Saya beruntung karena selain lulusan S1 di Hubungan Internasional Undip Semarang, juga pernah mengikuti program Kampus Mengajar Fellow pada tahun 2022,
magang di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia pada tahun 2023, hingga bekerja sebagai Quality Assurance Officer sekaligus presenter di Majalah Indonesia Online dan kanal YouTube Inspirasi untuk Bangsa selama periode 2024–2025.
Program magister di Inggris umumnya ditempuh dalam waktu satu tahun, satu semester berlangsung sepanjang tiga hingga empat bulan dengan lima mata kuliah pada semster pertama Beban akademiknya padat, ditambah satu mata kuliah lintas semester dan persiapan disertasi.
Metode pembelajaran di sana sangat mengedepankan kemandirian. Mahasiswa diwajibkan membaca jurnal dan menonton materi sebelum kelas dimulai.
Ketika berada di ruang kuliah, dosen tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga membuka ruang diskusi dan memperdalam topik pembahasan.
Tutorial bersama asisten dosen menjadi elemen penting dalam proses belajar. Standar kelulusan cukup jelas. Nilai di atas 50 dinyatakan lulus, di atas 60 memperoleh merit, dan nilai di atas 70 berhak mendapatkan distinction.
Kasus mengulang mata kuliah jarang terjadi kecuali bila nilainya jauh di bawah standar. Pembelajaran di sana menuntut mahasiswa untuk berpikir kritis dan mandiri. Tanpa kedisiplinan, maka akan tertinggal
***
Keinginan melanjutkan studi ke luar negeri sudah muncul sejak awal kuliah di Undip, khususnya setelah mengikuti program sukarelawan internasional di Ceko bersama Association Internationale des Étudiants en Sciences Économiques et Commerciales (AIESEC) pada tahun 2020.
Pengalaman interaksi dengan mahasiswa dari berbagai negara membuka perspektif baru tentang pendidikan global.
Awalnya, tertarik melanjutkan studi ke Jepang atau Tiongkok.
Namun setelah mempertimbangkan faktor bahasa, bidang studi, dan peluang karier, saya memutuskan untuk memilih negara berbahasa Inggris seperti Australia, Singapura, atau Inggris sebagai prioritas.
Upaya pertama mendaftarkan diri pada program beasiswa LPDP tahun 2024 belum berhasil. Saat itu sempat mengincar Australia sebagai tujuan utama.
Kegagalan tersebut menjadi momen refleksi untuk menata ulang langkah, menyesuaikan rencana dengan tujuan yang lebih tepat hingga akhirnya memutuskan memilih Manchester sebagai destinasi studi.
Beasiswa LPDP menjadi jalan menuju kampus impian—skema pembiayaan ini mencakup biaya kuliah, tiket perjalanan, asuransi, hingga dana tunjangan hidup sehingga membantu mahasiswa fokus pada pembelajaran.
Kesuksesan mendapatkan beasiswa tidak hanya bergantung pada aspek finansial, tetapi juga ditentukan oleh kekuatan esai pribadi, visi kontribusi untuk Indonesia, serta konsistensi dalam mencapai tujuan. Setelah menyelesaikan program nantinya ada dua jalur karier yang mungkin diambil:
Pertama, membangun karier di tingkat internasional pada sektor pengembangan digital;
atau kedua, kembali ke Indonesia dan memanfaatkan pengetahuan yang telah dimiliki untuk kemajuan dalam negeri.
Bidang pengembangan digital diprediksi memiliki potensi bertumbuh pesat seiring dengan akselerasi transformasi digital secara global.
***
Sejak masa kuliah S1, saya mulai mencatat berbagai hal yang perlu dipersiapkan jika suatu saat ingin mendaftar beasiswa LPDP. Dari catatan tersebut, saya menyadari bahwa persiapan untuk studi lanjut bukanlah hal yang bisa dilakukan secara mendadak.
Ada berbagai persyaratan yang harus dipenuhi, seperti kemampuan bahasa dengan standar International English Language Testing System (IELTS), riset universitas tujuan, pengumpulan dokumen administratif, hingga menyusun strategi dalam memilih program studi.
Saya menghabiskan berjam-jam di depan laptop untuk menelusuri situs-situs universitas, membaca kurikulum, membandingkan jurusan yang tersedia, dan mempertimbangkan apakah saya ingin tetap melanjutkan jalur linier di bidang Hubungan Internasional atau mencoba menjelajahi bidang lain.
