Mengingatkan Tujuan dan Makna Jabatan – Oleh Hendrawan Supratikno

Share

Saya mendengar Pak Murdaya Widyawimarta Poo (Poo Tjie Gwan) sakit dan dirawat di Amerika Serikat, sekitar setahun yang lalu. Tepatnya pada bulan Mei 2024, saat saya dan teman-teman dari Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN-DPR-RI) mengadakan kunjungan kerja ke Canada dan Amerika Serikat, saya mengirim berita singkat melalui Whatsapp (WA) berikut:

GWS Pak Poo. Kami berdoa agar kesehatan Pak Poo segera pulih. Semoga selalu bahagia dan diberkati. Apakah kami bisa mendapatkan informasi mengenai rumah sakit di Boston? Teman-teman kita yang sedang berada di AS, termasuk anggota DPR yang sedang kunjungan kerja, ingin mengunjungi Pak Poo?. Terima kasih (13 Mei 2024, pkl 11.52).

Namun, pesan tersebut tidak mendapat balasan. Beberapa hari setelah itu, saya mengirim pesan lagi untuk mengucapkan selamat Hari Waisak (23 Mei 2024). Sayangnya, saya tidak mendapatkan jawaban. Beberapa waktu kemudian, saya akhirnya menerima pesan dari Pak Poo:

“Saya sudah dua minggu di SGH, terima kasih ya. Terima kasih atas doanya” (27 Juni 2024).

Pesan singkat ini ternyata menjadi komunikasi terakhir saya dengan sosok yang sangat berjasa dalam karir saya sebagai Anggota DPR-RI setelah Pemilu 2009. Pak Poo meninggal pada 7 April 2025 di usia 84 tahun.

Tanggal ini mudah saya ingat karena istri saya yang telah meninggal, Juliana Kale Supratikno, juga berpulang pada tanggal yang sama di tahun 2014.

Kiprah Pak Poo
Saya telah mendengar nama Pak Poo sejak lama, tetapi pertemuan langsung berlangsung di sebuah acara komunitas warga Tionghoa di Jakarta. Senior Tionghoa, Pak Hartono (Li Bo Qiao, Alm), adalah orang yang memperkenalkan kami.

Sejak 2004, Pak Hartono aktif bersama saya dalam berbagai kegiatan PSMTI (Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia) dan organisasi yang didirikannya, yaitu FORDEKA (Forum Demokrasi Kebangsaan).

Saat itu, saya menjabat sebagai Direktur Pascasarjana di Institut Bisnis dan Informatika Indonesia (IBII), lembaga pendidikan yang didirikan oleh Kwik Kian Gie dan Djoenaedi Joesoef.

Selain dikenal sebagai tokoh alumni GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), saat itu Pak Poo juga menjabat sebagai salah satu Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI-Perjuangan. Ia terkenal sebagai sahabat dekat Pak Taufiq Kiemas.

Ketika kami tergabung dalam Tim Kampanye Mega-Hasyim untuk Pilpres 2004, saya sering melihat Pak Poo di kediaman Bu Megawati di Jalan Teuku Umar, Jakarta.

Lokasi rumah Pak Poo pun tidak jauh dari kediaman Bu Mega.Saat pencalonan anggota DPR pada 2009, saya berdialog lagi dengan Pak Poo. Suasana agak tegang karena terdapat indikasi kuat bahwa Pak Poo akan mendukung Calon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Beberapa teman menyebutkan bahwa sebenarnya, pada Pilpres 2004, Pak Poo, terutama Ibu Hartati, istrinya, sudah memberikan dukungan secara diam-diam kepada Pak SBY.

Seperti info yang beredar, Pak SBY, setelah berhenti dari Kabinet Ibu Mega, sempat berkantor di salah satu perusahaan milik Pak Poo. Pak Poo pada masa kampanye PIlpres 2009, bahkan sempat membacakan deklarasi dukungan kepada SBY.

Seperti kita ketahui kemudian, sikap Pak Poo ini berujung pada pemecatan dirinya dari PDIPerjuangan (awal Desember 2009), padahal Pak Poo terpilih sebagai anggota DPR dari Provinsi Banten pada Pemilu 2009.

Saya ingat, saat saya masuk dalam daftar calon legislatif (caleg), Pak Poo bertanya, apa tujuan saya mencalonkan diri, apa alasan ingin masuk menjadi anggota DPR.

Belum sempat memberi alasan pergeseran pilihan saya dari akademisi menjadi politisi, Pak Poo sudah bercerita tentang perjuangannya mendorong pembentukan Undang Undang Kewarganegaraan Republik Indonesia (UU No. 12/2006) dan Undang Undang tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis (UU No. 40/2008).

Dua undang-undang ini memang memberi kontribusi besar terhadap persamaan hak, kesetaraan dan perlindungan kepada kelompok minoritas. Warga Tionghoa selalu mengacu kontribusi besar Pak Poo dalam soal ini.

Dalam Pemilu 2009, Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan penggunaan sistem proporsional terbuka, artinya calon yang terpilih bukan didasarkan pada nomor urut, melainkan berdasar suara terbanyak.

