Benny Siga Butar Butar, S.S., M.Si - Direktur Utama LKBN Antara

Benny Siga Butar Butar, S.S., M.Si – Bangunkan Raksasa Tertidur di Tengah Krisis Pers Nasional

Share

Benny Siga Butar Butar, S.S., M.Si mengaku tidak pernah membayangkan berkarier sebagai wartawan. Pilihan profesi itu muncul dari pergulatan batin setelah menyelesaikan pendidikan sarjana. Sebagai anak lakilaki pertama, ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk memberi teladan, sementara keterbatasan lapangan kerja saat itu menimbulkan kegelisahan.

Menjelang akhir 1990-an, dalam momen pergantian tahun bersama keluarga, ia menyampaikan permohonan maaf dan doa kepada orang tuanya.

Pada saat itu, ia bernazar untuk menekuni profesi apa pun yang pertama kali memberinya kesempatan bekerja.

Tidak lama kemudian, panggilan kerja datang dari Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara. Ia mengawali karier sebagai wartawan Antara pada 1993, hingga menjabat Kepala Biro Antara di Tokyo pada 2006–2009.

Meski di kemudian hari sempat berkarier di luar dunia jurnalistik dan berkiprah di Citilink,
Garuda Indonesia, Perum Bulog, hingga menjabat Deputi I di Badan Komunikasi Pemerintah, akar
profesinya sebagai wartawan tetap membentuk fondasi identitasnya.

Sempat memaknai peralihanperalihan karier tersebut sebagai penyimpangan dari nazar awalnya.
Namun seiring waktu, ia menyadari bahwa jalan hidup kerap ditentukan oleh kehendak yang lebih besar dari rencana pribadi.

Hal itu tergambar ketika pada 5 Januari 2026 ia menerima Surat Keputusan pengangkatan sebagai Direktur Utama LKBN Antara.

“Profesi wartawan bukan sekadar pekerjaan, melainkan fondasi yang membentuk saya hingga hari ini,” katanya.

Kembalikan Marwah
Bagi Benny, LKBN Antara bukan sekadar tempat memulai karier, melainkan institusi yang membentuk cara pandangnya terhadap profesi wartawan dan peran strategis media.

Ia mengenang periode 1991–1993 sebagai masa ketika kantor berita memiliki posisi dominan dalam ekosistem pers nasional.

Pada saat itu, Antara menjadi rujukan utama pemberitaan, penentu arah informasi, sekaligus simbol prestise profesi jurnalistik.

Bekerja sebagai wartawan kantor berita menuntut standar yang tinggi. Wartawan LKBN Antara dituntut memiliki kemampuan kuat, jaringan luas, ketangguhan mental, serta wawasan yang mendalam.

Tuntutan tersebut membentuk karakter profesionalnya sejak awal. Ia meyakini wartawan tidak sekadar mengikuti arus, melainkan menjadi penentu tren informasi.

“Saya bermimpi Antara menjadi ekosistem informasi negara yang dibutuhkan, menjadi acuan, identitas, sekaligus penjaga narasi kebijaksanaan bangsa,” katanya.

Peran Strategis
Berbekal pengalamannya sebagai Kepala Perwakilan Antara di Tokyo serta keterlibatannya dalam berbagai liputan internasional, Benny melihat bahwa di banyak negara kantor berita masih memegang peran dominan.

Kekuatan tersebut bertumpu pada jaringan global kantor perwakilan yang mampu membangun konstruksi informasi berskala besar dan berpengaruh.

Dari pengalaman itu tumbuh keyakinan bahwa peluang untuk kembali menegaskan peran strategis masih terbuka.

Ia berharap LKBN Antara kembali menjadi trend setter, setidaknya di tingkat regional. Kebangkitan jaringan perwakilan luar negeri dipandang penting untuk membangun arus informasi tandingan yang merepresentasikan kepentingan bangsa, tidak terlalu bercorak Barat, tidak berorientasi bisnis, dan tetap menjaga identitas nasional.

Tantangan utamanya, meramu keseimbangan Antara kepentingan global, kebutuhan ekonomi, dan jati diri bangsa.

“Kekuatan utamanya terletak pada pengolahan dan analisis data berita yang diterjemahkan menjadi rekomendasi bagi pengambilan keputusan strategis di berbagai sektor,” katanya.

