Saat Pak BS menjadi pemimpin redaksi Harian Suara Karya (1999-2004), atas rekomendasinya saya diterima bekerja di surat kabar yang berafiliasi dengan Partai Golkar tersebut dan ditempatkan di bagian iklan.
Selama beliau menjadi anggota DPR RI dan tinggal di perumahan dinas Kalibata, saya diizinkan tinggal bersamanya hampir lima tahun. Pak BS dikenal sangat produktif, bahkan tak kenal waktu.
Seandainya sehari lebih dari 24 jam, mungkin ia akan memanfaatkan waktu tambahan itu untuk bekerja. Gaya kerjanya disiplin, terencana, dan terukur, namun sering kali ide dan keinginannya terlalu maju sehingga stafnya kesulitan mengikuti ritmenya, yang kadang membuat program kurang fokus dan gagal.
Saat memimpin Suara Karya, ia mengubah gaya penyajian yang sebelumnya terkesan konservatif. Meski SK adalah koran milik partai besar, saat ia menjabat kondisi sedang sulit karena melemahnya peran Partai Golkar pasca lengsernya Pak Harto dan meredupnya kekuatan Orde Baru.
Namun, Pak BS berhasil menjaga SK agar tidak semakin terpuruk dan mampu mempertahankan keharmonisan antara bidang redaksi dan bidang usaha sebagai bagian pendukung utama sehingga koran tetap bertahan.
Banyak Media
Salah seorang sahabatnya, SWS Hardjito, yang kini menjabat sebagai salah satu petinggi di BUMN, pernah mengatakan kepada saya bahwa Pak BS sebenarnya orang yang tepat di bidangnya, tetapi berada di tempat yang kurang sesuai pada saat itu.
Sayangnya, ia belum menemukan posisi yang dimaksud Wimbo sebagai tempat yang pas. Banyak media lahir dari idenya, namun berbagai masalah manajerial dan pasar membuat sebagian tidak bertahan lama, seperti majalah Legislatif, Kampus Indonesia, Mimbar Demo, Koran Semarang, dan majalah berbahasa Jawa Parikesit.
Dalam urusan politik, saya sebagai kadernya merasa sulit mengikuti. Saya pernah menjadi Caleg Partai Golkar pada Pileg 2009 dan 2014, dengan persaingan yang sangat berat dari segi pengalaman, penguasaan medan, maupun ketersediaan finansial, apalagi dengan sistem suara terbanyak.
Tampaknya Pak BS menganggap pencalegan saya hanya untuk mencari pengalaman, sehingga tidak pernah memberikan perhatian serius. Kurang dari 10 persen dari nama yang dicalonkan partai berhasil menjadi anggota Dewan.
Meski saya tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, saya cukup kecewa karena tidak merasakan adanya affirmative action darinya.
Saat ada kesempatan kampanye, baik terbuka maupun tertutup, Pak BS tidak pernah menyampaikan kepada publik bahwa ia memiliki kader yang telah lama bekerja bersamanya di Citra Almamater maupun SK untuk didukung dalam Pileg.
Saya tidak tahu alasannya, mungkin karena selain saya, ada banyak kader senior lain yang bisa merasa iri jika saya diperlakukan istimewa. Padahal saat itu pengaruh Pak BS cukup besar, selain karena posisinya yang memiliki kuasa politik di Golkar Jateng.
Sesuai Potensi
Salah satu anak buahnya, seperti saya, pernah mengakui bahwa Pak BS bukan tipe orang yang selalu membela anak buahnya dalam karier jika memang tidak sesuai dengan potensinya.
Mungkin saya dianggap kurang berbakat untuk terjun di dunia politik. Dia cenderung mendorong orang sesuai bidang yang dikuasainya, apalagi risiko di politik terlalu besar untuk berspekulasi. Saya juga pernah menyampaikan pada Pak BS bahwa ada orang yang sepanjang karier politiknya hanya menjadi caleg.
Saya merasa beruntung diberi kesempatan berkarier di bidang periklanan, yang menjadi penopang hidup keluarga kami, termasuk saat bekerja di SK selama 15 tahun.
Belakangan, kondisi SK makin memburuk hingga terancam tutup dan berhenti cetak maupun edar, hal ini juga saya sampaikan kepada beliau. Menurut saya, wajar jika awalnya berharap Pak BS akan memberi perhatian dan respons besar terhadap masalah ini, karena beliau pernah memimpin SK dan memiliki latar psikologis serta kultur yang sama.
Meski tidak lagi berada di struktur partai, beliau pernah cukup dekat dengan Ketum Partai Golkar saat itu. Saya dan beberapa rekan di SK menganggap beliau satu-satunya mantan pemimpin redaksi yang bisa menjadi “juru selamat” SK, entah bagaimana caranya.






