Program D3 ITS justru memberinya fondasi kuat di bidang praktik dan operasional. Mahasiswa D3
dibekali pemahaman lapangan yang solid, bahkan banyak rekan seangkatannya sudah bekerja sebelum lulus.
Ia menyelesaikan studi dalam waktu tiga tahun, lalu bekerja sebagai karyawan swasta selama dua tahun. Setelah itu, ia melanjutkan ke program extension sarjana di almamater yang sama karena jalur reguler mengharuskannya berhenti bekerja, sesuatu yang tidak memungkinkan secara keuangan.
Usai meraih gelar sarjana, karier membawanya ke luar Jawa sebelum kembali ke Surabaya. Pada fase
ini, orientasinya mulai berubah.
Jika sebelumnya bertumpu pada aspek teknis, tuntutan jabatan menyadarkannya akan pentingnya kemampuan manajerial dan keuangan.
Karena itu, ia melanjutkan studi ke Program Magister Manajemen Teknologi (MMT) ITS dengan konsentrasi bisnis maritim, sesuai dengan bidang pekerjaannya saat itu.
“Tugas saya hanya menjalankan sebaik mungkin. Hasil dan penilaian saya serahkan ke manajemen,” ujarnya.
Jejak Karier
Pengalaman kerja pertamanya dimulai di Laboratorium Hidro ITS selama sekitar tujuh bulan, lalu
berlanjut ke perusahaan swasta di bidang kepelabuhanan di kawasan Tanjung Perak, Surabaya.
Tahun 1999 menjadi titik penting saat ia bergabung dengan PT Pelindo dan mulai menjalani penugasan di berbagai daerah.
Tidak kurang dari tujuh provinsi pernah menjadi wilayah kerjanya, mulai dari Jawa Tengah, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur hingga Kalimantan Selatan.
Ia bahkan sempat bertugas hampir tiga tahun di Bima, NTB. Selama bertahun-tahun, ia berkutat di bidang teknik. Latar belakang teknik sipil sangat relevan dengan karakter Pelindo sebagai perusahaan infrastruktur.
Ia terlibat dalam perencanaan, pengawasan, hingga pelaksanaan proyek-proyek pelabuhan. Di tengah perjalanan karier, ia memutuskan bergabung dengan Satuan Pengawasan Intern (SPI) Pelindo.
Selama dua setengah tahun, ia tidak hanya menilai proyek dari sisi teknis, tetapi juga dari perspektif tata kelola, risiko, dan manajemen.
“Intinya sama-sama mengelola tanah, bangunan, dan layanan. Bedanya ada di regulasi dan fokus bisnis,” ujarnya.
Simpul Penting
Faruq Hidayat mengatakan, kawasan pesisir utara Jawa Timur dan Jakarta sejak lama menjadi simpul penting logistik dan industri nasional.
Di antara titik strategis tersebut, Teluk Lamong di Surabaya dan Kawasan Berikat Nusantara (KBN) di Jakarta menunjukkan bagaimana peran BUMN terus beradaptasi menghadapi perubahan peta industri, investasi, dan logistik global.
Teluk Lamong berlokasi di Surabaya, tepat di perbatasan dengan Gresik. Pelabuhan ini mulai beroperasi pada 2014 dan kini telah memasuki lebih dari satu dekade layanan.
Sejak awal, Teluk Lamong dirancang sebagai pelabuhan modern yang melayani peti kemas internasional dan domestik, sekaligus menangani curah kering impor.
Kehadiran Teluk Lamong memperkuat posisi Surabaya sebagai gerbang logistik utama di Indonesia timur sekaligus mendukung efisiensi arus barang strategis nasional.
Penugasan Strategis
Faruq Hidayat ditugaskan di PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN) sejak 2024 sebagai Direktur Pemasaran dan Pengembangan, serta saat ini juga menjabat sebagai Plt, Direktur Utama.
Penugasan tersebut merupakan bagian dari skema BUMN Talent, di mana para profesional ditempatkan lintas sektor dan wilayah sesuai kebutuhan strategis negara.
Meski bergerak di sektor yang berbeda, karakter kegiatan di Kawasan Berikat Nusantara dinilainya relatif serupa dengan pelabuhan.
Pengelolaan meliputi tanah, bangunan, air, dan distrik, pola yang juga ditemui dalam pengelolaan kawasan industri.
Perbedaan utama terletak pada payung regulasi. Pelabuhan berada di bawah Kementerian Perhubungan, sementara kawasan industri seperti KBN berada di bawah Kementerian Perindustrian. Kondisi ini memberi ruang gerak yang lebih longgar dalam pengelolaan kawasan.
“Fleksibilitas tersebut penting karena kawasan industri berorientasi jangka panjang, terutama dalam menarik dan menjaga keberlanjutan investasi. Tugas utama pengelola kawasan adalah memastikan para tenant, baik dari dalam maupun luar negeri, dapat berusaha secara nyaman dan berkelanjutan,”
katanya.
Posisi Istimewa KBN
Secara historis, KBN memiliki posisi istimewa. Pada masa awal berdiri, hanya KBN yang memperoleh status kawasan berikat dengan berbagai kelonggaran fiskal dan perpajakan.
Seiring waktu, fasilitas serupa juga diberikan kepada banyak kawasan industri lain, baik milik BUMN maupun swasta.