Instrumen Perjuangan
Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), LKBN Antara menempati posisi yang unik dan strategis dalam ekosistem informasi nasional.

Benny menjelaskan, secara kelembagaan Antara berstatus BUMN, namun sebagian besar pembiayaan operasionalnya berasal dari skema Public Service Obligation (PSO) melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

Dalam pertemuan dengan Komdigi, ia menyampaikan visi agar LKBN Antara diposisikan sebagai pembangun ekosistem informasi nasional.

Peran ini melampaui fungsi pemberitaan, mencakup verifikasi informasi di tengah banjir arus berita sekaligus penjagaan narasi kebangsaan.

Dengan mandat tersebut, Antara memikul tanggung jawab sosial yang berkaitan langsung dengan identitas, kohesi, dan arah perjalanan bangsa.

Benny mengaitkan mandat itu dengan sejarah kelahiran LKBN Antara yang dirintis anak-anak muda sebelum Republik Indonesia berdiri. Sejak awal, lembaga ini hadir sebagai instrumen perjuangan untuk membangun dan merawat identitas bangsa.

Nilai historis tersebut perlu kembali menjadi fondasi peran saat ini, termasuk dalam penugasan publik seperti liputan bencana yang membangkitkan modal sosial, harapan, dan optimisme, bukan
sekadar menonjolkan krisis.

“Presiden saat ini adalah sosok yang dapat mengangkat kembali optimisme bangsa, dan Antara hadir membantu menerjemahkan visi negara menjadi narasi publik yang mencerahkan,” jelasnya.

Konsep Pemberitaan
Pers nasional, termasuk LKBNAntara, tidak dapat menghindar dari tekanan besar akibat dominasi
platform media global.

Kehadiran platform tersebut bukan hanya menggerus pengaruh media nasional dalam sistem informasi, tetapi juga mengambil porsi signifikan dalam bisnis media.

Namun dalam situasi itu, ia melihat masih ada peluang dan ruang strategis yang dapat diisi oleh
kantor berita.

Dalam konteks pemberitaan, Benny menyusun konsep PRET, yaitu Progressive, Responsible, Empathic, dan Thinking Journalism sebagai kerangka kerja menghadapi perubahan lanskap
media.

Progressive dimaknai sebagai produksi informasi yang menjelaskan proses, pertumbuhan, perbaikan, dan perkembangan suatu peristiwa.

Informasi tidak berhenti pada fakta sesaat, tetapi memberi gambaran arah perubahan sehingga menghadirkan makna yang mendorong kemajuan dan menumbuhkan harapan, termasuk dalam pemberitaan ekonomi, fluktuasi indeks, dan dinamika pasar.

“Saya tidak sepakat dengan istilah citizen journalism, yang ada citizen reporting yang perlu dikelola menjadi produk jurnalistik berkualitas,” katanya.

Layak Siar, Layak Jual Harus Lebih Lincah

Benny melihat LKBN Antara sebagai institusi pers dengan karakter khas yang berada di persimpangan antara misi publik dan keberlanjutan usaha. Status sebagai BUMN membawa tuntutan kinerja dan kesehatan bisnis, namun keberadaan PSO menegaskan
bahwa ukuran keberhasilan tidak hanya berbasis keuntungan finansial. Tantangan tersebut justru membuka ruang bagi model jurnalisme yang lebih bernilai dan strategis.

Aspek bisnis, menurutnya, tidak berdiri terpisah dari identitas jurnalistik. Nilai ekonomi lahir dari penguasaan informasi, riset mendalam, dan kemampuan membaca konteks global.

Ia mencontohkan pengalamannya pada 2011 saat terlibat dalam strategi komunikasi Bio Farma untuk pasar internasional.

Melalui riset, ia menemukan posisi strategis Indonesia sebagai satu-satunya produsen vaksin dari negara berpenduduk mayoritas Muslim.

Fakta tersebut kemudian dirangkai dalam narasi From Bandung to the World, yang mengaitkan sejarah Konferensi Asia Afrika dengan kepentingan geopolitik dan bisnis global, hingga melahirkan inisiatif bernilai ekonomi signifikan.

Dari pengalaman itu, ia menarik benang merah konsep making news, making money. Jurnalisme
tidak berhenti pada produksi berita yang layak siar, tetapi mampu menghasilkan nilai tambah melalui
pemahaman konteks, analisis, dan strategi narasi.

