Kariernya di industri asuransi merupakan proses yang terbangun secara bertahap dari sisi teknis hingga kepemimpinan strategis.
Ia memulai dari fungsi underwriting dan teknik di Asuransi Umum Bumiputera Muda (Bumida),
kemudian Asuransi Jasa Tania (Jastan), yang memberikan pemahaman fundamental mengenai risk selection, pricing, dan sustainability portofolio.
Kemudian ia mendapatkan kesempatan untuk mengelola fungsi yang lebih luas, baik operasional,
advisory, hingga kepemimpinan di perusahaan asuransi dan reasuransi nasional seperti Asuransi Sarana Lindung Upaya (SLU) dan Asuransi Binagriya Upakara (Binagriya).
Pengalaman sebagai Direktur Utama di PT Reasuransi Nasional Indonesia menjadi titik penting karena di sanalah melihat industri secara sistemik.
Ia juga aktif di Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) dan Dewan Asuransi Indonesia (DAI), yang memberikan pemahaman terhadap perspektif kebijakan dan koordinasi industri.
Fase Konsolidasi
Mengenai industri asuransi, Achmad Sudiyar berpendapat, industri asuransi Indonesia saat ini berada dalam fase konsolidasi dan transformasi, dimana proses rebalancing antara pertumbuhan dan penguatan fundamental sedang berproses.
Dalam beberapa tahun terakhir pertumbuhan premi masih relatif moderat, namun terdapat peningkatan kesadaran risiko, terutama pasca pandemi dan dinamika global.
Di sisi lain juga ada tekanan klaim yang tinggi di beberapa lini, dinamika suku bunga, disrupsi digital serta meningkatnya risiko global.
Namun demikian ia melihat prospek industri ke depan tetap positif, yang didorong oleh pertumbuhan ekonomi domestik yang stabil, peningkatan aktivitas perdagangan dan investasi, serta
kebutuhan proteksi yang semakin kompleks.
Secara struktural, tambahnya, prospek industri tetap sangat menjanjikan. Setidaknya ada tiga pendorong utama, yakni underserved market dimana penetrasi asuransi Indonesia masih relatif rendah dibandingkan negara peers (negara yang setara), sehingga ruang ekspansi masih besar.
“Ke depan, industri akan bergerak dari sekadar growth berbasis volume menjadi quality growth, di mana profitabilitas, manajemen risiko, dan capital efficiency menjadi faktor utama”, katanya.
Tantangan Industri
Menurut Achmad Sudiyar, ada beberapa hal yang masih menjadi pekerjaan rumah industri asuransi,
di antaranya adalah tantangan penetrasi pasar.
Penetrasi asuransi yang masih rendah bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga struktural dan behavioral. Ada beberapa tantangan utama, yakni literasi keuangan yang terbatas, persepsi negatif
terhadap asuransi, dan produk yang belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Solusinya membutuhkan pendekatan holistik, yakni dengan cara edukasi publik yang masif, inovasi produk yang lebih sederhana dan relevan serta pemanfaatan digital distribution.
Soal penetrasi pasar asuransi ini ia berpendapat perlunya merancang dengan baik program penjaminan polis. Program ini memiliki potensi strategis dalam memperkuat kepercayaan publik
terhadap industri asuransi.
Jika dirancang dengan baik, program ini dapat menjadi game changer bagi industri asuransi. Hal lain adalah implementasi New Risk Based Capital (RBC) oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Menurut dia, ini memang merupakan langkah maju menuju risk-based supervision yang lebih
komprehensif, juga merupakan langkah strategis untuk membawa industri asuransi Indonesia menuju standar internasional yang lebih tinggi.
Perubahan Paradigma
Dalam pandangannya, pendekatan bertahap yang direncanakan OJK sudah tepat untuk meminimalisasi kejutan terhadap industri, mengingat kesiapan industri tidak homogen.
New RBC ini bukan sekadar perubahan formula, tetapi perubahan paradigma menuju risksensitive
capital framework. Perusahaan besar relatif lebih siap dari sisi infrastruktur data, kapasitas aktuaria, dan sistem manajemen risiko.
