Dalam pengarahan tersebut, Presiden menyoroti kondisi bangsa, terutama pengelolaan kekayaan alam yang dinilai belum optimal.
Salah satu masalah yang diangkat adalah penerimaan negara yang masih rendah akibat praktik under-invoicing dalam ekspor.
Presiden menekankan bahwa jika pengelolaan sumber daya alam dilakukan secara benar dan efisien, hal itu akan sangat membantu percepatan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Prof. Junaidi menjelaskan bahwa curahan hati Presiden kepada dunia pendidikan tinggi bukan tanpa alasan. Presiden merasa para guru besar itu adalah ujung tombak dalam rangka peningkatan inovasi.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam memberikan gagasan, pemikiran, dan
solusi atas persoalan bangsa.
“Pesan Presiden adalah ajakan untuk menjadikan riset sebagai instrumen strategis dalam pembangunan bangsa. Perguruan tinggi dituntut tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi
juga inovasi yang bisa dipatenkan, dikomersialisasi, dan berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Riset Benalu Teh
Bagi Prof. Junaidi, riset di perguruan tinggi tidak boleh berhenti pada tataran akademik semata. Ia menekankan pentingnya konsep riset berdampak, yakni penelitian yang tidak hanya menambah khazanah ilmu pengetahuan, tetapi juga memberi kontribusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Konsep ini diwujudkan melalui hilirisasi riset, yaitu mendorong hasil penelitian agar bisa diterapkan langsung di lapangan dan dikembangkan bersama dunia industri.
Menurutnya, perguruan tinggi harus berkolaborasi dengan sektor usaha agar temuan akademik tidak berhenti di laboratorium, melainkan masuk ke tahap produksi massal.
Dengan cara ini, riset menjadi instrumen strategis untuk menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus
memperkuat kemandirian kampus.
Salah satu contoh konkret adalah penelitian yang dilakukan oleh dosen Fakultas MIPA, Prof. Atirah, mengenai senyawa dari benalu teh untuk obat hipertensi.
Penelitian yang awalnya berupa uji coba laboratorium kemudian dikembangkan hingga tahap uji hewan, menghasilkan paten, dan akhirnya bermitra dengan perusahaan jamu herbal di Batu.
Temuan ini tidak hanya memiliki nilai akademik, tetapi juga potensi ekonomi yang nyata, karena sudah dikomersialisasi dan dipasarkan.
Penelitian di bidang pertanian dan farmasi juga menunjukkan arah serupa. Riset tentang pupuk dan berbagai produk farmasi telah dianalisis dari sisi potensi bisnis, sebagian di antaranya masuk ke
Sentra Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan dikembangkan lebih lanjut oleh Lembaga Pengembangan Kewirausahaan dan Inkubator Bisnis (LPKIB) Unisma.
Dengan sistem ini, setiap penelitian dosen tidak hanya dinilai dari publikasi, tetapi juga dari peluang paten dan potensi bisnis yang bisa menghasilkan income bagi kampus.
“Riset di Unisma tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga diarahkan untuk memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus mendukung kemandirian kampus melalui inovasi yang bernilai ekonomi,” katanya.
Kerja Sama Global
Menurut Prof. Junaidi, Unisma menaruh perhatian besar pada internasionalisasi. Salah satu langkah strategis adalah program join degree dengan St. John’s University, Taiwan.
Mahasiswa teknik Unisma menempuh dua tahun studi di Malang dan dua tahun berikutnya di Taiwan. Setelah lulus, mereka memperoleh gelar ganda, Sarjana Teknik dari Unisma dan Bachelor of Engineering dari St. John’s University.
Kontrak kerja sama bahkan mencakup kesempatan bekerja di Taiwan selama dua tahun dengan gaji setara tenaga kerja terampil.
Unisma menjadi rumah bagi sekitar 350 mahasiswa asing dari berbagai negara, termasuk Timur
Tengah dan Afrika.
Kehadiran mereka memperkuat atmosfer internasional di kampus. Lebih jauh, Unisma baru saja lolos
seleksi sebagai penyelenggara Beasiswa KNB (Kemitraan Negara Berkembang) dari Kementerian
Luar Negeri.
Program ini memungkinkan mahasiswa dari negara-negara berkembang belajar di Indonesia
dengan dukungan penuh pemerintah.
Unisma menegaskan dirinya sebagai kampus Islam yang tidak hanya berakar pada tradisi NU, tetapi juga terbuka pada kolaborasi global.
Hadapi Tantangan
Sebagai perguruan tinggi swasta yang terus berkembang, Unisma menghadapi tantangan besar dalam
menjaga mutu akademik sekaligus memperkuat daya saing.
Tantangan pendanaan tetap menjadi isu utama. Sebagai kampus swasta, Unisma mengandalkan dana
masyarakat, sementara kebutuhan pengembangan institusi sangat tinggi.
Prof. Junaidi menekankan pentingnya meningkatkan kualifikasi dosen. Dosen yang masih bergelar S2 didorong untuk melanjutkan ke S3, sementara yang sudah bergelar doktor diarahkan menuju jabatan guru besar.
Semua itu membutuhkan biaya besar. Karena itu, ia mendorong dosen untuk aktif mencari beasiswa
eksternal seperti LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) atau program beasiswa luar negeri, agar tidak sepenuhnya bergantung pada dana Yayasan.
Menempatkan digitalisasi proses akademik sebagai prioritas strategis. Mulai dari penerimaan
mahasiswa baru hingga proses kelulusan, seluruh sistem diarahkan berbasis teknologi informasi.
Perjalanan Karier
Prof. Drs. H. Junaidi Mistar, M.Pd., Ph.D. menempuh pendidikan di kampung halamannya, SDN Kraton II Yosowilangun (1974–1980), SMP Negeri Yosowilangun (1980–1983), dan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Lumajang hingga lulus pada 1986.
Jalur pendidikannya sejak awal menunjukkan minat kuat pada dunia pendidikan, khususnya bahasa.
Selepas SPG, ia melanjutkan studi ke IKIP Malang (sekarang Universitas Negeri Malang) dan meraih gelar Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris.
Ia kemudian menuntaskan Magister Pendidikan Bahasa Inggris di kampus yang sama. Tidak berhenti di situ, Junaidi sempat menempuh program doktoral di IKIP Malang pada bidang Pendidikan Bahasa
dan Sastra Indonesia, sebelum akhirnya melanjutkan studi ke luar negeri.
Ia meraih gelar Ph.D. dalam Pendidikan Bahasa Inggris dari Monash University, Australia, sebuah pencapaian yang menegaskan reputasinya sebagai akademisi dengan wawasan internasional.
Karier akademiknya di Unisma Malang berkembang secara bertahap. Ia pernah menjabat sebagai Sekretaris Jurusan, kemudian Ketua Jurusan, Asisten Direktur, dan Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kerja Sama selama dua periode (2014–2024).
Dari pengalaman panjang itu, ia akhirnya dipercaya menjadi Rektor Universitas Islam Malang periode 2024–2028, menggantikan Prof. Maskuri.
Visi Prof. Junaidi menjadikan Unisma sebagai universitas unggul, bertaraf internasional, dan
berlandaskan Islam ahlussunnah wal jamaah.
Dengan strategi riset berdampak, kerja sama internasional, pembentukan karakter mahasiswa, serta
digitalisasi proses akademik. Ia berharap Unisma tidak hanya menjadi kebanggaan NU, tetapi
juga memberi kontribusi nyata bagi bangsa Indonesia.














