Kantor Pusat IDX

Setelah Tergelincir, IHSG Kembali Mendaki

Share

Selama Bulan Maret 2025 Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat menjadi sorotan tajam. Kinerjanya dianggap menurun. Penyebabnya IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) yang merupakan indikator utama bagi investor saham semakin melemah dan terus meluncur.

Pada awal Ramadhan IHSG ditutup di level 6.519,66 pada 3 Maret 2025 terus menurun hingga mencapai 6.161,22 pada Senin 24 Maret 2025. Bahkan sempat meluncur ke bawah level 6.000 pada 24 Maret 2025.

Namun secara mengejutkan pada tanggal 25 Maret 2025 kembali ke level 6.200 sebelum ditutup pada 6.235,62 pada 25 Maret 2025, dan terus menguat menjadi 6.510,62 pada 27 Maret 2025 sebelum libur panjang.

Para pelaku pasar berharap IHSG kembali ke level 7.000 an seperti posisinya di awal tahun 2025. Menurut para ekonom sebagian investor menunggu pemerintah melakukan intervensi dan setelah ada intervensi maka pelaku pasar akan berbalik.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang disebut defisit 3 persen sesungguhnya tidak terjadi, karena penerimaan negara tetap stabil atau tetap sama dari tahun ke tahun, hanya terjadi pergeseran penggunaan anggaran tidak seperti di saat Covid adalah benar-benar terjadi defisit.

Bertindak Cepat
Pengelola Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dipimpin Dirut Imam Rahman pun selama bulan Maret 2025 bertindak cepat dengan berbagai strategi untuk meredam short selling dan panic selling.

Tercatat pula sembilan emiten antara lain PT Bank Rakyat Indonesia Tbk; PT Bank Mandiri Tbk; PT Bank Negara Indonesia Tbk ; PT Bank CIMB Niaga Tbk; PT Bank OCBC NISP Tbk; PT Chandra Asri Pasific Tbk dan PT Japfa Coomfed Indonesia Tbk. Melakukan buy back saham masing-masing.

Ekonom Yanuar Rizky , mengatakan votalitas IHSG yang mencapai 34% membuat langkah buy back berpotensi dimanfaatkan untuk merealisasikan keuntungan dari akumulasi saham di portofolio seperti hedge fund.

Di sisi lain para pengamat yang memahami pasar modal mengetahui bahwa fluktuasi di pasar modal adalah hal yang lazim. Baik di Bursa Efek Indonesia dan berbagai bursa saham dunia termasuk New York Stock Exchange pernah mengalami hal yang sama.

Berbagai penyebab turunnya IHSG disampaikan oleh pengurus BEI, pengamat ekonomi yaitu dari Kemerosotan IHSG itu secara teknis juga dipengaruhi oleh saham-saham penggerak bursa atau kelompok saham yang memiliki nilai kapitalisasi besar yaitu saham perbankan BUMN,

yaitu saham BBRI, BBNI, BMRI yang juga tergolong saham-saham favorit karena didukung oleh kinerja usaha nya, dan berhasil mendulang berbagai penghargaan di level nasional maupun internasional.

Para penjual saham-saham bank tersebut tidak selalu mengalami kerugian karena bank-bank BUMN tersebut telah melakukan corporate action yaitu pelaksanaan right issue oleh BMRI dan BBRI, jelas telah mendatangkan keuntungan bagi pemegang sahamnya,

di sisi lain para pemborong saham pelat merah tersebut juga akan meraih keuntungan besar karena fundamental bank-bank BUMN tersebut pada tahun buku 2024 lebih baik dari pada 2023 dan berpotensi untuk menikmati dividen yang segera akan diumumkan pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan yang diselenggarakan minggu keempat Maret 2025.

Tetap Optimis
Di tengah penurunan IHSG, ekonom, Muhamad Syahrir justru tetap optimis dan berkeyakinan bahwa bursa saham akan rebound di mana transaksi saham menjelang Lebaran akan membaik sampai dengan Juni 2025 , ekonomi RI dalam pertumbuhan maksimal .

Syahrir menambahkan tingkat inflasi RI masih aman pada angka 3% , fiskal juga stabil hanya yang perlu dilakukan adalah stimulus. Secara perlahan kurva transaksi sudah mulai bergerak naik, telah melewati titik jenuh dan batas psikologis.

Syahrir menjelaskan rebound adalah gerakan harga saham ke arah posisi penguatan. Amerika pernah mengalami di tahun 80-an , pelaku pasar tetap tenang, tidak panik dan terus menunggu sampai kurva jenuh, dan di saat berbalik , maka seluruh pelaku pasar tiba-tiba profit dan kaya raya.

Untuk Indonesia, yang bukan negara produsen barang jadi , yang hanya mengandalkan sector jasa, namun Indonesia adalah produsen bahan baku yang dibutuhkan industri dunia, maka itu adalah dasar yang kuat bakal terjadi rebound.

Analisa Syahrir sangat tepat bursa bergerak ke arah positif, pelaku bursa seperti Raja Minyak Sawit, Haji Isam borong saham Dana Brata Luhur (TEBE) yang baru listed senilai Rp 47,01 miliar dan akan menambah kepemilikannya melalui akuisisi lagi 505.176.210 saham sehingga secara total Haji Isam menguasai 71,15% saham TEBE .