Proses ini memakan waktu lama dan penuh dengan tahapan seleksi. Ada kampus yang akhirnya saya coret dari daftar, ada pula negara yang sempat saya pikirkan ulang.
Pada akhirnya, ternyata jaringan menjadi hal yang paling membantu. Informasi di internet saja tidak cukup. Saya mulai mencari orang-orang yang pernah menjalani studi S2 di luar negeri dan bertanya langsung kepada mereka tentang pengalaman akademik dan kehidupan sehari-hari. Dari percakapan-percakapan itulah, pilihan saya semakin mengerucut dan lebih terarah.
Sebagai tambahan, juga ada opsi menggunakan jasa organisasi pendamping untuk persiapan studi S2. Meski berbayar, jasa ini sangat membantu dalam memetakan dokumen yang diperlukan dan merancang strategi yang sesuai.
Untuk urusan tes bahasa Inggris, saya memutuskan mengambil IELTS. Alasan utamanya sederhana, karena sebagian besar universitas tujuan menjadikan IELTS sebagai salah satu syarat utama.
Saya pun tidak mengambil kursus yang terlalu panjang, melainkan memilih kursus intensif selama satu minggu dengan durasi tiga jam per hari, total 15 jam pelatihan. Kursus ini tidak bertujuan belajar dari awal, melainkan membantu saya terbiasa dengan pola soal tes.
Dengan kemampuan bahasa Inggris yang sudah cukup baik sebelumnya, fokus saya adalah pada strategi menghadapi tes, memahami struktur writing, mengenali pola pertanyaan reading, serta teknik menjawab listening dan speaking secara efektif.
**
LPDP adalah dunia tersendiri. Ada pola, ekspektasi, dan standar yang harus dipahami. Tidak cukup hanya pintar atau punya LoA (Letter of Acceptance). Selama kurang lebih tiga bulan, benar-benar fokus.
Dokumen disusun, narasi dirapikan, refleksi diri ditulis dengan hati-hati. Pengalaman pernah gagal pada percobaan pertama tahun 2024 saat mendaftar ke Australia, memberi banyak pelajaran.
Dari pengalaman wawancara pertamanya, mulai memahami apa yang sebenarnya dicari, yaitu kejelasan visi, konsistensi rencana, dan kontribusi nyata
setelah studi. Dari sinilah saya memperbaiki esai di pendaftaran berikutnya.
Esai LPDP bukan sekadar cerita motivasi. Isinya mencakup latar belakang bidang yang dipilih, rencana selama studi, serta rencana setelah lulus, disusun dari langkah kecil hingga gambaran besar kontribusi bagi Indonesia.
LoA menjadi kunci penting lainnya. Surat penerimaan dari universitas ini diunggah sebagai bukti keseriusan dan kesiapan kandidat. Mencari LoA pun bukan hal mudah. Ada proses aplikasi terpisah, syarat dokumen, hingga komunikasi dengan pihak kampus.
Pendaftar yang ingin kuliah ke luar negeri sebaiknya menulis esai LPDP dalam bahasa Inggris. Meski diperbolehkan menggunakan bahasa Indonesia, esai
berbahasa Inggris menunjukkan kesiapan akademik sekaligus konsistensi tujuan studi.
**
LPDP bukan sekadar seleksi administratif, tetapi seleksi visi. Setiap jawaban harus selaras, antara latar belakang, pilihan kampus, rencana studi, hingga kontribusi setelah lulus. Tidak boleh terkesan lompatlompat atau sekadar mengikuti tren.
Fasilitas yang diberikan LPDP, luar biasa. Biaya kuliah dibayarkan penuh. Tiket pesawat ditanggung. Ada dana awal setibanya di negara tujuan untuk membantu mencari tempat tinggal. Asuransi kesehatan juga termasuk dalam pembiayaan. Living allowance diberikan rutin, biasanya per tiga bulan.
Memang dari segi jumlahnya bukan untuk hidup mewah. Lebih tepat disebut cukup atau pas untuk memenuhi kebutuhan dasar. Tidak ada biaya transportasi khusus, sehingga mahasiswa harus pintar memilih tempat tinggal yang dekat kampus atau mengatur anggaran sendiri.
**
Bagi saya, melanjutkan studi ke jenjang S2 bukan semata soal menambah gelar. Sebaliknya, pendidikan adalah alat untuk mengejar tujuan yang lebih besar.
