Bambang Sadono menghadiri pentas HUT Ngesti Pandhowo ke 88, Semarang 26 Juli 2025.

Pernah Memborong Tiket Ngesti Pandhowo – Oleh Drs. St. Sukirno, MS.

Share

Tokoh teaterawan senior, yang pernah menjadi Rektor Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang, Drs. St. Sukirno, MS menyebut perkenalannya dengan Bambang Sadono (BS) karena kegiatan teater. Ia aktif, termasuk sebagai aktor di banyak pentas, BS aktif meliput dan menulis untuk harian Suara Merdeka.

Bung Kirno, demikian ia sering dipanggil, sebenarnya mulai berteater sejak di Yogya, saat kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM). Tahun 1973 mendirikan Teater Gajahmada. Di kampung halamannya, Bantul mendirikan Teater Nurani. Tahun 1974 mendirikan Teater Cemara Muda, di Gereja Ganjuran.

Saking banyaknya waktu yang dicurahkan untuk teater, konsentrasi belajar agak terabaikan. Kirno meninggalkan UGM, dengan gelar sarjana muda, kemudian melanjutkan kuliah di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, mulai tahun 1976 lulus tahun 1981.

“Di Undip itulah saya mengenal Mas Bambang Sadono. Saya kuliah di Fisipol, dia di Fakultas Hukum,” katanya. 

Kirno berkegiatan teater di kampus Undip bersama Darmanto Jatman, Waluyo Hadi Darmanto Marnadi, Krisnubadi, Rosa Widyawan dan yang lain. Antara lain mendirikan Kelas Teater. Setiap ada pementasan teater di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Undip selalu dimuat di Harian Suara Merdeka, oleh BS. Ternyata dia tidak hanya menulis kegiatan teater saja. Hampir semua peristiwa maupun acara di Undip selalu ditulis.

“Saya sejak itu sudah mengamati bahwa Mas Bambang Sadono wartawan yang tekun dan ulet”, tuturnya. 

Aktif Berkesenian

BS ternyata tidak hanya aktif menulis, juga menggerakkan kegiatan seni. Bahkan sempat menggelar acara Panggung Keluarga Penulis Semarang (KPS), setiap bulan di Gedung Pemuda. Acaranya bersalang-seling, pembacaan puisi, pentas teater, musik, dan sebagainya. Semua pementasan itu selalu dimuat di suplemen Suara Merdeka, Minggu ini. BS juga menjadi redaktur Sastra Budaya di situ.

“Tulisannya objektif, selain memaparkan alur cerita dan aspek-aspek yang berkait erat dengan pementasan, juga sering ada pesan yang disertakan untuk para kreator teater pada umumnya”, katanya.

Dari berteater itulah Kirno merasa punya kebanggaan karena diekspos di media massa, dan mendapat tambahan bekal memperdalam karakter tokoh manusia. Dengan ilmu dari kampus dan tambahan bekal itu juga yang mendorong saya tegar tampil di mana saja 

“Saya juga terjun di bidang politik seperti Mas Bambang, berkiprah di parlemen meski beda tingkatan, dan beda fraksi. Saya sering bertemu Padmasari putrinya Mas Bambang setiap Sidang Pleno DPRD Jawa Tengah,” katanya.

Berkat Teater

Menjabat sebagai Rektor Untag, juga berkat hikmah dari teater juga. Pada mulanya datang ke Untag ingin menjadi pelatih teater, tetapi selain berteater di sana justru mendapat kesempatan sebagai dosen. Perjalanan kariernya meningkat sehingga sampai diangkat menjadi dekan. 

“Di tahun 1987 saya berusia 36 tahun, berarti saya sebagai dekan termuda waktu itu, “ katanya.

Kemudian di tahun 1996 – 1998 menjadi Pembantu Rektor (PR),lalu 1998 sampai 2006 menjabat sebagai rektor. Saat ini, meski sudah pensiun, masih diberi kesempatan mengajar di Untag dengan status non-dosen. Selain beraktivitas di kampus, juga getol di kegiatan “Puji Langgeng” (Pandhemen Ki Nartosabdo), “Puri Wiji” (Paheman Nguri-uri Wesi Aji), “Ketan Wangi” (Keluarga Pecinta Kesenian Wayang Orang Ngesti Pandhawa).

“Setiap malam Minggu Kliwon saya selalu membeli karcis Ngesti Pandhowo sebanyak 100 lembar,”

Tiket itu saya bagikan kepada orang-orang sekampung. Di bulan berikutnya juga begitu, saya bagikan ke warga desa lain. Demikian itu berjalan selama tujuh tahun. Tujuan nya supaya Ngesti Pandhowo bisa bertambah banyak penonton, warga kampung pun bisa menonton secara gratis.

Sudah Diborong

Suatu ketika, saya waktu akan membeli karcis sejumlah 100 lembar, dijawab oleh petugas loket bahwa karcis sudah habis, karena sudah diborong semua oleh seseorang.

Jebule sing mborong kuwi ambang Sadono. Waktu itu saya hanya bisa ngelus dada sambil geleng-geleng,” katanya.

Tapi Kirno tidak merasa tersaingi, justru saya merasa senang meski rada gela, karena ora nguman-umani liyane. Memang waktu itu ia merasa digawe gela. Ternyata masih ada yang peduli terhadap kondisi kesenian wayang orang di Semarang.

Karena kegiatan dan kiprahnya di area dan bidang berbeda, St. Sukirno cukup lama kemudian jarang bertemu dengan Bambang Sadono. Agak kaget ketika mereka bertemu di pementasan teater “Fajar Sidiq” karya Emil Sanossa yang disutradarai Nasrun M. Yunus yang berlangsung di gedung Oudetrap kawasan Kota Lama Semarang, November 2025. 

“Saya kaget, ternyata Mas Bambang masih setia menyaksikan pementasan teater,” katanya.

Sebelumnya bertemu di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) dalam rangka ulang tahun Ngesti Pandhowo sekitar bulan Juli 2025.

Saat nonton pentas teater itu bersama istrinya, Restu Lanjari. Kirno yakin waktu itu BS sengaja dengan penuh niatan hadir menyaksikan tidak sekadar mampir, karena mengenakan kaos berlogo ‘Teater Teding’, teater yang mementaskan lakon itu. Kirno melihat beberapa kru mengenakan kaos seperti itu juga. Tapi setelah melihat logo-logo yang terpampang di kaos bagian belakang adalah nama media milik BS.

“Saya cepat-cepat memahami bahwa kaos itu sponsor bantuan dari dia. Salut, masih tetap ada kepedulian terhadap dunia seni,” katanya. 

 

Drs. St. Sukirno, MS,
Lahir di Bantul 12 Februari 1951. Kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM)  sampai sarjana muda. Menyelesaikan sarjana di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip). Aktif berteater sejak mahasiswa. Pernah menjadi Dekan, pembantu Rektor, dan Rektor Universitas 17 Agustus 1945 (Untag). Pernah menjadi anggota DPRD mewakili Fraksi Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan Jawa Tengah.

 

Artikel Terkait