la mengampu dua mata kuliah selama dua semester. Semester pertama mengajarkan mata kuliah Kebijakan dan Regulasi media, sedangkan di semester kedua mengajarkan Ekonomi Politik Media.
Saya mengamati, BS adalah seorang akademisi yang profesional, energik, dan produktif. Jarang absen, datang tepat waktu, dan penuh semangat ketika menyampaikan materi.
Kalau berhalangan untuk tepat waktu, ia mengubah jadwal kuliah untuk mengganti. Pernah suatu ketika, jika jam kuliah yang seharusnya dimulai pukul 08.00 WIB, dimajukan menjadi jam 06.00 WIB.
Walaupun mengubah jadwal, ia akan memberi informasi terlebih dahulu kepada mahasiswa, dan menawarkan apakah mahasiswa bersedia untuk jadwalnya berubah.
Dengan kesibukan yang luar biasa karena menjalani berbagai jabatan publik dan kemasyarakatan, namun tetap meluangkan waktu untuk menulis dan menuangkan gagasannya di media massa dengan produktif, serta membagikan pengalamannya kepada mahasiswa yang diajar. Hal itu terlihat melalui ucapan, pikiran, dan perbuatannya.
Semua itu terlihat saat beberapa kali bertemu tatap muka, baik ketika sedang mengajar di kampus maupun ketika saya sedang bertandang ke rumah pribadinya, atau di tempat kerjanya.
Sikap ramah dan humanis selalu beliau tampakkan. BS sebenarnya orangnya humoris, bagi yang bisa menangkap. Datang dengan gaya seperti selalu siap untuk ngobrol, selalu mempunyai cerita dan ada saja idenya yang inovatif, apalagi terkait media massa.
Juga ide yang bagi orang lain sering dianggap sepele, akan ia kemukakan dengan kalimat-kalimat serius, sehingga membuatnya penting. Tetap saja penyampaiannya mudah dicerna dan dimengerti.
Bisa jadi karena kebiasaannya yang mudah membaur dengan siapa saja, dengan keluasan ruang geraknya, dan banyak komunitas yangdia masuki.
BS sebenarnya orangnya humoris, bagi yang bisa menangkap. Datang dengan gaya seperti selalu siap untuk ngobrol, selalu mempunyai cerita dan ada saja idenya yang inovatif, apalagi terkait media massa. Juga ide yang bagi orang lain sering dianggap sepele, akan ia kemukakan dengan kalimat-kalimat serius, sehingga membuatnya penting.
Penuh Syukur
Selain sebagai pengajar di Undip maupun di perguruan tinggi lain, juga praktisi media massa, dan sekaligus seorang politisi. Bahkan tak jarang orang yang mengenalnya dengan seniman.
Karena berbagai latar belakangnya tersebut, berbagai posisi strategis sempat diembannya. la menjadi ketua PWI Jawa Tengah (1992-1998), Sekjen PWI Pusat (1998-2003), Wakil Pemimpin Redaksi Suara Merdeka (1987-1997), Pemimpin Redaksi Suara Karya (1999-2004), Wakil Ketua DPRD Jateng (2009-2014), Anggota DPR RI (1997-2009), dan kini menduduki jabatan sebagai Anggota DPD RI (2014-2019).
Saya menangkap BS orang yang penuh semangat dan ada rasa syukur dalam menjalani hidup. Di mana pun berada berusaha bermakna secara maksimal. Sebagai tokoh di bidang pers, saat menjadi anggota DPR RI, aktif dalam Pansus UU 40/1999 tentang Pers dan UU 32/2002 tentang Penyiaran.
Kiprahnya dalam melahirkan UU Pers yang sangat demokratis itu terekam dalam buku yang disusun oleh Christiana Chelsia Chan. (2007). Memorie van Toelichting, UU 40/1999, 15 Hari Perjuangan untuk Kemerdekaan Pers. Bahkan untuk UU Penyiaran selain anggota Pansus, ia juga merupakan salah satu pengusul awalnya, karena UU ini merupakan salah satu dari sedikit RUU inisiatif DPR saat itu.
