‘Thriving on Turbulence’ Transformasi Agilitas

Share

Dengan kemajuan teknologi yang pesat dan perkembangan dunia bisnis yang cepat, diperlukan kemampuan adaptasi untuk menjaga daya saing.

Judul Buku : Thriving on Turbulence

Penulis : Dr. Faizal Rochmad Djoemadi, M. Sc.

Penerbit : Inventure (PT Invensi Masa Depan)

Tahun Terbit : 2024

Jumlah Halaman : xxii + 406 Halaman

Buku *Thriving on Turbulence* menggambarkan bagaimana Pos Indonesia berhasil melakukan transformasi bisnis dengan merapkan agilitas dan digitalisasi di tengah krisis, turbulensi, dan disrupsi, sekaligus mengubah tantangan menjadi peluang lewat kepemimpinan dan strategi adaptif.

Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman Faizal, yang sejak 2020 menjabat sebagai Dirut Pos Indonesia dan menghadapi “double crisis” akibat pandemi Covid-19 serta dilema internal perusahaan yang memicu masalah finansial, penurunan kinerja, hingga gangguan operasional.

Dalam buku ini, Faizal memaparkan sejumlah gagasan untuk menghadapi krisis, termasuk konsep *agile leadership*. Menurutnya, kepemimpinan di masa turbulensi tak bisa lagi bertumpu pada pola pikir lama yang kaku dan penuh formalitas.

Pemimpin harus gesit, berani bereksperimen, dan mampu mengambil keputusan meski informasi belum lengkap, dengan fokus pada ketepatan respons dan keberanian eksekusi.

Faizal membagi proses transformasi ke dalam lima aspek agility: *Agile Leadership*, *Agile Culture*, *Agile Digitalization*, *Agile Inno-Collab*, dan *Agile Execution*, lengkap dengan contoh nyata di lapangan agar konsepnya relevan dan aplikatif.

Ia menjabarkan langkah membangun organisasi adaptif, mempercepat digitalisasi proses bisnis, mendorong inovasi lewat kolaborasi lintas unit internal maupun eksternal, serta menegakkan disiplin eksekusi yang konsisten.

Salah satu hal penting yang ia tekankan adalah membangun *sense of crisis* di semua level organisasi, karena kesadaran kolektif akan kondisi kritis menjadi kunci agar perubahan bisa berjalan efektif.

Transformasi Praktis
Buku *Thriving on Turbulence* menegaskan bahwa transformasi sejati lahir dari tindakan nyata. Faizal menunjukkan pentingnya mengambil keputusan meski informasinya terbatas, karena keberanian dan kecepatan menjadi kunci ketahanan organisasi.

Ketangguhan dibangun lewat proses mencoba dan menyesuaikan langkah secara berkelanjutan. Transformasi digambarkan sebagai perjalanan penuh eksperimen dan perbaikan, di mana hambatan menjadi bahan refleksi untuk memperbaiki cara kerja, sehingga perubahan mengalir dari pimpinan hingga seluruh unit.

Faizal menekankan bahwa perubahan besar merupakan hasil akumulasi keputusan kecil yang dijalankan konsisten. Ia juga melihat krisis sebagai peluang memperkuat kapasitas adaptif, menjadikannya momentum untuk mengevaluasi pola lama dan membangun sistem yang lebih tangkas.

Dengan respons berani, krisis bisa menjadi titik awal perubahan mendasar. Berdasarkan pengalaman di Pos Indonesia, Faizal menegaskan bahwa transformasi membutuhkan keseimbangan antara intuisi, analisis, dan ketegasan, serta harus dijalankan disiplin meski penuh ketidakpastian.

Transformasi yang berhasil adalah yang hidup dan terus bergerak mengikuti dinamika organisasi.

Eksekusi Disiplin
Disiplin dalam eksekusi menjadi kunci sukses transformasi. Faizal menegaskan bahwa organisasi perlu memastikan indikator operasional berjalan tepat, SOP dipatuhi, dan proses diawasi secara konsisten.

Disiplin dilihat sebagai fondasi integritas, bukan sekadar kewajiban administratif. Ia juga menyoroti bahwa disiplin makin kuat dengan dukungan digitalisasi. Proses internal yang dulu lambat dan birokratis kini menjadi lebih cepat dan terukur.

Digitalisasi layanan eksternal pun memperbaiki pengalaman pelanggan sekaligus meminimalkan kesalahan manual. Disiplin dan digitalisasi saling melengkapi: teknologi memudahkan penerapan tata kelola yang rapi, sementara disiplin memastikan teknologi digunakan dengan benar dan berkelanjutan.

Sinergi ini menciptakan pola kerja yang stabil, efisien, dan adaptif. Menurut Faizal, transformasi hanya berhasil jika manusia dan sistem bergerak selaras.

Organisasi yang konsisten mengeksekusi akan lebih mampu menjaga ritme perubahan, mempertahankan kualitas layanan, dan menghadapi turbulensi dengan percaya diri.

Kolaborasi Kepemimpinan
Buku ini menekankan kolaborasi sebagai kekuatan penting untuk mempercepat transformasi. Organisasi tidak bisa berkembang sendirian, sehingga membutuhkan sinergi lintas unit, lembaga, dan industri.

Dengan kolaborasi, kapasitas dapat diperluas dan inovasi bergerak lebih cepat tanpa menambah beban besar. Faizal juga menyoroti pentingnya kualitas kepemimpinan di era disrupsi.

Pemimpin harus berani menghadapi situasi sulit, mengambil keputusan cepat, dan memberi teladan konsistensi kerja, demi menjaga stabilitas organisasi di tengah tekanan perubahan.

Kepemimpinan yang efektif mampu menghubungkan orang, membangun koalisi, dan menjaga ritme organisasi agar semua unit bergerak searah. Kolaborasi internal menjadi modal utama untuk menciptakan pergerakan yang harmonis.

Pandangan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan kolaboratif dan adaptif sangat berperan dalam keberhasilan transformasi, membantu organisasi bertahan dan bangkit kembali di masa turbulen, seperti yang dialami Pos Indonesia.

Secara keseluruhan, *Thriving on Turbulence* menjadi referensi penting bagi pemimpin, pengambil kebijakan, akademisi, maupun pembaca umum yang ingin memahami dinamika kepemimpinan di era disrupsi.

Dengan penulisan berbasis pengalaman, buku ini menegaskan bahwa kesuksesan organisasi tidak hanya ditentukan strategi, tetapi juga kemampuan pemimpin membaca, merespons, dan mengelola krisis secara agile dan terukur.

Artikel Terkait

Scroll to Top