Namun baru di kemudian hari saya mengetahui bahwa BS ternyata masih memiliki hubungan kekerabatan dengan teman saya semasa di SMAN 1 Tegal, Mbak Susi dan Mbak Tuti. Keduanya adalah putri Pak Soetadi, kepala DPU saat itu, yang ternyata merupakan paman BS.
Dalam perjalanan kariernya, Pak BS pernah menjabat sebagai Anggota DPR RI, DPD RI, Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, dan bahkan pernah maju sebagai calon Gubernur Jawa Tengah.
Saya mulai mengenal Pak BS lebih dekat ketika beliau menjabat sebagai Ketua DPD Partai Golkar Jawa Tengah. Suatu hari, saya menerima SMS dari beliau yang meminta saya datang ke kantor Partai Golkar Jawa Tengah.
Terus terang, saya merasa sangat tersanjung, mengingat posisi saya saat itu hanya sebagai Ketua Pengurus Kecamatan (PK) Partai Golkar Kecamatan Dukuhturi, Kabupaten Tegal.
Saya pun berangkat ke Semarang menggunakan Kereta Kaligung. Setibanya di kantor DPD Golkar Jawa Tengah, saya disambut langsung oleh BS yang didampingi oleh Mas Zaenal Mahirin (alm).
Kami berbincang cukup lama mengenai kondisi DPD Golkar Kabupaten Tegal yang saat itu dipimpin oleh Pak Sugeng Suwardi, atau yang akrab dipanggil Hamas (alm).
Selalu Dihubungi
Setiap kali Pak BS berencana berkunjung ke Tegal atau Brebes, selalu menghubungi saya untuk membantu mengatur pertemuan dengan pihak-pihak yang akan dikunjungi.
Saya biasanya menghubungi Pak Entus Susmono Bupati Tegal, Pak Muhamad Ketua Yayasan RSI Harapan Anda Tegal, Ibu Umi Azizah Bupati Tegal, serta sejumlah tokoh lainnya.
Selain bertemu pejabat dan tokoh masyarakat, Pak BS juga menyempatkan diri berkunjung ke pelaku UMKM. Mendatangi perajin batik di Tegal Selatan, perajin kok di Lawatan, serta perajin tahu di Adiwerna.
Salah satu kenangan saya bersama Pak BS adalah Ketika dihubungi untuk mendampingi dalam sebuah acara di Kuningan, Jawa Barat. Saat itu sebenarnya saya memiliki jadwal monitoring ujian nasional. Namun, saya memilih untuk ikut mendampingi BS.
Bisa Marah Juga
Biasanya, jika berkunjung ke Tegal atau Brebes dari Semarang, Pak BS menggunakan kereta api dan dijemput oleh Mas Pardi (driver) di stasiun. Begitu pula saat beliau mendapat undangan dari Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB).
Waktu itu saya dijemput Mas Pardi di Miraos, rumah makan langganan Pak BS, lalu menuju Stasiun Prujakan Cirebon. Setelah menjemput Pak BS di Cirebon, ternyata Pak BS didampingi Mas Raja (Bambang Raja Sadono Junior), dan kami pun melanjutkan perjalanan ke Kuningan yang memakan waktu sekitar satu jam.
Sepanjang perjalanan, saya melihat dan mendengar langsung apa yang Pak BS kerjakan di dalam mobil.
Ternyata, materi yang beliau sampaikan di Forum IPKB di Hotel Ayong Kuningan persis sama dengan yang saya dengar selama perjalanan dari Cirebon ke Kuningan.
Artinya, penulisan materi itu hanya memakan waktu sekitar satu jam di dalam mobil. Kenangan paling berkesan terjadi saat kami kembali ke Stasiun Prujakan Cirebon.
Mungkin karena di Hotel Ayong Kuningan Pak BS tidak sempat makan, Pak BS meminta Mas Pardi mencarikan rumah makan. Saya sempat mengusulkan RM Ampera di Cirebon, tapi karena agak lupa lokasinya, kami tidak menemukannya.
Akhirnya kami kembali ke stasiun karena kereta akan berangkat pukul 19.30. Di situlah saya baru tahu bahwa Pak BS juga bisa marah. Beliau berkata, “Mas Pardi kalau sudah bosan ikut saya bilang aja.”
Saya kaget, karena sebenarnya beliau marah kepada saya, tetapi yang kena justru Mas Pardi. Kasihan, yang salah saya, yang dimarahi malah Mas Pardi. Untungnya, kami akhirnya tetap bisa makan di RM Ampera yang berada di depan Pasar Pagi Cirebon.
Tegal, 28 Desember 2025






