Alm. Imam Budi Wiyono - Dokter Keluarga

Sederhana Penuh Rasa Persaudaraan – Oleh Alm. Imam Budi Wiyono

Share

Kesan pertama yang dapat saya sampaikan adalah rasa bangga mempunyai seorang sahabat sekaliber Bambang Sadono (BS). Seorang yang cukup berhasil dalam meniti karier, baik sebagai wartawan maupun politikus.

Kendati demikian, tetap sederhana dalam penampilan dan penuh rasa persaudaraan. Perkenalan saya dengan BS saat bersama – samabekerja sebagai wartawan harian Suara Merdeka Semarang sekitar 1978 di bawah bimbingan para senior kami saat itu antara lain, Soewarno, S.H. (almarhum), Mochtar Hidayat (almarhum), Drs. Sutrisna (almarhum), Drs. Mas Soeiswo, Dra. Sri Humaini, dan masih banyak senior yang lain.

Waktu itu saya masih kuliah di Fakultas Kedokteran, sementara Pak BS di Fakultas Hukum Undip. Kami seangkatan dengan Drs. Sudadi (S-2), Dra. Susetyowati (5-5), Supriyadi alias Jalidint (S-7), dr. Bimo Bayuaji (S-9), Bambang Sadono (S-10), dan saya sendiri (S-11).

Tulisan dan metode wawancara beliau dengan narasumber waktu itu banyak digunakan sebagi referensi dan panutan oleh rekan-rekan reporter seangkatan saya waktu itu.

Tulisannya yang cukup tajam, inspiratif, segar, dan selalu up to date sangat disukai pembaca. Persahabatan ini masih terus berlanjut pada saat saya menjadi dosen dan lulus sebagai seorang dokter dari Fakultas Kedokteran Undip Semarang sampai menjadi Spesialis Patologi Klinik dan Konsultan Hematologi.

Di samping bekerja sebagai PNS di lingkungan Fakultas Kedokteran Undip Semarang, saya juga bekerja sebagai dokter perusahaan Suara Merdeka yang menangani kesehatan rekan rekan wartawan dan karyawan waktu itu, termasuk BS dan keluarganya.

Sampai BS, tidak lagi bekerja di Suara Merdeka. BS mondar-mandir Semarang-Jakarta, saat jadi anggota DPR RI maupun sebagai anggota DPD RI tetap saja datang ke tempat praktik saya, kalau ada masalah kesehatan. Bahkan, kalau terhalang waktu, biasa kontak telepon atau konsultasi melalui SMS.

Merasa Tersanjung
Saya merasa tersanjung mendapat kepercayaan sebagai dokter pribadinya dan keluarga, bahkan terus berlanjut sampai keluarga putra putrinya. Saya melihat keluarganya amat bahagia didampingi seorang istri yang bijaksana dan putra-putri beliau yang sukses.

Salah seorang putrinya menjadi murid saya di Fakultas Kedokteran Undip dan sudah lulus sebagai seorang dokter. BS juga pernah meminta bantuan kepada saya untuk membantu sebagian dari tugasnya dengan senang hati saya dan teman-teman ikut membantumya. Sambil berpikir akan sangat sayang apabila saya tidak dapat membantu seorang BS yang akan bekerja untuk bangsa dan negara.

Artikel Terkait