Kuliah hanyalah bagian dari proses, sementara hal terpenting adalah apa yang ingin dicapai setelah menyelesaikannya. Pilihan program Digital Development pun bukan keputusan mendadak.
Saya memiliki keinginan mendalam untuk memahami cara membangun komunitas agar lebih terkoneksi, tidak hanya dari sisi teknis tapi juga secara sosial.
Konektivitas bukan hanya tentang pemasangan kabel atau pembangunan menara sinyal. Ada elemen sosial yang tak kalah penting, seperti kesiapan budaya, kesadaran keluarga, dan penerimaan psikologis masyarakat terhadap teknologi.
Jika elemen-elemen sosial ini diabaikan, maka pembangunan digital hanya akan menghasilkan proyek infrastruktur yang kosong makna. Di samping itu, saya juga ingin mempelajari detail teknisnya, seperti bagaimana jaringan dibangun, cara menghubungkan infrastruktur, hingga mekanisme kerja sistem dari hulu ke hilir.
Semua ini menjadi bekal untuk satu impian besar, yaitu berkontribusi signifikan di industri digital Indonesia. Diskusi di kelas membuka wawasan baru tentang konsep pembangunan, inklusi digital, hingga dampak teknologi bagi masyarakat rentan.
Saya semakin yakin bahwa digitalisasi bukan sekadar soal transformasi teknologi, tetapi juga transformasi manusia. Di tempat saya kuliah, banyak sekali dosen yang ahli di bidang digital development.
Jika materi di ruang kelas terasa kurang, kesempatan untuk berkonsultasi terbuka lebar, bahkan memungkinkan untuk terlibat dalam penelitian lapangan.
Bagi saya, kuliah bukan sekadar mendapatkan ijazah tetapi benar-benar mendalami praktik nyata yang relevan. Keputusan memilih University of Manchester diambil dengan pertimbangan matang. Salah satu alasan kuat adalah keberadaan Profesor Richard Heeks, pionir dalam bidang digital development.
Ia bukan hanya seorang akademisi tetapi juga praktisi yang aktif dalam pengembangan konektivitas di wilayah yang terpencil, Banyak teori dan kerangka kerja di bidang ini lahir dari pemikirannya, termasuk ppembangunan di pegunungan Peru.
**
Manchester menawarkan peluang tak terbatas. Perusahaan-perusahaan besar secara rutin membuka stan di depan kampus, memberikan informasi karier dan rekrutmen. Situasi ini terasa berbeda dibandingkan Indonesia, di mana biasanya mahasiswa yang harus mencari perusahaan.
Di sini justru perusahaan yang datang mendekati mahasiswa secara aktif. Universitas juga memiliki layanan employability dan career support yang sangat lengkap, dari konsultasi personal hingga bantuan menyusun CV serta akses ke jaringan profesional.
Ada kemungkinan untuk berkarier di Inggris jika peluangnya mendukung. Namun di sisi lain, saya tetap punya minat besar pada isu pembangunan di Indonesia.
Jika kembali ke tanah air, saya bercita-cita berkontribusi melalui sektor organisasi non-pemerintah (NGO), mungkin dengan posisi strategis seperti project management.
Pekerjaan ini memungkinkan saya berada di pusat pengambilan keputusan—merancang dan mengelola program yang memberi dampak nyata pada masyarakat.
Kuliah di luar negeri memberikan dua manfaat utama: jaringan global yang luas dan perspektif baru mengenai kenyataan dunia kerja. Idealnya memang tidak selalu sejalan dengan realitas.
Dari sisi penghasilan, bekerja di Inggris atau negara lain jelas lebih menjanjikan. Perusahaan-perusahaan besar seperti PwC, Deloitte, hingga JP Morgan secara langsung membuka peluang karier besar lewat rekrutmen kampus mereka.
Walau lini pekerjaan tersebut tidak sepenuhnya beririsan dengan bidang digital development, kesempatan ini tetap sulit untuk dilewatkan begitu saja.
Ketika peluang besar berdiri tepat di depan mata, wajar jika muncul pertimbangan ulang. Jika ada tawaran yang masuk akal, mengapa tidak dipertimbangkan ?
Di sisi lain pilihan karier bukan sekadar soal angka di slip gaji. Ada nilai, ada visi jangka panjang, ada peran sosial yang harus dipertimbangkan.
**