Kini, hadir pula Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang menawarkan insentif lebih spesifik untuk menarik investasi asing.
Di tengah perubahan tersebut, posisi KBN tetap relevan. Saat ini terdapat 7 kawasan industri BUMN yang berada di bawah holding Danareksa, yakni Kawasan Industri Medan (KIM) di Medan, Jakarta
Export Processing Zone (JEP) dan KBN di Jakarta, Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) di Surabaya, Kawasan Industri Makassar (KIMA) di Makassar, Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), serta Kawasan Industri Brebes (KIB) di Jawa Tengah. Ketujuh kawasan ini menjadi tulang punggung industrialisasi berbasis BUMN.
“Satu mesin bisa menggantikan 100 orang, yang menggambarkan efisiensi melalui otomasi,” katanya.
Punya Lokasi Strategis Karena Dekat Pelabuhan
Faruq Hidayat mengatakan kontrak jangka panjang dengan pembeli luar negeri, terutama dari Amerika Serikat, menjadi penopang utama keberlanjutan usaha KBN. Meski demikian, jelasnya, KBN tetap memiliki keunggulan strategis yang sulit tergantikan.
Lokasinya yang hanya sekitar 6 hingga 7 kilometer dari pelabuhan membuat distribusi ekspor jauh lebih efisien. Ke depan, pembangunan akses jalan strategis seperti New Priok Eastern Access (NPEA) di kawasan Merunda oleh Pelindo diharapkan mampu mengurai kepadatan lalu lintas logistik.
Dari sisi kinerja keuangan, kawasan industri BUMN di bawah Danareksa berada dalam kondisi sehat. Pendapatan gabungan telah melampaui Rp1 triliun dalam dua tahun terakhir, sebuah capaian bersejarah.
Dengan margin laba sekitar 30 persen, kinerja tersebut menunjukkan industri yang solid. Terkait tren ke depan, menurutnya, KBN tidak bisa lagi terlalu berharap pada pengembangan eksisting karena
tingkat keterisian telah mencapai sekitar 90 persen.
Fokus dua tahun ke depan diarahkan pada peningkatan produktivitas internal. Salah satunya melalui
perubahan model bisnis anak usaha.
Jika sebelumnya aset seperti lahan dan gudang hanya disewakan, kini KBN mulai mengoperasikan sendiri. Dengan cara ini, potensi pendapatan yang semula satu dapat meningkat menjadi tiga kali lipat atau lebih, sekaligus mendorong kenaikan profitabilitas.
“Bagi KBN, ini akan menjadi segmen bisnis baru yang mampu menambah revenue,” katanya.
Tetap Terhubung
Hingga kini, hubungan Faruq Hidayat dengan almamaternya, ITS, tetap terjaga melalui jejaring alumni dan semangat untuk terus berkontribusi.
Kesibukan memang membuatnya tidak selalu hadir dalam berbagai kegiatan kampus. Namun, ia tetap berupaya memberi manfaat bagi ITS, setidaknya melalui Ikatan Alumni ITS (IKA ITS).
Baginya, status sebagai alumni bukan sekadar identitas masa lalu, melainkan tanggung jawab moral yang terus melekat.
“Saya ingin keberadaan saya, dengan posisi dan capaian yang saya miliki saat ini, bisa memberikan manfaat,” ujarnya.
Menurutnya, kontribusi tidak selalu harus dalam bentuk besar. Selama dibutuhkan oleh ITS, ia
berusaha hadir dan membantu.
Ia memandang peran alumni dapat diperluas ke ranah yang lebih strategis. Ia juga menyadari
adanya anggapan bahwa alumni ITS, dibandingkan lulusan sejumlah perguruan tinggi besar lainnya,
masih relatif kurang terlihat dalam konfigurasi nasional, baik di pemerintahan, politik, maupun BUMN. Sebagian besar alumninya justru berkiprah di sektor swasta, industri, dan dunia profesional teknis.
Tidak Alergi Politik
Karena itu, ia menegaskan bahwa kontribusi tidak harus selalu melalui jalur teknis. Pengalaman di BUMN, pemerintahan, maupun politik praktis juga merupakan ladang pengabdian yang sah dan penting.
Ia mendorong alumni dan mahasiswa ITS agar tidak alergi terhadap dunia politik. Baginya, politik praktis bukan hal tabu.
Tantangannya adalah menghadirkan praktik politik yang sehat, rasional, dan berbiaya rendah, ruang yang dapat diisi generasi muda berlatar sains dan teknologi.
“Kita tidak bisa terus berada di luar. Kalau mau membenahi, ya masuk saja, ayo dibetulkan dari dalam,” katanya.
Ia berharap nilai rasionalitas, efisiensi, dan etika yang ditempa di dunia teknik dapat ikut mewarnai proses pengambilan kebijakan publik.
Ia juga menyoroti perbedaan ekosistem pendidikan antar perguruan tinggi. Sejumlah kampus lain dinilai lebih serius membina kepemimpinan dan politik sejak mahasiswa, sehingga melahirkan banyak tokoh nasional.
Di ITS, menurutnya, pola tersebut belum terlalu kuat karena fokus utama masih pada teknik dan rekayasa. Ketiadaan fakultas hukum kerap dianggap membatasi eksposur kebijakan dan politik, namun ia menolak menjadikannya alasan.