Pak Poo bertanya kepada saya, apa dari perubahan tersebut. Saya sampaikan, Pak Poo harus rajin turun kampanye, membentuk tim sukses, menyebar alat peraga kampanye, mengadakan pertemuan dengan calon pemilih, dan seterusnya.

Pak Poo kemudian menunjuk salah satu staf untuk berkomunikasi dengan saya.  Mungkin atas “jasa ini”, Pak Poo ikut membantu dana kampanye saya. Syukurlah, bantuan itu tidak siasia.

Membangun Terbaik
Semasa menjadi anggota DPR, cukup banyak interaksi saya dengan Pak Poo. Yang saya ingat baik ada tiga. Pertama, saat kami mengunjunginya di komplek Pekan Raya Jakarta.

Pak Poo sempat mengajak kami keliling dengan mobil mini yang dikemudikannya sendiri. Dia bercerita tentang mimpinya agar Indonesia memiliki fasilitas pameran berkelas dunia. Saat itu, Pak Poo sedang merampungkan penyelesaian Gedung Teater untuk pertunjukan musik dengan investasi besar.

Pak Poo menyampaikan keinginannya memiliki satu universitas yang diintegrasikan dengan rumah sakit berkelas dunia di komplek Kemayoran. Dosen dosennya direkrut dari universitas-universitas terbaik di bidangnya.

Dia sempat bertemu dengan Prof. Yohanes Surya, pendiri Surya University, tapi visinya belum cocok. Saya bersama Darmadi Durianto dan Adinoto Nursiana, berusaha menawarkan gagasan pendidikan tinggi yang bermutu,

tetapi direalisasikan secara bertahap, yaitu dengan mendirikan beberapa sekolah tinggi dulu, terus dilebur sebagai institut atau universitas. Pak Poo merenung jauh dan berjanji terus berkomunikasi.

Yang menarik, saat tahu Darmadi Durianto  adalah anggota DPR, pertanyaan yang sama diajukan kepadanya, tentang apa tujuan menjadi anggota DPR, apa yang akan dikerjakan sebagai anggota DPR. Soal tujuan dan makna sebagai anggota dewan selalu ditanyakan berkali-kali setiap kali kami bertemu.

Kedua, pada puncak perayaan 80 tahun Pak Poo di Hotel Intercontinental Pondok Indah. Banyak tokoh berkumpul pada acara tersebut. Saya duduk semeja
dengan Christianto Wibisono (pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia) dan David Herman Jaya (Ketum PSMTI saat itu).

Kami menikmati pentas mosaik perjalanan hidup Murdaya Poo. Dari situ kami tahu, pengusaha ini berangkat dari bawah, dan memanfaatkan momentum pembangunan infrastruktur di masa Orde Baru.

Kita semua tahu, perusahaan-perusahaan milik keluarga Poo, merupakan perusahaan yang kuat, termasuk ketika Indonesia diempas krisis moneter 1998 dan 2008.  Beberapa kali Pak Poo menyampaikan, dia adalah konglomerat yang besar bukan karena utang atau ngemplang.

Kenangan ketiga terjadi di masa Covid-19. Pemerintah menyatakan Covid-19 masuk Indonesia pada 2 Maret 2020. Saat itu, akhir Februari 2020, saya mengirim foto kunjungan saya ke Sciences Po,  sebuah lembaga pendidikan prestisius di Paris. Saya ingat Pak Poo masih memendam hasrat untuk mendirikan universitas.

Tak diduga, seminggu setelah saya kirim foto tersebut, Covid-19 melanda dunia, dan membekukan hampir semua aktivitas normal kehidupan. Pak Poo beberapa kali mengirim WA, menawarkan pemberian vaksin untuk keluarga dekat atau alumni UKSW yang ada di Jakarta.

Vita Brevis Dignitas Longa
Pak Poo adalah sosok yang cenderung pendiam. Dari berbagai percakapan yang saya lakukan dengannya, saya terkesan bahwa ia seorang yang reflektif.

Pak Poo tidak ragu untuk memperkenalkan lawan bicaranya kepada orang-orang di sekitarnya, mencerminkan kepribadiannya yang hangat dan akrab.

Yang saya ketahui, kesedihannya hanya muncul ketika istri tercintanya menghadapi masalah hukum pada masa kepemimpinan Abraham Samad di KPK.

Ia selalu meyakini bahwa pengusaha kerap menjadi korban dalam ekosistem bisnis yang korup. Menurutnya, jika sistem perizinan berjalan dengan baik dan transparan, tidak akan ada pengusaha yang terus-menerus diperas oleh penguasa.

Kegemarannya bermain golf menjaga kesehatannya tetap prima. Karena itu, kabar bahwa ia dirawat intensif di rumah sakit terbaik demi pemulihan kesehatannya sungguh mengejutkan kami.

Namun, hukum alam, seperti yang ia yakini, cepat atau lambat pasti akan tiba. Selamat jalan menuju kosmos keabadian, Pak Poo. Mengutip dan memodifikasi sajak Sapardi Djoko Damono (1991),

“pada suatu hari nanti/ suaramu tak terdengar lagi/ tapi di antara larik-larik tulisan ini/ kau akan tetap kusiasati.”

***

Artikel Terkait

Scroll to Top