Keinginan untuk menghadapi tantangan baru dan memperluas wawasan membawanya pada posisi yang memungkinkan dirinya terlibat dalam berbagai aspek operasional.
Febriany memiliki kesempatan untuk terlibat di berbagai tahap operasional, mulai dari eksplorasi, mempelajari konsep geologi, dan memahami bagaimana program eksplorasi dijalankan.
Dari eksplorasi, berlanjut ke project development, kemudian ke pertambangan, pengolahan di pabrik, utilities, hingga produk akhir. Merasa antusias karena mendapatkan kesempatan untuk pergi ke remote area, melihat kehidupan yang berbeda, dan menghadapi tantangan baru.
Seiring waktu, ia semakin menyadari bahwa industri tambang merupakan sektor yang sangat krusial dan memiliki peran penting dalam kehidupan manusia.
“Setiap aspek kehidupan kita melibatkan hasil tambang. Bahkan, pertambangan memiliki peran penting dalam peradaban manusia,” katanya.
Karena sumber daya mineral merupakan bahan yang tidak dapat diperbarui, penting bagi industri untuk menjalankan proses penambangan dan pengolahan material dengan penuh kehati-hatian serta berprinsip keberlanjutan. Segala sesuatu yang dilakukan hari ini harus mempertimbangkan dampaknya bagi generasi mendatang.
Karier di PT Vale
Febriany memulai karier di industri pertambangan nikel dan bergabung dengan PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) pada akhir tahun 2007. Saat itu, harga nikel sedang berada di puncaknya, sebuah kondisi yang menjadi motivasi untuk bergabung.
Ia menjabat sebagai Manajer Pengawasan Pembiayaan Proyek dan Evaluasi Keuangan selama tiga tahun hingga 2010. Terlibat dalam kegiatan operasional yang berfokus pada peningkatan efisiensi biaya, evaluasi, pengaturan pembiayaan proyek, dan perencanaan strategis.
Selanjutnya, dipindahtugaskan ke kantor regional Vale Base Metal Asia Pasifik dan Afrika yang berbasis di Brisbane, Australia, selama 2,5 tahun. Ia bertanggung jawab terhadap operasional Vale Base Metal di Indonesia, Jepang, Cina, Taiwan, dan Afrika.
Pada periode 2013-2018, diangkat sebagai Chief Financial Officer (CFO), kemudian menjabat sebagai Deputy Chief Executive Officer pada 2019–2021, hingga akhirnya dipercaya menjadi Chief Executive Officer (CEO) sejak 2021.
Saat menjabat sebagai Deputy CEO, sebenarnya tidak ada keinginan untuk menjadi CEO. Secara karier, pencapaian sudah cukup memuaskan, kondisi finansial juga telah terpenuhi, dan keluarga menjadi prioritas utama, terutama karena anak masih kecil.
Namun, dalam proses tersebut, pendahulunya memberikan nasihat bahwa kesempatan tidak datang dua kali. Dalam refleksi, ia akhirnya menemukan tujuan besar, kesadaran bahwa keberadaan di dunia ini seharusnya membawa kebaikan bagi banyak orang.
Dibandingkan dengan posisi CFO, sebagai CEO pengaruhnya jauh lebih besar, dengan tanggung jawab memberikan manfaat lebih luas, tidak hanya di tingkat kabupaten, tetapi juga provinsi hingga nasional.
“Jika hanya berfokus pada diri sendiri, maka pencapaian berhenti di titik tertentu,” katanya.
Core Values
Febriany selalu berpegang pada nilai-nilai utama perusahaan dalam mengambil keputusan sulit. PT Vale memiliki lima nilai inti yang menjadi panduan dan kompas dalam menjalankan bisnis.
Life Matters Most, kehidupan adalah yang terpenting. Menempatkan kesehatan dan keselamatan kerja (K3) sebagai prioritas utama yang harus dipatuhi. Sistem keselamatan yang baik, disiplin yang tinggi, dan komitmen setiap karyawan sangat diperlukan untuk mencapai zero harm.
Prize Our Planet, menjaga kelestarian bumi adalah tanggung jawab bersama. Sebagai pemimpin, ia memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan. Menurutnya, justru berbahaya jika seorang pemimpin di industri tambang tidak peduli terhadap kelestarian lingkungan, mengingat dampak yang ditimbulkan sangat besar.
“Sumber daya yang digali tidak dapat diperbarui, sehingga penambangan harus dilakukan dengan hati-hati, mempertimbangkan dampak jangka panjang, mitigasi risiko, dan manfaat bagi lingkungan serta masyarakat,” katanya.
Value Our People, komitmen untuk menciptakan lingkungan kerja yang beragam dan inklusif. Nilai ini tidak hanya berlaku bagi karyawan, tetapi juga bagi masyarakat sekitar. Sebab, keberadaan perusahaan harus memberikan manfaat bagi masyarakat yang terdampak oleh operasionalnya.
