Fandi Wijaya - Direktur PT Dayamitra Telekomunikasi

Fandi Wijaya – Fixed Wireless Access Tanpa Jaringan Fiber

Share

Saat menempuh kuliah S1 Teknik Geodesi di Institut Teknologi Bandung (ITB), yang dimulai pada 1994, menjadi salah satu kenangan paling indah bagi Fandi Wijaya. Masuk ITB sebenarnya bukan cita-citanya sejak awal, melainkan keinginan sang ayah yang sejak kecil mendorongnya agar kelak bisa mengikuti jejak B.J. Habibie.

Setelah lulus SMA, ia memberanikan diri kuliah di Bandung di tengah kondisi keluarga yang sedang
mengalami krisis keuangan.

Ayahnya pensiun dini dari PT Keramika Indonesia Asosiasi, sementara ibunya juga pensiun dari PT Timah. Kondisi tersebut membuat masa awal kuliahnya penuh tantangan. Sejak SMP, Fandi sudah gemar berorganisasi dan kebiasaan itu berlanjut saat kuliah.

Ia aktif di Himpunan Mahasiswa Geodesi dan Keluarga Mahasiswa ITB. Melalui organisasi mahasiswa, ia banyak mengenal orang dan membangun relasi yang menurutnya menjadi salah satu
modal terbesar bagi alumni ITB.

Masa studinya juga bertepatan dengan tahun 1998, saat munculnya Gerakan Reformasi. Konsentrasinya terbagi antara menyelesaikan kuliah dan memberikan sumbangsih bagi kampus serta negara.

“Saya kuliah di ITB itu benarbenar tanpa biaya. Harus tidur di kampus karena tidak ada biaya untuk kos. Itu yang membuat saya menjadi aktivis agar bisa tinggal di kampus,” katanya.

Langkah Awal
Setelah lulus dari ITB, Fandi Wijaya merantau ke Jakarta. Karena tidak memiliki uang, ia tidur di sekretariat Ikatan Alumni ITB.

Di tempat itulah ia bertemu Cacuk Sudarijanto, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) pada tahun 2000 sekaligus Ketua Ikatan Alumni ITB sejak 1997.

Cacuk kemudian memintanya bergabung dengan BPPN untuk mengelola aset-aset properti. Dari sana, ia banyak belajar mengenai dunia properti di Indonesia.

Setelah BPPN dibubarkan, ia membentuk PT Aset Manajemen Indonesia (AMI). Melalui perusahaan tersebut, ia membeli sekitar 3.300 aset properti untuk kemudian dikelola.

Hingga tahun 2009, seluruh aset tersebut telah terkelola. Setelah itu, ia mendirikan usaha baru, PT
Jagat Shipping Transport, untuk mengelola dua kapal tanker yang digunakan Pertamina.

“Saya banyak dapat kemudahan untuk berbisnis. Banyak belajar dari para senior, sampai akhirnya saya jadi pengusaha kapal tanker,” katanya.

Kelola Aset BUMN
Pada tahun 2016, Fandi Wijaya diajak bergabung ke PT Pupuk Indonesia yang saat itu baru terbentuk sebagai holding.

Ia diminta membantu mengelola asetaset properti Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Tawaran
tersebut membuatnya kembali merenungkan makna hidup.

Baginya, hidup tidak semata-mata untuk mencari uang, melainkan juga untuk mencari kebahagiaan
melalui peran dan manfaat bagi orang lain.

Kesempatan itu dimanfaatkan untuk berbagi ilmu dan pengalaman. Menurutnya, silaturahmi selalu
melahirkan peluang.

Tugas berikutnya adalah mengubah peluang tersebut menjadi nilai ekonomi, dan ia merasatelah menemukan rumusnya.

Di PT Pupuk Indonesia, dibentuk Departemen Aset, dan Fandi menjadi salah satu pihak yang merintis sistem pengelolaannya.

Sistem Informasi Manajemen Aset (SIMA) yang digagasnya masih digunakan hingga kini. Pada tahun 2019, ia kembali mendapat kepercayaan untuk membantu dan membesarkan PT Graha Sarana Duta atau Telkom Property sebagai Direktur Perencanaan.

Ia harus berpikir keras agar BUMN tersebut tetap tumbuh. Langkah awalnya dimulai dengan
menelaah laporan keuangan dan bisnis inti perusahaan yang selama ini masih bergantung pada
penugasan dari induk.

Menurutnya, agar mampu bertahan dan berkembang di industri properti, Telkom Property harus membangun kompetensi sebagai profesional  di bidangnya, tidak hanya mengandalkan induk usaha, serta mampu menciptakan nilai (creating value) guna meraih keunggulan kompetitif.

