Setelah itu, ia menyelesaikan ikatan dinas di Caltex dan kembali ke Indonesia untuk berkarier sebagai Internal Auditor di PT Caltex Pacific Indonesia pada 1993, kemudian menjadi Internal Audit Manager di Bakrie & Brothers Tbk.
Pernah menjabat sebagai CEO PT Bakrie Niagatama, Direktur Pasir Petroleum Resources Limited, Direktur SDM & Umum di PT Petrokimia Gresik, Dirut PT Semen Baturaja, Dirut PT Petrokimia Gresik, dan Dirut PT Pupuk Kalimantan Timur. Saat ini menjadi Dirut PT Pupuk Indonesia Group sejak Juli 2023.
Dalam kariernya, Rahmad Pribadi berfokus memberikan manfaat dan menciptakan kemajuan, baik kepada perusahaan maupun masyarakat, terutama yang berhubungan dengan bisnis dan operasional perusahaan.
“Salah satu prinsip saya adalah migunani, yakni senantiasa memberikan manfaat dan mencari peluang perbaikan sesuai dengan kebutuhan organisasi,” ujarnya.
Sebagai holding BUMN yang didukung lima anak perusahaan, PT Pupuk Indonesia menunjukkan kinerja solid dalam memenuhi fungsi sebagai industri pupuk dan petrokimia. Kapasitas produksi tahunan mencapai 14,8 juta ton, meliputi 9,4 juta ton pupuk Urea, 4,6 juta ton pupuk NPK, dan 0,8 juta ton pupuk lainnya.
Rahmad mengungkapkan bahwa perusahaan berhasil memproduksi hingga 15,5 juta ton per Oktober 2024, terdiri dari 64% pupuk dan 36% produk non-pupuk (amoniak, asam sulfat, dan asam fosfat).
Volume penjualan tercatat 10,6 juta ton, dengan distribusi sebesar 55% pupuk subsidi, 37% pupuk komersial, dan sisanya produk nonpupuk.“Efisiensi operasional dan langkah strategis perusahaan berdampak positif pada kinerja keuangan, dengan laba mencapai Rp7,5 triliun,” ungkapnya.
Swasembada Pangan
Menanggapi target Presiden Prabowo untuk swasembada pangan pada 2027, PT Pupuk Indonesia mendukung penuh visi tersebut. Dengan alokasi subsidi pupuk sebesar 9,5 juta ton pada 2024, perusahaan bekerja sama dengan pemerintah untuk menjamin distribusi yang tepat sasaran kepada petani.
Hingga November 2024, realisasi penyaluran telah mencapai 88,9% atau 6,70 juta ton dari alokasi penyesuaian anggaran tambahan II sebesar 7,54 juta ton, dan 70,2% dari alokasi terbaru sebesar 9,55 juta ton.
Program MAKMUR (Mari Kita Majukan Usaha Rakyat) diluncurkan untuk meningkatkan produktivitas petani dalam memanfaatkan pupuk nonsubsidi, melalui pendampingan, pemupukan dan pertanian presisi, edukasi, serta offtaker atau jaminan pasar.
Tujuannya untuk mendorong kemandirian pertanian dan memastikan pasokan pupuk tetap terjaga, terutama di sentra pertanian utama Indonesia.
“Kolaborasi dengan pemerintah dan peningkatan efisiensi distribusi adalah kunci untuk memenuhi kebutuhan petani dan mendukung swasembada pangan,” jelas Rahmad.
Kendala Produksi
Bahan baku gas bumi menjadi kendala utama dalam produksi pupuk nitrogen, seperti urea, yang sangat bergantung pada pasokan gas. Fluktuasi harga gas dan ketidakpastian pasokan di hulu seringkali mempengaruhi biaya produksi dan operasional pabrik.
Oleh karena itu, kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) sangat penting untuk menjaga efisiensi produksi dan keterjangkauan harga pupuk bagi petani.
Selain itu, gejolak geopolitik dan fluktuasi harga komoditas global turut memberikan dampak terhadap bahan baku produksi.
Menghadapi tantangan ini, PT Pupuk Indonesia berkomitmen untuk meningkatkan efisiensi operasional dan kapasitas produksi guna memenuhi kebutuhan nasional sekaligus mendukung ketahanan pangan berkelanjutan.
