Akhirnya, BS yang pernah menjadi kolega Pak Hafidh saat sama-sama menjadi anggota DPD RI, sampai ke Yogyakarta untuk menyaksikan kemasyhuran jaringan sekolah dari pra PAUD, sampai SMA yang jumlahnya sudah menjadi 19. Gedung-gedungnya gagah bertingkat, bekerja sama dengan kampus dunia ternama, dan guru-gurunya juga ada yang asli beberapa negara.
“Apa resepnya Pak, membangun lembaga yang besar, modern, sehat finansial, dan sarat idealisme,” tanya BS.
Ternyata antara mimpi untuk membangun pendidikan yang berkualitas berbasis budaya pesantren, bertaraf internasional, sudah dimulai sejak masa kecil pak Hafidh di Jepara. Sejak anak-anak selain sekolah dan mengaji, juga sudah diajari berbisnis oleh orang tuanya.
“Inilah manajemen lembaga pendidikan dari seorang bakul,” katanya.
Hafidh Asrom saat ini mengurangi kegiatan bisnisnya yang berbasis perdagangan furniture, meninggalkan aktivitas politik, dan fokus sebagai ketua yayasan dan ketua BPBH Al Azhar Yogyakarta.
Di Yogyakarta BS juga ketemu dengan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL Dikti) 5 DIY, Prof, Setyobudi Indartono, MM, Ph.D. Ada cerita tentang kondisi perguruan tinggi swasta (PTS) yang tidak baik-baik saja. Jumlah mahasiswa baru atau mahasiswa secara total menurun. Tiga tahun terakhir ini sangat terasa, berkurang sampai 20 persen. Kalau tidak ada solusi untuk menahannya bisa diperkirakan setiap tahun akan berkurang 10 persen.
Penyebabnya banyak hal, gejala menurun sejak pandemi covid, sehingga ada indikasi antara lain karena kemampuan ekonomi masyarakat juga menurun. Faktor lain karena semakin banyaknya perguruan tinggi negeri, khususnya yang PTNBH menerima mahasiswa baru yang jauh lebih banyak. Bisa karena tembahnyanya program studi, juga bisa karena banyaknya kelas di luar kampus utama. Ditambah lagi perguruan tinggi kedinasan yang menawarkan beasiswa dna jaminan pekerjaan setelah lulus.
Walaupun masih ada kelebihan Yogyakarta yang dipersepsikan sebagai kota pendidikan, yang nyaman dan murah. Banyak orang tua yang lebih tenang, kalau putra-putrinya kuliah di Jogja. Bahkan ada yang sudah mengirim anak-anaknya sejak SMA ke Yogya.
***
Ada berita baik dari Semarang. Universitas Semarang (USM), yang didirikan oleh Ikatan Alumni Universitas Diponegoro (Undip) mencapai akreditasi unggul. Menurut Rektor USM, Dr. Supari, ST,MT, perguruan tinggi yang dipimpinnya sudah bisa meyakinkan kualitas akademiknya cukup terpercaya. Hanya sekitar 150 perguruan tinggi negeri maupun swasta dari lebih dari 4.000 institusi yang mencapai akreditasi unggul.
Awalnya USM lebih berkonsentrasi agar bisa menampung lebih banyak anak muda yang ingin belajar di perguruan tinggi. Saat itu dikenal sebagai Universitas SangatMurah, yang penting banyak yang bisa kuliah. Kemudian dikembangkan menjadi perguruan tinggi yang lengkap fasilitas mempunyai lapangan bulutangkis taraf internasional, juga kolam renang sendiri. Ada gedung parkir 8 lantai. Maka kemudian disebut USM (Universitas Sangat Mewah).
Sekarang lengkap, mahasiswa lebih dari 15 ribu, fasilitas memadai, akademisnya teruji. Jadilah USM (Universitas Sangat Maju).