“Ibarat berburu di kebun binatang atau mancing di kolam pancingan, ikannya sudah tersedia. Saya berusaha mengajak memancing di laut lepas, ikannya jauh lebih banyak dan besar,” katanya.

Aset Telekomunikasi
Fandi Wijaya menjabat sebagai Direktur Pengelolaan Aset Mitratel sejak tahun 2025. Dalam peran tersebut, ia bertanggung jawab mengelola portofolio aset infrastruktur telekomunikasi perusahaan, yang dikenal sebagai salah satu penyedia menara telekomunikasi terbesar di Indonesia dan berperan penting dalam mendukung konektivitas nasional.

Menurutnya, pengelolaan aset tidak hanya berkaitan dengankeberadaan fisik menara, tetapi juga memastikan setiap aset mampu memberikan nilai tambah jangka panjang bagi perusahaan.

Aset yang terkelola dengan baik akan memperkuat posisi Mitratel sekaligus menjawab kebutuhan jaringan telekomunikasi yang semakin andal di tengah percepatan digitalisasi.

Budaya Inovasi
Saat ini, akses internet telah menjadi kebutuhan yang sangat penting bagi masyarakat. Untuk
menjawab kebutuhan tersebut, Mitratel terus menghadirkan berbagai inovasi berbasis pemanfaatan aset infrastruktur telekomunikasi yang dimiliki.

Hasilnya, Mitratel meraih penghargaan dalam ajang IDX Channel Anugerah Inovasi Indonesia (ICAII) 2025 yang digelar di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 10 Oktober 2025.

Penghargaan ini diberikan atas inovasinya dalam menghadirkan solusi Fixed Wireless Access (FWA) melalui pemanfaatan aset infrastruktur untuk mendukung akses internet rumah, khususnya
di daerah yang belum terjangkau jaringan fiber.

Mitratel menggunakan frekuensi 2,4 GHz dan 5,8 GHz dalam mengimplementasikan FWA, sesuai
dengan regulasi yang ditetapkan pemerintah melalui Peraturan Menteri Komdigi Nomor 2 Tahun
2025.

Fandi Wijaya menyatakan, penghargaan tersebut menjadi bukti atas konsistensi Mitratel dalam menghadirkan inovasi yang tidak hanya relevan dengan kebutuhan industri, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi perkembangan sektor telekomunikasi nasional.

“Lebih dari sekadar prestasi, apresiasi ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus memperkuat
budaya inovasi dan berkontribusi terhadap transformasi digital Indonesia,” ujarnya.

Ketika Kuliah di ITB Dapat Tiga Beasiswa

Mengenang masa kuliahnya, Fandi Wijaya bersyukur karena memperoleh tiga beasiswa. Beasiswa tersebut digunakan untuk membayar biaya kuliah, membeli buku, dan membayar kos. Namun karena tidur di kampus, biaya kos itu dimanfaatkan untuk kebutuhan makan sehari-hari.

Karena tinggal di kampus, ia juga mendapat kepercayaan dari pemilik kantin untuk membantu menjaga keamanan.

Maklum, sebagian besar mahasiswa ITB adalah laki-laki dan kerap terjadi perkelahian. Ia diminta
berjaga agar tidak terjadi keributan.

Sebagai imbalannya, ia dapat makan secara gratis. Fandi merasakan pengalaman yang sangat berharga dari kehidupan kampus.

Bukan hanya ilmu di bangku kuliah, tetapi juga pembelajaran di luar kelas yang membentuk kepemimpinan. Melalui organisasi kampus, ia belajar berempati, membantu orang lain, serta mengakomodasi berbagai kepentingan.

Kemampuan lobi dan negosiasi pun tumbuh secara alami melalui aktivitas organisasi mahasiswa. Ia mengajak mahasiswa untuk tetap fokus menyelesaikan kuliah, namun juga memanfaatkan masa
studi dengan aktif berorganisasi.

Meski aktif di organisasi, ia tetap mampu menyelesaikan studi dengan cepat. Fandi berharap mahasiswa tidak menghabiskan waktu hanya untuk nongkrong setelah kuliah.

Menurutnya, keterlibatan dalam organisasi mahasiswa jauh lebih bermanfaat karena dapat memperluas jejaring dan pengalaman.

“Senantiasa memegang teguh jati diri ITB sebagai kampus kerakyatan. Menjaga amanah, berjiwa mengabdi, meningkatkan kompetensi, berintegritas, dan tetap rendah hati,” tambahnya.

Artikel Terkait

Scroll to Top