Alm. A.M. Fatwa - Mantan Ketua Badan Kehormatan DPD RI

Pejuang Politik Berideologi Kerakyatan – Oleh Alm. A.M. Fatwa

Share

Pak Bambang Sadono (BS), sebenarnya saya ingin menyapanya Mas Bambang, karena memang usianya jauh lebih muda, 17 tahun, daripada saya. Akan tetapi, karena pemikiran dan sikap politiknya yang saya anggap sangat matang, saya merasa lebih pantas menyapanya dengan Pak BS.

Sesungguhnya persinggungan kebersamaannya dengan saya sudah sejak awal Reformasi di DPR RI hasil Reformasi. Akan tetapi, kami belum pernah bekerja sama secara langsung.

Barulah ketika BS menyusul bergabung di DPD RI pada tahun 2014 sempat sering bertemu dan bertukar pikiran. Meskipun belum lama bergaul secara dekat, saya sudah bisa menyimpulkan dan merasa banyak terpikat dalam bertutur kata, di samping isi pembicaraannya memang penuh dengan gagasan dan pemikiran konsepsional.

Dengan sikap rendah hati, ia selalu mendengarkan baik-baik lawan bicaranya terlepas dia setuju atau tidak. Dalam posisinya sebagai Ketua Badan Pengkajian MPR RI dan Wakil Ketua Badan Penguatan Kapasitas Kelembagaan (BPKK) DPD RI, tampak sekali langkah-langkah dan pemikirannya yang serba konsepsional dan terencana dengan baik.

Misalnya, dalam perencanaan menghadapi perjuangan amendemen berkelanjutan dari UUD 1945 pikirannya tidak meloncat-loncat dan menggebu-gebu, tetapi ia benar-benar menyiapkan materi yang komprehensif.

Tidak Jualan Politik
Saya selama ini sering mengkritik, sementara rekan di DPD RI lainnya yang tampak sekali pada kulitnya dan tercermin di atas permukaan dengan mengemukakan janji-janji yang muluk bahwa sebentar lagi amendemen pasti terjadi tinggal satu setengah langkah, lalu dengan itu mengajukan dan mengoperasikan anggaran yang demikian besar karena seolah- olah tiada yang lebih penting dari program lainnya, tanpa melihat dan memperhitungkan peta politik yang sesungguhnya.

Saya melihat cara-cara seperti ini lebih pada “jualan politik” untuk menarik simpati di internal institusi DPD RI. Padahal, untuk terjadinya amendemen UUD 1945, sangat tergantung pada momentum politik yang tercipta dalam kebersamaan dengan seluruh kekuatan komponen bangsa.

Sesuatu yang menarik bagi saya terhadap pribadi BS terakhir ini ialah ketika adik kandungnya, Bambang Tri Mulyono, ditahan oleh Kepolisian karena menulis buku Jokowi Undercover. BS dengan tenang saja memberikan penjelasan kepada pers sebagai keluarga. Tanpa ada keraguan dan rasa canggung ia menjenguknya di tahanan Bareskrim Polri. Mungkin bagi sebagian orang, jika hal itu terjadi pada lingkungan keluarganya, dia ikut menjadi panik dan serba ‘salah tingkah’.

Alhamdulillah, saya perhatikan BS sangat cermat, baik dalam mempersiapkan konsep yang komprehensif maupun dalam menyampaikannya pada forum-forum internal DPD RI yang sama sekali tidak terkesan adanya semacam “jualan politik”.

Pada kesempatan pertemuan antara Presiden dan DPD RI di Istana Negara, 16 Desember 2016 sempat saya kemukakan bahwa momentum dan peta politik terjadinya amendemen UUD 1945 banyak tergantung pada pemerintah Jokowi-JK sekarang, alias jangkar politiknya ada di Istana, karena tentunya pemerintah akan berhitung dengan cermat bagi kelangsungan dan stabilitas politik nasional.

Sesuatu yang menarik bagi saya terhadap pribadi BS terakhir ini ialah ketika adik kandungnya, Bambang Tri Mulyono, ditahan oleh Kepolisian karena menulis buku Jokowi Undercover.

BS dengan tenang saja memberikan penjelasan kepada pers sebagai keluarga. Tanpa ada keraguan dan rasa canggung ia menjenguknya di tahanan Bareskrim Polri. Mungkin bagi sebagian orang, jika hal itu terjadi pada lingkungan keluarganya, dia ikut menjadi panik dan serba ‘salah tingkah’.

Kalau diperhatikan latar belakang keluarga BS, memang semuanya aktivis politik dari kalangan PNI (Partai Nasional Indonesia), khususnya ayahnya adalah pengikut setia dari seorang tokoh utama PNI, Hadi Subeno yang sangat merakyat tapi anti PKI.

Setiap pemimpin tentu harus punya ambisi, termasuk ambisi kepemimpinan politik pada Lembaga tempat ia berada. BS pasti punya ambisi itu. Akan tetapi, saya perhatikan cara menampakkan ambisinya sangat cermat dan terukur alias tidak ambisius.

Artikel Terkait