“Yang saya dorong adalah making news, making money, layak siar, layak jual. Levelnya thinking journalism,” tambahnya.

Raksasa Tertidur
Benny memandang tantangan terbesar LKBN Antara saat ini bukan pada ketiadaan gagasan besar, melainkan pada kesiapan organisasi untuk menurunkan dan mewujudkan gagasan tersebut secara
nyata.

Dari pengamatannya terhadap struktur yang ada, lembaga ini belum sepenuhnya berjalan efektif dan
efisien secara menyeluruh.

Efektivitas yang hanya diukur dari besarnya jumlah produksi berita tidak selalu mencerminkan
kinerja organisasi yang sehat.

Produksi yang melimpah tetapi boros sumber daya tidak sejalan dengan prinsip organisasi modern.
Sebaliknya, efisiensi yang dipahami sempit sebagai penghematan biaya juga berpotensi melemahkan peran substantif sebagai kantor berita.

Efisiensi harus dimaknai lebih luas, mencakup nilai, dampak, dan kualitas informasi. Pola organisasi yang lebih lincah (agile) perlu dibangun tanpa mengorbankan efektivitas.

Pembukaan kembali biro pemberitaan tidak dapat dilakukan secara sporadis, melainkan melalui perencanaan matang serta pemanfaatan jejaring dan kemitraan yang telah dimiliki.

Teknologi digital mempermudah distribusi dan koordinasi, tetapi substansi kerja jurnalistik tetap menjadi kunci.

“Saya melihat kekuatan besar yang belum disadari. Tugas saya membangunkannya dan menjalankannya, dan saya percaya kita bisa,” ungkapnya.

Bangun Big Data
Salah satu kekuatan LKBN Antara, menurut Benny, terletak pada jaringan biro daerah. Biro tidak lagi dipahami hanya sebagai unit produksi berita lokal, melainkan perlu bertransformasi menjadi pusat data intelligence.

Dengan lebih dari 30 biro di seluruh Indonesia, tersimpan aset data besar yang jika dihimpun, dianalisis, dan diolah secara sistematis, dapat berkembang dari berita harian menjadi analisis mendalam serta rekomendasi strategis bernilai tinggi.

Sejarah panjang lembaga ini menjadi modal kepercayaan yang tidak dimiliki banyak media lain.
Jika dipadukan dengan jaringan biro nasional dan luar negeri, membuka potensi besar dalam
membangun big data intelligence.

Perspektif ke dalam (inward looking) dan ke luar (outward looking) memperkuat kemampuan
membaca persoalan nasional dan global secara komprehensif.

Sistem pembinaan dan jenjang karier wartawan yang relatif tertata menjadi keunggulan sumber daya manusia. Struktur ini perlu disertai penguatan kapasitas berpikir agar wartawan tidak hanya menguasai satu desk liputan, tetapi mampu membaca pola, tren, dan arah perkembangan isu untuk menghasilkan analisis strategis.

“Antara punya modal kuat untuk membangun big data intelligence yang relevan dan bernilai strategis,” katanya.

Tanggung Jawab Pers
Menurut Benny, kemerosotan pers nasional, mulai dari melemahnya bisnis media konvensional, menjamurnya media daring tanpa standar profesional, hingga rendahnya kesejahteraan wartawan, merupakan persoalan global.

Perkembangan teknologi mengubah lanskap pers secara drastis dan menggerus banyak model bisnis serta praktik jurnalistik lama.

“Situasi ini tidak dapat dihadapi secara sendiri oleh masing masing media, melainkan menuntut
kebersamaan seluruh pemangku kepentingan, pers, pemerintah, dan masyarakat,” katanya.

Pers memikul tanggung jawab sosial besar dalam menjaga ruang publik tetap sehat. Maraknya berita emosional dan ujaran kebencian dipandang sebagai ancaman serius bagi identitas bangsa.

Pers dituntut berperan sebagai penjernih informasi, bukan penguat sensasi. Negara berkewajiban membantu membangun ekosistem pers yang sehat tanpa mengganggu marwah dan independensi, agar pers dapat menjalankan fungsi sosialnya secara bermartabat dan tetap relevan bagi publik.

“Pers harus kembali pada tanggung jawab utamanya menjaga ruang publik tetap sehat,” katanya.

Tonton Video Selengkapnya

Artikel Terkait

Scroll to Top