Di ranah akademik, di bidang keilmuan yang ditekuninya, prestasi pak BS juga sangat menonjol. Gelar Doktor Ilmu Hukum di almamaternya di Undip Semarang tahun 2009 dengan disertasi “Politisasi Hukum Penyiaran”. Begitu pula dengan gelar S1 di tahun 1983, serta S2-nya juga di tempuh di perguruan yang sama, dengan tesis “Penyelesaian Delik Pers Secara Politis”. Selain mengajar di Undip, ia adalah dosen tetap di Program Magister Hukum Universitas Semarang (2010-sekarang).
BS adalah sosok seorang guru yang mendidik dan membangun karakter peserta didik untuk terus maju. la suka membagi pengalaman dan ilmunya kepada siapa pun, termasuk saya. Contohnya, ketika saya sedang mengerjakan tesis, yaitu karya ilmiah sebagai persyaratan wajib untuk mencapai gelar magister.
Judul tesis saya waktu itu “Struktur Dominasi Media Pada Independensi Wartawan”. Saya mencoba minta bantuan untuk menjadi pembimbing sekunder, langsung menyanggupi permintaan saya.
Padahal waktu itu sangat sibuk dengan padatnya agenda sebagai Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah 2009-2014, di samping mengajar di berbagai universitas.
Lewat tangannya saya mendapat banyak pencerahan dan motivasi menulis. Tidak hanya sekedar memberikan motivasi, juga meminjamkan beberapa buku yang terkait dengan tesis saya untuk difoto copy.
Tanpa saya meminta judul bukunya, dia sendiri yang menyodorkan kepada saya. Ketika sedang membaca surat kabar, dan di dalamnya ada opini atau artikel yang berhubungan dengan tema tesis saya, tanpa sungkan menghubungi saya untuk membaca artikel yang dimaksud. Bahkan ketika di kantor DPRD Jateng pun, saya diberi kesempatan beberapa kali untuk berkonsultasi.
Disiplin Waktu
Pernah suatu ketika saya ingin berkonsultasi, karena jadwal beliau yang begitu padat, dan memberi janji untuk ditemui di ruang kerjanya di DPRD Jateng.
Saat tiba di kantornya sesuai waktu yang disepakati, ternyata ada banyak tamu yang ingin bertemu. Lalu, saya kontak beliau mengingatkan jadwal konsultasi sesuai waktu yang sudah dijanjikan, melewati tamu- tamu yang lain.
BS menjelaskan tamu-tamu yang lain tersebut tanpa janji sebelumnya, hanya berspekulasi saja untuk bisa bertemu. Saya menyimpulkan BS orangnya berani mengambil risiko, lebih tepatnya pengambil risiko, walaupun bukan dengan modal nekat.
Berani berpikir, berani mencoba dan menerima risiko, juga berani berbeda. Sebab, ada perbedaan antara nekat dengan mengambil risiko. Nekat cenderung tanpa pengetahuan dan perhitungan. Sedangkan mengambil risiko juga bermakna bahwa kita sadar bahwa ada kemungkinan kita akan gagal. Semua harus dihitung dengan baik.
Ketika keluar meninggalkan jabatannya sebagai wakil pemimpin redaksi Suara Merdeka Semarang, usianya 40 tahun, saat harus menjadi anggota DPR RI pada tahun 1997. Tahun 2004 mundur dari jabatan pemimpin redaksi Suara Karya dan salah seorang ketua di kepengurusan PWI pusat karena terpilih sebagai Ketua Partai Golkar Jawa Tengah.
Tahun 2014, meninggalkan pencalonan dari partai politik, memilih berkompetisi secara pribadi dalam pemilihan anggota DPD RI. Sebagai sosok yang energik, dan bermodalkan berbagai gagasan cemerlang, BS membangun dan mengembangkan pemikiran-pemikiran kreatif dan produktif.
Tidak heran kalau di MPR RI ia memimpin Badan Pengkajian yang sehari hari mengkaji dan mendiskusikan masalah strategis sebagaijantungnya negara, yaitu konstitusi.
Semangat jurnalistiknya tidak pernah hilang, berbagai pemikiran terhadap dinamika wacana penyempurnaan konstitusi itu juga dikomunikasikan secara tertulis di media massa.
la konsisten, ketika mengatakan seorang akademisi yang baik harus bisa berkomunikasi secara verbal maupun tertulis. Pak BS, selamat memasuki usia ke-69 tahun.
Bapak termasuk orang yang memberi harapan kepada kami karena menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mempunyai orang orangdengan kualitas intelektual, humanis, progresif, untuk menangani tantangan masa depan.






