Buku 60 tahun Bambang Sadono

Sekadar Basa-Basi – Oleh Bambang Sadono

Share

Setelah buku yang menandai usia 60 tahun saya, sebenarnya merencanakan untuk menerbitkan buku lagi pada usia 65 tahun. Wawancara sudah dilakukan terutama melalui aplikasi zoom. Karena berbagai hal, buku itu tidak jadi terbit.

Mengapa terbit ketika saya berusia 69 tahun ? Sebagai basa-basi, saya senang angka 69, simetris, dibolak-balik sama. Itulah hidup, senang-susah, sehat-sakit, tertawamenangis, hakekatnya sama saja.

Kenapa tidak membuat buku 70 tahun saja, seperti lazimnya buku biografi. Sebagai mantan wartawan dna penulis, rasanya tidak lengkap kalau tidak menulis biografi sendiri.

Mudah-mudahan masih ada waktu untuk menulis otobiografi, pada usia 70 tahun. Menjadi masalah wawancara dan draft yang sudah disiapkan jika tidak diterbitkan, dan saya ingin menghormati para kolega, sahabat, keluarga yang sudah diwawancara, atau bahkan menulis sendiri.

Buku ini disusun berdasarkan episode waktu. Mulai dari saat saya lahir di Blora, sampai tamat SMA. Kemudian periode pendek ketika saya berada di Tegal bekerja di Dinas Pekerjaan Umum, berlatih jadi penulis, dan mempersiapkan diri sebagai wartawan.

Lanjut periode saya ke Semarang, kuliah, bekerja, berkeluarga, dan menetap. Periode selanjutnya di Jakarta, sejak jadi anggota DPR RI, tahun 1997. Balik periode Semarang, menjadi Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, sampai pensiun.

Untuk melengkapi catatan perjalanan per episode tersebut, maka diambil lagi tulisan sumbangan para tokoh (sebagian sudah almarhum), yang ada di buku terdahulu.

Judul buku ini kelihatan serius, walaupun isinya obrolan dna kenangan ringan-ringan saja. Modifikasi dari ungkapan “saya berpikir maka saya ada” dari filsuf René Descartes, cogito, ergo sum. Berfikir barulah awal, bekerja menjadi proses pelaksanaan pemikiran, hasilnya sebuah karya yang akan jadi kenangan. Sekali lagi, ini sekadar basa-basi saja.

Semarang, Januari 2026

Artikel Terkait