Bambang Sadono menyerahkan buku “Saya Berkarya, Karena itu Saya Ada” kepada wartawan senior Bagas Pratomo.

BS yang Sering Disalahpahami – Oleh Bagas Pratomo

Share

Bergabung di Redaksi Suara Merdeka Kaligawe dalam usia muda pada tahun 1988, saya langsung berinteraksi dengan sosok-sosok penting redaksi pada waktu itu. Ada Pak Sutrisna sebagai pemimpin Redaksi, kemudian dua wakilnya yakni Bambang Sadono (BS) dan Sasongko Tedjo (Ssk). Lalu ada Pak Soesiswo, Hendro Basuki, Amir Machmud, Adi Ekopriyono, Addy Susilo Budi, dan lain-lain.

Saya bisa langsung akrab dengan Sasongko Tedjo dan Hendro Basuki dikarenakan memang jenis pekerjaan yang berkaitan dengan berita-berita ekonomi. Sedangkan dengan Amir Machmud dan Adi Ekopriyono karena duduk berdekatan, dan dalam alur kerja berhubungan langsung dengan mereka berdua. Dengan mereka berempat, guyonan lebih terasa nyambung.

Dengan BS, saya yang masih muda waktu itu, memang tidak bisa mendekat dengan nyaman. Dalam pandangan saya waktu itu BS ini sosok yang kaku dan sangat menjaga pendapat. Kalau guyon juga terasa garing.

Dalam pekerjaan, karena mungkin sifat disiplin, dia seperti tidak memberikan ruang untuk kompromi. Baginya tidak ada yang tidak bisa dikerjakan. Tanpa excuse sama sekali.

Dalam buku 69 Tahun Bambang Sadono “Saya Berkarya Karena Itu Saya Ada”, Adi Ekopriyono menuliskan sosok BS pada waktu itu, yang mungkin sesuai yang saya rasakan ketika masih muda.

Menurut Adi, BS tidak datang membawa kehangatan. Tidak pula menawarkan kedekatan yang mudah. BS hadir seperti sebuah keputusan yang harus diambil : tegas, singkat, dan tak harus selalu menyenangkan.

Adi meneruskan, kata-katanya nyaris tanpa ruang tawar, seolah kebenaran memang tidak memerlukan penjelasan. Pada bagian lain dituliskan, BS seperti
batu karang di tengah arus; keras dan tak jarang disalahpahami. Ombak datang silih berganti; kritik, perubahan zaman, kelelahan manusia, tetapi ia memilih tetap di tempatnya.

Tidak bergerak demi kenyamanan. Tidak melunak demi diterima. Keteguhan itu, pada masanya, terasa menekan. 

Menekan dan Disalahpahami

Ada dua kata yang hendak saya garis bawahi, yakni kata “menekan” dan “disalahpahami”. Pada kata menekan, mungkin itulah yang saya rasakan ketika berinteraksi dengan BS di keredaksian Suara Merdeka saat itu, meskipun saya tidak ada yang di-nothing to lose-kan. Dan mungkin juga bukan saya saja yang merasakannya.

Tulisan Budayawan Darmanto Yatman (alm) di buku ini bisa menggambarkan situasi tersebut. Darmanto menulis, ketika seseorang yang merasa terancam posisinya oleh Bambang Sadono “konsultasi” sama  saya, saya bilang: “Kalau Bambang benar seperti itu, jangan melakukan apa-apa. Ia akan jatuh oleh pokal-nya sendiri! “.

Darmanto melanjutkan, tentu saja orang itu (yang konsultasi sama saya itu) tidak cuma satu, you know, merasa saya benar sehingga ketika Bambang diangkatkan ke Jakarta, dia merasa lebih lega.

Nah untuk kata disalahpahami, itu baru saya sadari ketika saya semakin berumur, semakin bertambah pengalaman jurnalistik, dan juga bertambah pengetahuan tentang manajerial persuratkabaran. Saya semakin memahami juga mengapa BS memiliki sikap dan sifat seperti ditulis oleh Adi Ekopriyono itu.

Dan ketika memahami itu, maka rasa tertekan dalam hubungan sebagai teman dan kini sebagai kolega kerja, menjadi semakin hilang. Saya jadi bisa melihat diri BS dari sisi pandang lain dari sebelumnya yang penuh dengan salah paham. Atau mungkin juga BS yang sekarang ini semakin humanis.

Di Jakarta

Setelah mengundurkan diri dari Suara Merdeka dan kemudian berkiprah di Jakarta, BS memang seperti menemukan panggungnya yang pas untuk berkiprah dan berkarya.

Darmanto Yatman menuliskan, mungkin memang Jakartalah habitat bagi Bambang yang cerdas, kerja keras, dan bersemangatkan “second to none”, karena Jakarta memang lebih berbudaya “impersonal”.

Persaingan itu wajar. Kalah menang itu biasa. Bambang pasti lebih berkembang di sana karena lebih bisa menerima ambisi sebagai sesuatu yang wajar. Jika menilik tulisannya nampaknya berbarengan dengan saat-saat awal BS menapakkan kaki di Jakarta. Dan ternyata perkiraan Darmanto memang tepat.

BS sukses di bidang politik dan juga di dunia jurnalistik. Ia menjadi anggota DPR di tahun 1997, sempat balik ke Semarang menjadi Ketua Partai Golkar dan Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah. Ia kemudian ke Jakarta lagi sebagai anggota DPD RI. Di dunia jurnalistik juga tetap berlanjut, menjadi Sekjen Pengurus Pusat PWI dan juga Pemimpin Redaksi Harian Suara Karya.