Sementara itu, perusahaan skala menengah dan kecil membutuhkan waktu dan dukungan untuk beradaptasi. Dalam penerapan RBC ini ia melihat masih ada beberapa tantangan utama, antara lain
kesenjangan kapasitas antar perusahaan, ketersediaan data historis yang memadai, dan kompleksitas model risiko.
Untuk itu, hal yang perlu diperhatikan dalam implementasi RBC ke depan meliputi capital strain yakni peningkatan kebutuhan modal, terutama untuk risiko-risiko tertentu.
Kemudian data quality dan availability, karena model RBC sangat bergantung pada data yang kuat. Selain itu juga perlu memperhatikan technical capability, yakni kebutuhan akan aktuaria dan risk specialist yang kompeten.
“Selain itu, ada tantangan dalam memastikan bahwa implementasi RBC tidak menciptakan procyclicality, yaitu memperburuk kondisi saat siklus ekonomi melemah”, tutur alumnus S2 di
Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.
Hadapi Risiko Global Berharap Peran OJK
Achmad Sudiyar berpendapat, industri asuransi saat ini berada dalam lingkungan risiko yang semakin kompleks, mulai dari konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, hingga volatilitas pasar keuangan. Ini adalah ukuran statistik seberapa besar dan cepat fluktuasi harga suatu aset atau pasar pada periode tertentu.
Dalam konteks ini, kebijakan OJK perlu mengedepankan macroprudential awareness. Selain itu juga
mendorong perusahaan melakukan stress testing berbasis skenario ekstrem.
Terakhir memberikan fleksibilitas kebijakan dalam kondisi extraordinary. Untuk lini seperti marine
cargo dan trade credit insurance, dinamika global sangat langsung berdampak terhadap underwriting
risk.
Oleh karena itu penguatan aspek market conduct merupakan langkah yang sangat positif dalam jangka panjang. Industri tidak bisa tumbuh tanpa trust. Memang hal itu, menurutnya, akan memberikan dampak terhadap perusahaan.
Akan ada peningkatan standar transparansi dan disclosure, penyesuaian proses bisnis dan distribusi, serta kenaikan biaya kepatuhan (compliance cost).
“Namun demikian, ini harus dilihat sebagai investment in trust, bukan sekadar beban regulasi”, jelasnya.
Harapan ke OJK
Achmad Sudiyar, yang saat ini sedang menyelesaikan S3 di Universitas Brawijaya. berharap, pergantian kepemimpinan di OJK harus dilihat sebagai momentum untuk memperkuat arah transformasi sektor jasa keuangan.
Industri asuransi berharap kepemimpinan baru OJK dapat menjaga keseimbangan antara prudential regulation dan market development, mendorong inovasi tanpa mengorbankan stabilitas, dan
memperkuat koordinasi lintas sektor.
Konsistensi kebijakan OJK yang sekarang dipimpin oleh Friderica Widyasari Dewi akan menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan pelaku industri.
“OJK ke depan diharapkan tidak hanya berperan sebagai regulator, tetapi juga sebagai enabler pertumbuhan industri”, ucapnya.
Momentum Pertumbuhan
Dijelaskannya juga, target pertumbuhan aset 5–7 persen pada 2026 merupakan target yang realistis, namun membutuhkan orkestrasi kebijakan yang tepat.
Oleh karena itu peran OJK menjadi krusial dalam menjaga stabilitas sistemik, terutama melalui
penguatan risk-based supervision.
Kemudian OJK juga perlu mendorong konsolidasi industri, untuk menciptakan pemain yang lebih kuat secara permodalan.
Juga memberikan stimulus kebijakan, khususnya pada sektor-sektor produktif seperti ekspor, maritim, dan infrastruktur Pendekatan yang terlalu ketat berpotensi menahan pertumbuhan,
sementara pendekatan yang terlalu longgar berisiko terhadap stabilitas.
Di sinilah pentingnya calibrated regulation. Pemanfaatan teknologi seperti AI oleh OJK akan meningkatkan efektivitas pengawasan.
Bagi industri, hal ini akan mendorong peningkatan kualitas data dan tata kelola perusahaan yang lebih transparan.
“Dengan pendekatan tersebut, industri asuransi Indonesia tidak hanya akan tumbuh secara domestik, tetapi juga memiliki daya saing di tingkat regional dan global”, ucapnya.










