Sempat menjabat sebagai Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Madura dari tahun 2004 hingga 2015. Mengajar di SD pada pagi hari dan aktif sebagai tenaga akademik di sore hari.
Karirnya berlanjut ketika dipindahkan ke Kementerian Agama, menjadi tenaga kependidikan, dan aktif di STAIN Pamekasan, yang merupakan cikal bakal Fakultas Tarbiyah dan Program Studi Pendidikan Agama Islam filial Universitas Sunan Ampel.
STAIN tersebut kemudian berkembang menjadi IAIN. “Setelah menyelesaikan studi doktor di UPI, saya beralih dari tenaga struktural menjadi tenaga fungsional dosen pada 2011,” katanya.
Dari STAIN Pamekasan
UIN Madura berawal sebagai Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan, yang merupakan cikal bakal Fakultas Tarbiyah dan Program Studi. Pendidikan Agama Islam dari IAIN Sunan Ampel Surabaya.
“STAIN itu dilahirkan dari aturan pemerintah yang melarang adanya filial, sehingga dibuatlah STAIN Pamekasan,” jelasnya.
Perubahan besar terjadi ketika STAIN Pamekasan berupaya menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura pada 2017. Pada 2022, Saiful Hadi diangkat sebagai rektor kedua sekaligus terakhir IAIN Madura sebelum perguruan tinggi ini kembali berubah status.
Pada September 2022, timnya mulai menyusun proposal perubahan status institusi menjadi UIN. Perjuangan ini mencapai puncaknya pada 8 Mei 2025, ketika pemerintah resmi mengubah status IAIN Madura menjadi Universitas Islam Negeri Madura.
Perubahan tersebut menjadi momen spektakuler yang membawa harapan dan kebanggaan bagi masyarakat. Perjalanan menuju perubahan ini penuh dengan kerja keras dan upaya heroik dalam pengembangan lembaga pendidikan tinggi.
Setelah menjadi universitas, UIN Madura mendapatkan mandat untuk memperluas cakupan disiplin ilmu. Sebelumnya fokus pada pendidikan agama dan sosial humaniora,
kini UIN Madura dapat menyelenggarakan program ilmu eksakta seperti ilmu komputer dan ilmu kesehatan. Konsep keilmuan UIN Madura ke depan adalah interdisipliner, menggabungkan studi Islam, sosial humaniora, dan ilmu eksakta.
Tanean Lanjeng
Mengenai pembukaan program studi baru, Saiful Hadi menyampaikan bahwa telah disiapkan konsep matang yang mengangkat filosofi “tanean lanjeng” sebagai dasar pengembangan ilmu pengetahuan Islam yang khas Madura.
Filosofi ini, dengan laut di depan dan daratan di belakang, menggambarkan potensi ekosistem maritim dan potensi lokal yang kami jadikan embrio program studi inovatif,” ujarnya.
Contohnya, pengembangan ilmu terkait obat herbal khas Madura dan teknologi tepat guna untuk mendukung ketahanan pangan. Prodi baru yang diusulkan saat ini sedang dalam tahap pengajuan dan proses.
Dua program studi utama yang diprioritaskan sebagai embrio Fakultas Sains dan Teknologi adalah Teknik Informatika, Sistem Informasi, dan Data Sains. Untuk program studi lainnya seperti obat herbal dan ilmu kesehatan lingkungan, UIN Madura tengah mempersiapkan SDM serta infrastruktur agar segera dapat berjalan.
“Kami masih berjuang agar prodi-prodi ini bisa mendapatkan izin tahun ini sehingga tahun depan sudah dapat menerima mahasiswa baru,” katanya.
Saat ini, UIN Madura tetap fokus pada disiplin ilmu Islam, ilmu sosial, dan humaniora sesuai dengan mandat awal yang diterima. “Kami memiliki empat fakultas dan satu program pascasarjana,” ujarnya.
Keempat fakultas tersebut adalah Fakultas Tarbiyah, Fakultas Ekonomi Bisnis Islam, Fakultas Syariah, dan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah. Total ada 29 program studi aktif yang semuanya masih dalam bidang studi Islam dan sosial humaniora. Jumlah mahasiswa aktif UIN Madura mencapai sekitar 8.000 orang.
“Ini merupakan lingkup mahasiswa dari proses penerimaan setiap tahun hingga alumninya lulus,” tambahnya.
Mengenai rencana penerimaan mahasiswa baru, tahun ini masih menggunakan program studi lama sesuai dengan status IAIN Madura sebelumnya. Namun secara institusi, telah disiapkan dan diajukan program studi baru berbasis sains dan teknologi, termasuk Teknik Informatika, Sistem Informasi, dan Data Sains.
“Kami optimis bahwa pada tahun 2026, program-program studi tersebut sudah bisa membuka pendaftaran mahasiswa baru,” jelasnya. Dukungan pemerintah juga disebut sangat penting dalam proses transformasi ini, terutama dalam memperkuat akreditasi dan menyediakan sumber daya manusia yang berkualitas.
Capaian Unggulan
Proses perubahan status IAIN menjadi universitas adalah perjalanan panjang yang melibatkan berbagai tahapan dan persyaratan administrasi di kementerian seperti Kemenpan RB, Kemenkumham, Kementerian Sekretariat Negara, dan Kementerian Keuangan.
Selain aspek akademik, aspek non-akademik juga sangat penting dalam proses ini. Salah satu persyaratan utama adalah memiliki minimal empat guru besar.
