In Memoriam Bos Djarum Michael Bambang Hartono

Superkaya Supersederhana – Oleh Bagas Pratomo

Share

Pengusaha senior dan juga salah satu Bos PT Djarum, Michael Bambang Hartono (Oei Hwie Siang) meninggal dunia di usia 86 tahun. Ia mengembuskan napas terakhirnya pada Kamis pukul 13.15 waktu Singapura.

Kabar wafatnya sosok penting di balik kesuksesan Grup Djarum ini menjadi perhatian publik, mengingat kontribusinya yang sangat besar dalam dunia usaha nasional.

Ia merupakan salah satu pengusaha paling berpengaruh di Indonesia, bahkan kerap masuk dalam daftar orang terkaya versi lembaga internasional, seperti Forbes.

Bambang Hartono dikenal karena inovasi manajerialnya sangat optimal. Sikapnya yang pantang menyerah menjadi poin plus untuk terus mengembangkan bisnis hingga tercapai kesuksesan besar seperti saat ini.

Dikenal luas sebagai figur sentral dalam perkembangan Djarum. Bersama saudaranya, Robert Budi Hartono, ia melanjutkan bisnis yang dirintis sang ayah, Oei Wie Gwan. Usaha tersebut dimulai tahun 1951, saat ayah mereka membeli usaha kecil di bidang kretek bernama Djarum Gramophon.

Nama tersebut diganti menjadi Djarum. Perjalanan Djarum sempat terhambat dengan peristiwa kebakaran tahun 1963, yang hampir memusnahkan perusahaan. Rintangan tersebut ternyata justru menjadi titik balik Djarum yang semakin berjaya setelahnya.

Modernisasi Produksi
Kebangkitan tersebut dilakukan dengan memodernisasikan peralatan produksinya sesuai perkembangan teknologi, sehingga meningkatkan produktivitas dan perolehan penjualan.

Pasar ekspor mulai dirambah Djarum pada tahun 1972. Inovasi produk perusahaan terdapat dalam dua jenis, yaitu Sigaret Kretek Tangan (SKT) dan Sigaret Kretek Mesin (SKM).

Produk SKT adalah Djarum 76 dan Djarum 12, sedangkan produk SKM adalah Djarum Super, La Lights, Djarum Mezzo, Djarum Black.

Bahan baku yang digunakan mempunyai kualitas baik dan berasal dari dalam negeri. Tembakau berasal dari Weleri, Muntilan, Temanggung, Jember, Lombok, Madura, Bojonegoro, dan Mranggen.

Cengkehnya berasal dari Aceh, Jawa, Bali, Ambon, Manado, dan sebagainya. Kerajaan bisnis Group Djarum semakin berjaya dan mampu meraup pangsa pasar yang menjanjikan.

Produk rokok Djarum laku keras di pasar, hingga mencapai 20% dari 240 miliar batang rokok per tahun dari total produksi nasional. Semua itu diraih karena kemampuan Djarum dalam memenuhi kebutuhan konsumen.

Kiprah Djarum sangat besar terhadap perekonomian Indonesia. Konsumen rokok di Indonesia yang tergolong besar, menjadikan pendapatan Djarum meningkat dan terus bertahan, serta menjadi salah satu penyumbang pajak terbesar di Indonesia.

Konglomerasi Terbesar
Di bawah kepemimpinan keluarga Hartono, Djarum berkembang pesat menjadi salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia.

Tidak hanya di industri tembakau, tetapi juga merambah ke berbagai sektor strategis. Pada 1970-an, Bambang Hartono memperluas perusahaan keluarganya ke bidang pertekstilan, elektronik (PT Hartono Electronic yang dikenal merek Polytron), furnitur (PT Ligna Furniture), bahan bangunan, kertas, restoran, dan sebagainya.

Keluarga Hartono juga adalah pemegang saham pengendali di Bank Central Asia (BCA), bank swasta terbesar di Indonesia, setelah membelinya dari keluarga Salim pasca krisis ekonomi 1998.

