Sasongko Tedjo (img: beritabanten.com)

The Journalist Never Die They Only Fade Away – Oleh Sasongko Tedjo

Share

Saya mengenal Pak Bambang Sadono (BS) sejak kuliah di kampus Universitas Diponegoro (Undip) meskipun beda fakultas. Saya kuliah di Ekonomi, BS di Fakultas Hukum. Aktivitas di Koran kampus Manunggal membuat namanya banyak dikenal. Sedangkan saya mengelola majalah Edents, Economic Students.

Kemudian tahun 1984 setelah lulus saya pun memutuskan untuk menjadi wartawan di Harian Suara Merdeka, koran terbesar di Jawa Tengah. Rupanya BS sudah lebih dahulu bergabung. Bedanya dia memulai dari menjadi koresponden dan reporter saya langsung masuk ruang redaksi sebagai asisten desk ekonomi. Suara Merdeka ketika itu ingin membuka Halaman Ekonomi jadi tenaga saya dibutuhkan ketika itu. 

Kebetulan tahun 1990 an regenerasi di Suara Merdeka mulai berjalan dan kami berdua sama sama diangkat menjadi wakil pemimpin redaksi. Pemimpin Redaksinya berganti dari Pak Soewarno ke Pak Sutrisna. BS dan saya menjadi Wakil Pemimpin Redaksi (Wapimred).

BS diberi tugas mengurus sumber daya manusia (SDM) wartawan sedangkan saya yang membenahi konten dan manajemen redaksi. Jadilah kami duduk bersebelahan bertahun tahun dan makin mengenal sosok wartawan bernama Bambang Sadono itu. Sebelum akhirnya Bangsad, demikian teman-teman memanggil, mengundurkan diri dari Suara Merdeka karena memilih karier politik menjadi anggota legislatif dan fungsionaris Partai Golkar.

Sosok BS
Seperti apa sosok Bambang Sadono? Begitulah kira kira pertanyaan yang sering dilontarkan. Saya menyebutnya sebagai wartawan plus plus. Profesinya wartawan tapi talentanya bermacam macam. Sebagai wartawan sudah tak diragukan kompetensinya

Relasinya ke mana mana. Dia bisa menulis karya sastra mulai puisi sampai cerita pendek. Dia adalah seorang organisatoris hebat. Mulai dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sampai ke partai politik.

Apa yang masih melekat dalam ingatan?
Bambang Sadono juga dikenal sebagai wartawan yang pintar cari iklan dan uang. Punya usaha penerbitan dan lain lain. Padahal pada waktu itu ajaran etika tentang “pagar api” masih menjadi pegangan wartawan wartawan senior. Jadi hal hal seperti itu masih dianggap tabu. Tapi tidak bagi seorang Bambang Sadono yang memang mempunyai banyak talenta dan serba bisa.

Jadilah dia seorang wartawan yang juga politikus dan pengusaha walaupun masih “kelas wartawan”.

Sosoknya kerap dianggap kontroversial maka wajar kalau tanggapan orang bisa berbeda beda. Namun harus diakui kehebatannya sebagai wartawan plus plus. Mungkin dia juga termasuk wartawan yang pertama kali meraih gelar doktor, saya tidak tahu.

Yang jelas Bambang Sadono yang saya kenal, dan banyak yang mengenal, adalah sosok pribadi yang memiliki perhatian pada lingkungan dan teman teman relatif tinggi. Dalam banyak kesempatan sering menanyakan si anu bagaimana? Sudah jadi apa? Apa yang bisa dibantu? dan seterusnya.

Perhatikan Teman
Ketika saya sudah banyak aktif di Jakarta mengurus organisasi kemanusiaan dan organisasi profesi, dia pun sempat menyentil, kok tidak ingin jadi apa gitu?. Itulah bentuk perhatian dan motivasi. Walaupun saya merasa sudah cukup banyak bisa berbuat sesuatu.

Bagi saya, lebih 45 tahun mengenalnya, memberi kesan persahabatan yang saling mendukung walaupun tak selamanya sejalan dalam pemikiran. Entah berapa kali saya jadi panitia pernikahan anaknya, dan selalu juga dia memenuhi undangan setiap saya punya hajat.

Sepertinya semua merasakan hal yang sama. Terlepas dari segala kelebihan dan kelemahannya. 

Di hari tua prinsip kita sama The Journalist Never Die They Fade away. BS masih terus berkiprah mengelola podcast, menulis, menerbitkan buku dan lain lain. Saya pun masih aktif mengelola media online dan terus berkiprah di bidang kemanusiaan.

Pak Bambang adalah seorang sahabat yang diam diam beberapa “ilmunya” saya praktekkan.*** 

Artikel Terkait