Awalnya, hanya ada satu guru besar, tetapi berkat usaha dan komitmen yang kuat, pada tahun 2023 berhasil menambah enam guru besar dan hingga tahun 2024 bertambah menjadi 14 guru besar.
Ia juga menyebutkan beberapa capaian unggulan UIN Madura sebagai modal kuat dalam perubahan status ini. Pertama, jumlah mahasiswa telah mencapai 8.000 orang, jauh melampaui syarat awal yang hanya 4.000.
Kedua, dari segi akreditasi program studi, kini UIN Madura telah memiliki akreditasi untuk 14 program studi unggulan, meskipun awalnya hanya diwajibkan dua program studi terakreditasi. Dalam publikasi ilmiah, institusi ini juga menunjukkan prestasi dengan memiliki dua jurnal yang terindeks Scopus.
“Jurnal Karsa, yang fokus pada studi Islam dan sosial kebudayaan, baru saja berhasil terindeks Scopus tahun ini. Ini adalah pencapaian luar biasa yang merupakan hasil dari konsistensi dan dedikasi kami,” ujarnya.
Hampir Gagal Jadi UIN Karena Lahan Kurang
Persyaratan sarana prasarana juga menjadi tantangan besar. Salah satu persyaratan Menteri Agama adalah memiliki lahan kampus seluas minimal 10 hektar. Pada tahun 2022-2023, UIN Madura hanya memiliki sekitar 5,1 hektar
Dengan kebijakan internal yang berani, termasuk pengalokasian sebagian PNBP untuk membeli tambahan lahan seluas 3,4 hektar, serta dukungan Pemkab Pamekasan melalui kebijakan tukar guling aset yang menambah 7,4 hektar, persyaratan ini akhirnya terpenuhi.
“Biasanya proses pengurusan sertifikat tanah memakan waktu 2-3 tahun, tapi alhamdulillah dengan komunikasi intens dan semangat juang, kami bisa menyelesaikannya hanya dalam dua minggu,” ungkapnya.
Perubahan status menjadi universitas bukan hanya soal mengganti label, melainkan juga meningkatkan kualitas akademik, sarana prasarana, dan publikasi ilmiah sebagai dasar pengembangan lembaga yang kompetitif.
“Ini adalah perjalanan panjang penuh perjuangan yang didukung oleh kolaborasi semua pihak,” katanya.
Mahasiswa UIN Madura tidak hanya berasal dari wilayah Madura, tetapi juga dari berbagai daerah di Jawa Timur. Selama ini banyak mahasiswa dari luar Madura, sebagian besar adalah orang Madura yang tinggal di Kalimantan, Situbondo, Bondowoso, dan Jember, yang juga banyak mondok di pesantren.
Pesantren dianggap sebagai salah satu keunggulan Madura yang memberikan kontribusi besar terhadap dinamika masyarakat, sehingga mendorong para alumni pesantren untuk kuliah di UIN Madura.
Selain itu, banyak mahasiswa dari daerah sekitar Jawa Timur seperti Gresik, Lamongan, Malang, dan Sidoarjo, meskipun bukan asli Madura, memilih menuntut ilmu di kampus ini.
Alumni UIN Madura juga banyak yang sukses, meskipun universitas ini baru saja mendapatkan status UIN. Mereka tersebar di berbagai sektor, mulai dari dunia politik, pemerintahan, hingga wirausaha.
Banyak alumni yang kini menjadi anggota DPR, baik di tingkat daerah seperti DPRD Pamekasan maupun tingkat pusat di DPR RI. Ada alumni yang menjadi wakil bupati Pamekasan,
banyak juga yang menjadi kepala OPD dan pejabat di berbagai satuan kerja di kabupaten maupun provinsi Jawa Timur. Selain itu, sejumlah alumni aktif berkarir sebagai pegawai negeri sipil (PNS) dan pelaku usaha yang sukses.
Simpul Kampus
Dengan status barunya sebagai universitas, UIN Madura harus mempersiapkan dan menjalankan program-program yang kuat untuk benar-benar menjadi institusi yang berdampak besar bagi masyarakat.
“Yang utama adalah bagaimana kita bisa memberikan kontribusi lebih kuat sehingga kampus menjadi perguruan tinggi yang berdampak,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa harapan utama adalah agar program studi dan fakultas yang ada maupun yang akan dibentuk bisa menjadi instrumen signifikan dalam pembangunan masyarakat.
Salah satu fokusnya adalah mengintegrasikan program dan penelitian dengan pemerintah, khususnya di bidang ekosistem maritim. Sebagai contoh, ia menyebut potensi kawasan Arung Madura, dari Kamal hingga kepulauan dan pantai-pantai di sisi selatan, yang berpotensi menjadi kawasan ekonomi khusus dan pusat UKM.
Kolaborasi antar perguruan tinggi di Madura, seperti Universitas Trunojoyo, Politeknik Negeri Madura (Poltera), UIN Madura, dan Universitas Wiraraja, menjadi penting untuk bersinergi membangun masyarakat yang lebih cerdas dan adaptif terhadap kemajuan teknologi informasi.
Ia optimis bahwa dengan kampus sebagai pusat penelitian dan pengabdian masyarakat, dampak positif yang kuat terhadap kesejahteraan masyarakat dapat tercapai.