Masalah utama dalam penyediaan pupuk tepat waktu adalah birokrasi panjang yang menyebabkan keterlambatan dan potensi penyalahgunaan dalam penyaluran pupuk bersubsidi.
PT Pupuk Indonesia menyambut baik langkah progresif pemerintah untuk menyederhanakan regulasi distribusi, seperti penghapusan kewajiban Surat Keputusan (SK) dari pemerintah daerah.
Penyederhanaan ini memungkinkan distribusi yang lebih efisien dan cepat, serta memudahkan petani mengakses pupuk bersubsidi secara tepat waktu, terutama di musim tanam.
Menurut Rahmad, penghapusan kartu tani sebagai syarat penebusan pupuk subsidi menjadi langkah strategis untuk memperlancar distribusi pupuk dan menyederhanakan proses administrasi.
PT Pupuk Indonesia juga memanfaatkan teknologi seperti Command Center dan aplikasi i-Pubers untuk memantau distribusi secara real-time. Dengan
inovasi digital dan program edukasi untuk petani, perusahaan berfokus meningkatkan produktivitas pertanian dan memastikan distribusi pupuk tepat sasaran.
“Kami optimis dapat terus memenuhi kebutuhan petani secara efektif,” katanya.
Pabrik Baru
Rahmad menjelaskan pembangunan pabrik pupuk di Fakfak, Papua Barat, merupakan upaya strategis untuk mendukung ketahanan pangan nasional dengan
memastikan ketersediaan pupuk di wilayah timur Indonesia.
Meskipun wilayah ini memiliki potensi besar dalam sektor pertanian, tantangan logistik seperti biaya distribusi tinggi sering menjadi kendala. Melalui proyek tersebut, PT Pupuk Indonesia bertujuan memperkuat infrastruktur distribusi dan meningkatkan efisiensi dengan mendekatkan sumber produksi ke wilayah timur.
“Berkurangnya beban logistik akan memberikan dampak positif bagi distribusi pupuk secara nasional,” katanya.
Prospek produksi pupuk nasional sangat positif, dengan target mencapai 19,16 juta ton pada 2025. Di satu sisi, PT Pupuk Indonesia berfokus mendukung swasembada pangan 2027 melalui intensifikasi dan ekstensifikasi lahan pertanian yang membutuhkan pupuk dalam jumlah besar dan tepat waktu.
Di sisi lain, perusahaan juga melihat peluang ekspor di pasar global, namun tetap memprioritaskan pemenuhan kebutuhan domestik.
“Dengan keberhasilan menduduki posisi ke-7 dalam industri pupuk global berdasarkan laba bersih, PT Pupuk Indonesia akan terus menjaga keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan dalam negeri dan peluang ekspor,” katanya
Pertanian Berkelanjutan
Dalam upaya mendukung keberlanjutan pertanian, PT Pupuk Indonesia terus memproduksi pupuk berkualitas, dengan kapasitas 700 ribu ton per tahun, dan alokasi subsidi mencapai 500 ribu ton pada 2024.
Program edukasi kepada petani untuk menggunakan pupuk organik dan anorganik secara berimbang dengan teknologi precision framing, sesuai dengan kebutuhan komoditas dan kondisi tanah, juga menjadi salah satu fokus perusahaan untuk menjaga kesuburan tanah dan ekosistem lahan dalam jangka panjang.
Edukasi tersebut digencarkan melalui program MAKMUR, yang telah berhasil merealisasikan perluasan lahan hampir 400 ribu hektar, memberdayakan lebih
dari 150 ribu petani, mendorong produktivitas pertanian, dan meningkatkan pendapatan petani.
Program ini tidak hanya mendukung swasembada pangan, tetapi juga menciptakan ekosistem pertanian yang yang holistik dan berkelanjutan, melalui pendampingan intensif, penyediaan sarana produksi, akses permodalan, serta perlindungan risiko pertanian.
“Program MAKMUR berhasil meningkatkan produktivitas padi hingga 14%, jagung 23%, dan tebu 3%, serta menaikkan pendapatan petani sebesar 38% berkat hasil panen yang optimal serta adanya jaminan offtaker,” tambahnya.