Tak hanya di sektor perbankan dan rokok, grup Djarum melalui GDP Venture juga berinvestasi di berbagai startup besar, termasuk Gojek, Kaskus, Blibli, dan tiket.com.

Selain inovasi produk, Djarum melakukan inovasi bisnis di bidang properti, perhotelan, dan agribisnis.

Bambang Hartono juga membuka bisnis properti dengan anak perusahaannya, PT Cipta Karya Bumi Indah (PT CKBI) .

Djarum melakukan peremajaan pada Hotel Indonesia dan Inna Wisata. Tak hanya sukses di bisnis, ia juga aktif dalam kegiatan filantropi melalui Djarum Foundation yang fokus pada pendidikan, olahraga, lingkungan, dan budaya.

Makan di Warung
Michael Bambang Hartono lahir di Kudus, Jawa Tengah pada 2 Oktober 1939. Semasa kecilnya, ia menempuh jenjang pendidikan SMP di Kudus, dan sekolah di SMA Karangturi angkatan 1960.

Kemudian ia kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro, Semarang. Yang banyak dikenang atas sosoknya adalah dia kerap tampil sederhana dalam kesehariannya.

Namanya sempat menjadi sorotan publik setelah fotonya makan di sebuah warung sederhana viral di media sosial.

Warung tersebut adalah Tahu Pong Karangsaru di Semarang, Jawa Tengah. Pemilik warung, Izelina Kristanti Thenu, mengungkapkan bahwa Bambang Hartono merupakan pelanggan setianya.

Padahal berdasarkan data terbaru dari Forbes per Desember 2025/Januari 2026, Bambang Hartono bersama sang adik, Budi Hartono, tetap masuk sebagai orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan mencapai 43,8 miliar dolar AS, atau setara dengan kurang lebih Rp 742 triliun (dengan asumsi kurs Rp 16.960/dolar).

Secara individu, kekayaan Bambang Hartono sendiri ditaksir mencapai lebih dari 25 miliar dolar AS atau sekitar Rp 424 triliun.

Bagi banyak orang, Bambang Hartono adalah sosok inspiratif yang menunjukkan bahwa kesuksesan tidak selalu identik dengan kemewahan.

Dalam berbagai kesempatan, Bambang Hartono sering terlihat mengenakan kaos berkerah polos. Ibaratnya ia adalah sosok superkaya yang supersederhana.

Membina Olahraga
Bambang Hartono juga seorang atlet bridge yang mewakili Indonesia di ajang Asian Games 2018. Ia merupakan sosok yang berjasa memasukkan cabang olahraga bridge ke dalam Asian Games 2018 yang diselenggarakan di Jakarta-Palembang.

Setelah berjuang bertahun-tahun, cabang bridge akhirnya diterima oleh Komite Olimpiade Asia (OCA) untuk dipertandingkan di pentas Asian Games 2018.

Bambang Hartono sebagai Presiden Federasi Bridge Asia Tenggara turut berperan dalam meyakinkan petinggi OCA Sheikh Ahmed Al-Fahad Al-Ahmed Al-Sabah yang sebelumnya bersikeras menolak karena bridge dianggap dekat dengan permainan judi.

Dijelaskannya, pihak OCA awalnya sempat keberatan karena bridge dihubungkan dengan permainan judi, tapi mereka akhirnya menerima setelah dijelaskan bahwa olahraga tersebut populer di negara Islam yang justru mempunyai juara dunia.

Dalam kompetisi tersebut, ia berhasil meraih medali perunggu sekaligus menjadi salah satu atlet tertua yang berkompetisi.

Bonus sebesar Rp 250 juta yang diterimanya dari pemerintah disalurkan melalui rekening pribadinya. Fakta ini menarik perhatian karena ia adalah pemilik BCA, tetapi menggunakan rekening dari bank lain. Bonus itu juga kemudian dipergunakan untuk pembinaan olahraga.

**

Artikel Terkait

Scroll to Top