Bicara dan Menulis

Semua itu diraih tentu karena kapasitasnya yang mumpuni. Mantan Menko Polhukam Mahfud MD menyebut BS adalah salah satu dari sedikit orang-orang yang “fashihul kalam” (pandai berbicara) dan “fashihul qalam” (pandai menulis).

BS dinilai Mahfud mempunyai kemampuan seimbang dalam menulis dan berbicara di podium secara baik. Kesimpulan itu bisa dilihat sekurang-kurangnya dari  dua hal. “Pertama sejarah perjalanan hidup BS yang merambah berbagai bidang dengan produktif dan baik. 

Kedua, kesan saya sendiri selama berkawan dengan BS. Perjalanan hidupnya menunjukkan kecakapan tingkat tinggi dalam kedua hal tersebut”, tulis Mahfud.

Mantan Menteri Pertahanan dan juga Mantan Menteri Kehakiman itu menjelaskan, banyak anggota parlemen yang tidak pandai berbicara. Di ruang sidang mereka hanya diam melongo, atau tidur menikmati sejuknya AC.

Atau bermain hape (termasuk melihat gambar porno), yang kalau bicara hanya menyangkut hal yang remeh-temeh, misal “tolong AC suhunya dinaikkan, ini terlalu dingin”, “ tolong volume suara diatur, ini mendengung-dengung” atau “interupsi, sidang harap diskors dahulu, ini waktunya makan siang”.

Menurut Mahfud, banyak anggota parlemen atau lembaga perwakilan yang hanya omong seperti itu, tak tahu apa yang harus diperjuangkan dan diomongkannya sebagai wakil rakyat.

BS dinilainya termasuk pandai berbicara dan memilih isu yang relevan dengan perkembangan masyarakat. Dalam hal ini BS adalah “fashihul kalam”. Dalam hal menulis pun BS tergolong “ fashihul qalam” karena lihai memainkan pena sehingga melahirkan tulisan-tulisan yang bisa dicerna dengan baik.

Kemampuan menulis dengan baik ini dibuktikan oleh fakta bahwa perjalanan hidupnya banyak berkecimpung di dunia pers. Mahfud menunjuk keterlibatan BS di Suara Merdeka dan juga Harian Suara Karya.

Dalam berbicara dan menulis, BS dinilainya tidak pernah meledak-ledak seperti banyak politikus lain. Ekspresinya cenderung kalem, santun, sangat berhati- hati tetapi bernas, mendalam, dan substantif.

Cara ekspresi seperti ini, menurut Mahfud, tentu sangat dipengaruhi oleh predikat BS yang lain, yaitu sebagai akademisi. BS sukses menempuh pendidikan sampai mencapai gelar akademik tertinggi, yaitu doktor dari Universitas Diponegoro. Selain juga pernah aktif mengajar di Universitas Semarang.

Lingkungan akademik yang terus digelutinya ini telah menuntunnya untuk selalu berhati-hati, berpikir logis dan sistematis, tidak menggebu-gebu, dan selalu terbuka terhadap perbedaan.

Kiprah dan karya BS, baik di dunia politik maupun pers, juga diakui oleh Mantan Rektor Undip dan juga Mantan Menteri Kehakiman Muladi (alm) dan juga oleh Mantan Menaker yang juga Mantan Anggota DPR RI Theo L Sambuaga.

Muladi menyebut BS aktif membahas Undang- Undang tentang Pers yang akhirnya menjadi Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999. Sementara Theo melihat BS memainkan peran penting dalam Sidang Umum dan Sidang Istimewa MPR RI 1998-2002, yang berhasil melahirkan dasar-dasar Reformasi, termasuk penyusunan GBHN versi Reformasi, dan melakukan Perubahan UUD NRI Tahun 1945.

Isi Buku

Buku ini disusun berdasarkan episode waktu, saat BS lahir di Blora hingga tamat SMA. Lalu periode di Tegal saat bekerja di Dinas Pekerjaan Umum, berlatih menjadi penulis serta mempersiapkan diri menjadi wartawan. Kemudian periode di Semarang saat kuliah, bekerja, berkeluarga, dan menetap.

Periode selanjutnya di Jakarta ketika BS menjadi anggota DPR RI, Sekjen Pengurus Pusat PWI dan Pemimpin Redaksi Harian Suara Karya. Kemudian balik lagi ke Semarang, menjadi Ketua Partai Golkar dan Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah. Kembali ke Jakarta lagi, sebagai anggota DPD RI.

Sejak tahun 2020 BS kembali ke Semarang, kemudian berkonsentrasi penuh pada kegiatan podcast, penerbitan buku dan majalah.

Bagi saya pribadi, buku ini memberikan perspektif tentang BS yang lebih luas. Menjawab kesalahpahaman tentang sosok BS yang saya rasakan waktu muda dulu. Entah karena saya mulai memahami sikap dan etosnya, atau BS sendiri yang lebih humanis sekarang. Atau kedua-duanya.

Terakhir saya kutip tulisan Hasya Aghnia Adjidarein, cucu kedua BS yang biasa menyebut eyang kakung-nya itu Papah. Saya kutip karena remaja biasanya lebih jujur daripada kita orang dewasa. Selain itu tulisannya juga lucu.

“Semua orang yang ketemu Papah pasti tahu kalau Papah sangat senang memberi nasehat selain memberi sangu atau uang. Jadi cucunya Papah berarti harus selalu siap mendengarkan nasihatnya yang bak kasih ibu, tiada terhingga. Sepertinya, antara sangu sama nasehat sama banyaknya”. 

Artikel Terkait

Scroll to Top