyakarta yang terpaksa tutup karena tidak mampu bersaing, dan pada tahun 2025 diperkirakan ada dua PTS lagi yang tidak memperoleh mahasiswa baru.

“Itu tantangan dalam mengelola PTS saat ini. Namun, harus terus membangun sarana, prasarana, dan hal-hal pendukung lainnya,” tambahnya.

Tonton Video Selengkapnya

Artikel Terkait