Act with Integrity, membangun hubungan berdasarkan kepercayaan dan mendorong komunikasi yang terbuka serta transparan. Integritas menjadi dasar dalam setiap tindakan, karena tanpa integritas, nilai-nilai lainnya tidak akan berarti. Nilai terakhir, Make It Happen, tidak cukup hanya berbicara, tetapi harus ada tindakan nyata.
“Intinya, segala hal baik yang direncanakan harus dibungkus dengan integritas yang kuat dan direalisasikan,” katanya.
Konsep Genba
Febriany menegaskan bahwa penghargaan tertinggi seorang pemimpin atau perusahaan terhadap karyawannya adalah kepedulian yang tulus terhadap keselamatan mereka. Salah satu wujud kepedulian ini adalah dengan menerapkan dialog yang terbuka dan transparan.
Di Indonesia, budaya hierarki masih cukup kuat, dan menurutnya, hal ini perlu diubah. Dialog yang terbuka sangat penting agar semua pihak dapat berbicara tanpa rasa takut. Akan berbahaya jika pemimpin di tingkat atas, termasuk direksi, tidak mau berdialog.
Suasana yang aman harus diciptakan agar karyawan berani mengungkapkan pendapat dan memberikan masukan. Menurutnya, umpan balik yang membangun justru datang dari karyawan di lapangan, karena mereka melihat langsung bagaimana pemimpin bekerja.
Oleh karena itu, penting bagi seorang pemimpin untuk terbuka terhadap kritik, mengakui bahwa dirinya tidak sempurna, dan terus belajar. “Jika semua pihak berani terbuka dan berdialog secara jujur, maka perusahaan akan mendapatkan masukan yang jauh lebih bernilai” katanya.
Febriany juga sering turun langsung ke lapangan, menerapkan konsep Genba, istilah dalam budaya manajemen Jepang yang berarti kebiasaan rutin mengunjungi tempat kerja untuk melihat langsung situasi dan tantangan yang dihadapi karyawan.
Bagi Febriany, kepedulian yang tulus terhadap karyawan harus diwujudkan dengan tindakan nyata. Dengan turun langsung ke lapangan, ia dapat memahami tantangan yang mereka hadapi tanpa hanya mengandalkan laporan atau presentasi di ruang rapat.
Selain itu, berinteraksi langsung dengan tim di lapangan menjadi sumber energi dan motivasi baginya. Saat merasa lelah atau jenuh dengan rutinitas di Jakarta, ia memilih mengunjungi lokasi operasional perusahaan. Dari sana, ia kembali diingatkan tentang makna pekerjaannya dan alasan mengapa ia menerima tantangan sebagai CEO.
Progressive Reclamation
Febriany menjelaskan, misi PT Vale adalah membawa pembangunan berkelanjutan. Ia meyakini perusahaan harus bekerja sama dengan pemerintah dan masyarakat agar pembangunan berkelanjutan dapat terwujud secara optimal. Dalam aspek lingkungan, deforestasi menjadi isu global yang banyak dikaitkan dengan industri pertambangan.
Untuk mengatasi hal ini, PT Vale menerapkan konsep progressive reclamation, yang memastikan bahwa proses pertambangan dan rehabilitasi lingkungan berjalan secara beriringan.
Pendekatan ini dilakukan dengan membagi area tambang aktif ke dalam kompartemenkompartemen kecil. Hanya area yang benar-benar diperlukan yang
dibuka, tanpa harus membuka seluruh bukit sekaligus. Setelah satu kompartemen selesai ditambang, proses reklamasi segera dilakukan sebelum berpindah ke kompartemen berikutnya.
Dengan cara ini, tambang dan reklamasi dapat berjalan bersamaan. PT Vale juga berkomitmen melakukan reforestasi di luar konsesi. Bahkan, luas area yang telah direforestasi di luar konsesi sudah melebihi area yang ditambang.
Secara keseluruhan, reklamasi dan reforestasi yang telah dilakukan saat ini telah mencapai hampir 300% dari luas area yang dibuka. Dalam hal keanekaragaman hayati, PT Vale menerapkan sistem inventarisasi flora dan fauna sebelum melakukan penebangan pohon.
Upaya konservasi dilakukan dengan mengambil, mengembangkan, dan menjaga ekosistem yang ada, sehingga saat proses reklamasi berlangsung, lingkungan dapat dikembalikan sedekat mungkin dengan kondisi aslinya.
“Data keanekaragaman hayati yang telah dikumpulkan menjadi acuan utama dalam setiap reklamasi dan reforestasi” katanya.
Terkait emisi karbon, nikel kini menjadi salah satu material strategis dalam pengembangan baterai yang mendukung transisi energi bersih. Namun, proses pengolahan nikel membutuhkan energi yang sangat besar, terutama dalam tahap peleburan.
Untuk mengurangi dampak emisi karbon, PT Vale berkomitmen menggunakan sumber energi rendah karbon guna menekan emisi sebesar-besarnya dalam keseluruhan proses produksi.
“Jangan sampai nikel yang menjadi solusi dekarbonisasi justru menambah emisi karbon.”










