Tidak lama kemudian, pandemi Covid 19 datang dan membuat semua aktivitas lapangan terhenti, termasuk wawancara langsung. Saya masih ingat, wawancara terakhir saat itu dengan Wali Kota Magelang, sebelum semuanya benar benar berhenti.
Dari situ lahir channel YouTube Inspirasi Jawa Tengah sebagai produk jurnalistik digital. Wawancara dilakukan melalui Zoom meeting, dengan segala keterbatasan. Peralatan masih pinjaman, lokasi syuting di ruang tamu rumah, dan semuanya dikerjakan secara sederhana.
Video pertama tayang pada 25 Mei 2020, menampilkan wawancara dengan Maskuriyadi, Kepala Desa Pentur, Kecamatan Simo, Boyolali.
Tantangannya tentu tidak sedikit.
Internet sering putus nyambung, peralatan kerap error karena format belum benar benar pas. Dari sisi pendapatan pun belum terlihat tanda-tandanya.
Saya sempat ragu, seberapa lama ini bisa bertahan, apalagi harus bersaing dengan YouTuber besar yang sudah lebih dulu eksis. Ternyata saya keliru. Meski prosesnya cukup panjang, dengan pengalaman dan konsistensi beliau, perlahan ditemukan jalan lain. Tidak hanya mengandalkan adsense, pendapatan justru datang dari iklan.
Kreativitas Original
Kreativitas Pak BS menurut saya sangat original. Banyak ide yang lahir dan jarang terpikirkan orang lain. Channel YouTube yang awalnya bernama Inspirasi Jawa Tengah perlahan menemukan jalan bisnis dan berkembang menjadi Bangsa Group, dengan
berbagai platform seperti Inspirasi untuk Bangsa dan Bangsa TV.
BS juga mampu memadukan media digital dan cetak. Dari proses wawancara kemudian lahir buku buku alumni perguruan tinggi, mulai dari Undip, UGM, UI, ITB, hingga IPB. Selain itu terbit Majalah Politik Indonesia, Kampus Indonesia, Ekonomi Indonesia, dan Kesehatan Indonesia, yang semuanya tersedia dalam versi digital dan cetak.
Bangsa Group juga menerbitkan buku 100 Perguruan Tinggi Akreditasi Unggul, 100 Rektor Inspirasi Indonesia, 100 Parlemen, dan masih akan bertambah dengan judul judul lainnya.
Saya yang awalnya hanya tukang foto, operator Zoom, sekaligus admin YouTube, kemudian didorong untuk belajar menulis. Meski tidak memiliki latar belakang jurnalistik, beliau tetap memberi ruang untuk berlatih.
Prosesnya tentu tidak mudah. Pada awalnya, saya bisa membutuhkan waktu berhari-hari untuk menyelesaikan satu tulisan, direvisi berkali-kali. Di situlah, menurut saya, letak kehebatan Pak BS.
Terus mendorong anak-anak muda untuk berkembang, dengan satu syarat utama, mau belajar. Gayanya memang agak keras dan kadang memaksa sampai ‘mentok’, tetapi hasilnya terbukti.
Hingga kini, banyak penulis muda aktif berkarya di media Bangsa Group, berdampingan dengan penulis senior. Yang menarik, di saat banyak media online atau digital lain belum jelas soal honorarium, media Bangsa Group justru memberikan apresiasi yang layak. Saya bisa memastikan hal itu karena saya merasakannya sendiri.
Over Power
Hal yang paling saya kagumi dari Pak BS adalah produktivitasnya yang luar biasa. Di usia 69 tahun, energinya seolah tidak pernah habis. Kalau istilah anak sekarang, benar-benar over power.
Saya yang mengikuti saja sering merasa terpontal-pontal. Rutinitas dimulai sangat pagi. Sebelum subuh, WhatsApp sudah aktif, kadang tugas sudah dibagikan.
Malam hari pun sama, masih tetap bekerja. Tidak ada istilah tanggal merah. Pak BS sering mengatakan, kesehariannya kalau tidak bekerja ya tidur. Bahkan di dalam mobil, di kereta, tablet yang selalu dibawa hampir pasti terbuka, digunakan untuk membaca, menulis, atau menyiapkan materi.
Dalam satu kesempatan, beliau pernah membagikan resep menjaga stamina kerja seperti itu. Kuncinya ada pada motivasi dan target yang jelas.
Menurut saya, semua itu bukan sesuatu yang instan, tetapi kebiasaan yang dibentuk sejak lama hingga akhirnya menjadi habit. Hingga saat ini, Pak BS masih aktif melakukan wawancara, baik melalui Zoom maupun secara langsung, termasuk ke luar kota.
Saya pernah mendampingi dalam satu pengalaman yang benar benar menunjukkan energinya yang luar biasa. Waktu itu, hari Minggu sore sekitar pukul 17.00 ada wawancara di Surabaya, padahal sejak Sabtu sudah ada rangkaian acara di Blora.
Pak BS berangkat dari Cepu, Blora, naik kereta pada Minggu siang. Setelah wawancara di Surabaya, langsung kembali ke Blora karena malamnya masih ada acara wayangan. Senin pagi, sudah kembali berada di Semarang dan langsung bekerja lagi seperti biasa.
Banyak Pelajaran
Menurut saya, salah satu “hobi” Pak BS adalah mendidik. Beliau terus mendorong dan memotivasi, terutama saya dan teman-teman muda yang ikut bekerja bersamanya.
Dorongan itutidak selalu disampaikan lewat kata-kata, tetapi melalui contoh, tuntutan, dan standar kerja yang tinggi. Pak BS sering mengatakan, untuk menjadi pemimpin, tahap awal memang harus menguasai aspek teknis.
Namun setelah itu, yang lebih penting adalah manajemen dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. Seorang pemimpin harus
berani berkorban, baik waktu maupun tenaga.
Soal disiplin, memaknainya sebagai bentuk tanggung jawab. Bukan hanya kepada diri sendiri, tetapi juga kepada Tuhan. Disiplin bagi beliau bukan sekadar soal jam kerja, melainkan komitmen terhadap amanah yang sudah diambil.
Karena itu, setiap pekerjaan selalu dikerjakan dengan serius. Pak BS juga pernah berbagi tentang cara memperoleh rezeki. Ada tiga jalan, dikasihani orang, menyusahkan orang, dan menyenangkan orang.
Prinsip yang dijalaninya adalah menyenangkan orang. Dalam bekerja, berusaha agar kehadirannya memberi manfaat, bukan menjadi beban. Hingga saat ini, banyak karyawan yang mendapatkan rezeki melalui Pak BS.
Baginya, bekerja adalah bagian dari ibadah. Selain ibadah ritual atau hablum minallah, ada pula ibadah sosial atau hablum minannas. Dalam arti sederhana, hidup seharusnya memberi manfaat bagi orang lain.