Di sisi lain sebagai emiten sawit, perusahaan Haji Isam PT Jhonlin Agro Raya Tbk berhasil mencatat lonjakan laba bersih sebesar 237,4% pada tahun buku 2024
dibandingkan tahun 2023.

Bergerak Naik
Selanjutnya prediksi Syahrir terbukti dalam sepekan terakhir IHSG terus bergerak naik bahkan setelah penetapan susunan pengurus Danantara IHSG bergerak naik yaitu pada 24 Maret 2025 dan terus berlangsung.

Pada 26 Maret 2025, tercatat transaksi jumbo senilai Rp 18 triliun atas saham PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk , pemborong saham YUPI adalah Robin Ong Eng Jin, pemilik PT Confectionery Consumer Products Indonesia (CCPI). IHSG ditutup pada 6.472, naik 3,80% dari hari sebelumnya. Bursa saham terus menguat sampai hari terakhir pada 27 Maret 2025 IHSG sudah mendekati posisi awal Ramadhan yaitu ditutup pada 6.510,62 .

BEI libur mulai dari 28 Maret 2025, peringati Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1947 dan Hari Raya Iedul Fitri 1 Syawal 1446 Hijriah sekaligus cuti bersama Lebaran, dan akan kembali membuka perdagangan pada 8 April 2025.

Secara psikologis para pelaku bursa juga memiliki waktu untuk merancang aktivitas investasi lebih baik sambil memantau aktifitas bursa-bursa saham di Asia, Eropa dan Amerika.

Tetap Akan Diburu
Keputusan RUPST BRI untuk membagikan 85% laba bersih tahun buku 2024 yang tercatat sebesar Rp 60,64 triliun mencerminkan komitmen BRI dalam memberikan imbal hasil yang menarik bagi para pemegang sahamnya.

Demikian pula hasil RUPST PT Bank Mandiri TBK 25 Maret 2025 menyetujui pembagian dividen sebesar Rp 43,51 triliun atau setara dengan Rp 466,18 per saham. Rasio dividen Bank Mandiri untuk tahun buku 2024 mencapai 78% lebih tinggi dibandingkan tahun buku 2023, yaitu sebesar 60% .

Dihitung dari harga saham BMRI sebesar Rp 4.460 pada 24 Maret 2025 maka dividend yield nya adala 10,45% Hasil RUPST PT Bank Negara Indonesia Tbk pada 26 Maret 2025 juga melegakan para pemegang sahamnya, yaitu memutuskan pembagian dividen Rp 13,95 triliun atas setara dengan 65% dari laba bersih tahun buku 2024.

Dengan demikian dividen BBNI per unit sahamnya adalah Rp 374,05, naik signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yaitu Rp 280,49 atau 50% dari laba bersih tahun buku 2023. Maka tak ayal lagi harga saham BBNI langsung melesat nyaris 9% ke posisi Rp 4.250

Melihat pembagian dividen ketiga bank BUMN dan analisa fundamental dan kinerja usahanya , maka wajar bila investor kawakan Lo Kheng Hong telah memborong saham BRRI dan BMRI dalam jumlah besar.

Investor kelas kakap itu kepada Investor.id (25 Maret 2025) memuji BRI sebagai wonderfull company di BEI dan membagikan dividen terbesar juga .

Indeks Tersendiri
Saham BBRI, BMRI, dan BBNI juga tergolong dalam kategori 50 saham-saham yang nilai kapital pasarnya terbesar (Big Capitalization ) di BEI, dengan demikian gerakan harga sahamnya berpengaruh pada IHSG sehingga semua perhatian bursa bertumpu pada saham-saham Big Cap.

Sebaiknya saham-saham Big Cap itu memiliki indeks harga saham gabungan tersendiri sehingga ke depan akan menjadi acuan pasar modal secara keseluruhan. Seperti Index Dow Jones Industrial Average di New York Stock Exchange atau yang lebih dikenal sebagai Wall Street, yang lebih popular dari pada indeks harga saham gabungan dari NYSE.

Adapun kelompok saham Big Cap harus benar-benar sebagai saham blue chips dengan kriteria yang ketat baik secara fundamental, prospek bisnis dan menjalankan tata Kelola perusahaan secara baik, sehingga memberikan kepastian dan keamanan bagi para investor.

Charles Dow adala pencipta Dow Jones Industrial Index (DJIA). Dow adalah seorang jurnalis keuangan Amerika. Bersama Edward Jones dan Charles Bergstresser mendirikan Dow Jones & Company . Dow dan Jones mengembangkan DJIA pada tahun 1890 dan hingga kini reputasi indeks
tersebut masih tetap terjaga.

Teori Dow sangat dikenal dan tetap relevan hingga kini. DJIA adalah indeks pasar saham yang digunakan untuk mengukur performa perusahaan -perusahaan terbesar di Amerika Serikat.

BEI juga berpotensi menjadi terbesar di Asia, saat ini 952 perusahaan sudah mencatatkan sahamnya, bukan mustahil bila mendatang tercatat ribuan emiten berkelas tercatat.  Indonesia dengan sumber daya alamnya yang bernilai ribuan triliun demikian pula industri jasanya akan terus berkembang pesat.

Saat itu NKRI yang terdiri dari 17.00 pulau lebih akan memasuki skala dunia baru dan membutuhkan dana APBN belasan ribu triliun rupiah. Pasar Modal akan menjadi sangat strategis dan penting untuk dunia usaha

Artikel Terkait

Scroll to Top