Pada waktu itu, selain sebagai anggota DPR RI, Pak BS juga menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Suara Karya dan Sekretaris Jenderal PWI Pusat. Praktis, sehari-hari sayalah yang mengurus usahanya.
Kesibukannya di DPP Partai Golkar juga banyak menyita waktu karena ia menjabat sebagai Sekretaris Badan Informasi dan Komunikasi (BIK) yang dipimpin Pak Theo Sambuaga.
Ia turut aktif dalam Pilpres 2004 saat Partai Golkar mencalonkan Wiranto-Solahudin Wahid. Dari rumahnya di Depok, ia bolak-balik ke DPR di Senayan, Kantor DPP Golkar di Slipi, Kantor PWI Pusat di Kebonsirih, Kantor Suara Karya di Gedung AK, Jalan Bangka, dan tempat-tempat lainnya.
Walaupun tinggal serumah di Jakarta, kami jarang bertemu karena sama-sama berangkat pagi dan pulang larut malam. Meski belasan tahun mendampingi Pak BS, saya tetap kesulitan menebak arah pikirannya dan rencana yang disusunnya.
Di Jakarta, selain menggarap majalah Legislatif dan menerbitkan majalah berbahasa Jawa Parikesit, ia juga mengelola perusahaan di bidang periklanan.
Perusahaannya berkembang pesat, bahkan beberapa kali memenangkan tender program sosialisasi pemerintah. Dari sinilah saya diarahkan untuk menyisihkan keuntungan demi mendukung kegiatan PWI.
Memikirkan Organisasi
Saya tidak mengerti cara berpikirnya. Dia selalu memikirkan organisasi tempat dia berada. Di PWI, jabatannya sekretaris jenderal, tapi juga sibuk mencarikan dana jika organisasi membutuhkan.
Bukan orang yang punya uang, tapi selalu berusaha keras membantu mencari dana. BS pernah bercerita saat menjadi Ketua Panitia Hari Pers Nasional (HPN) di Solo pada era Presiden Gus Dur.
Tanpa modal sama sekali dari PWI, biaya ratusan juta akhirnya terpenuhi berkat partisipasi satu perusahaan besar. Maka, saya heran ketika perusahaan sedang baik-baiknya pada 2004,
Pak BS malah sibuk bolak-balik ke Jawa Tengah untuk mencalonkan diri sebagai Ketua DPD I Partai Golkar Jateng, yang jelas butuh biaya besar. Saya tahu karena sayalah yang sering mengirimkan uang kepadanya.
Lebih heran lagi, setelah terpilih, dia ingin fokus memimpin Golkar Jawa Tengah, memindahkan home base dan keluarganya kembali ke Semarang. Itu berarti harus menyiapkan rumah tinggal baru karena rumah lamanya sudah kosong hampir 10 tahun.
Perhatiannya pada kegiatan perusahaan makin berkurang, saya menjalankannya sebisanya sambil terus berkonsultasi jarak jauh. Puncaknya, saya bingung saat Pak BS mencalonkan diri sebagai gubernur.
Dari mana uangnya? Ternyata pendukungnya cukup banyak, seperti Pak Jusuf Kalla secara pribadi, Pak Aburizal Bakrie, dan Pak Theo Sambuaga, juga beberapa pengusaha besar. Bahkan saya tahu persis, biaya survei hampir Rp 1 miliar berasal dari Pak ARB.
Ditarik ke Semarang
Saya semakin kalang kabut ketika pada tahun 2007 diminta ke Semarang untuk membantunya di Sekretariat DPD Partai Golkar Jateng dan memperkuat tim pencalonan gubernur.
Perusahaan di Jakarta semakin terbengkalai. Menurut saya, Pak BS rela mengorbankan kepentingan bisnisnya demi fokus pada perjuangannya membesarkan partai.
Anehnya, Pak BS menjalaninya dengan santai, meski banyak yang bertanya-tanya dari mana dana pencalonannya berasal. Saya lihat dia sendiri hampir tidak pernah memegang uang.
Bantuan untuk Pilgub saya yang mengelolanya, sementara bantuan untuk partai langsung ke Bendahara DPD Partai Golkar Jateng, Harry Affandi. Sisanya langsung ke komunitas pendukungnya, baik kepada calon wakil gubernur, tokoh-tokoh yang membantu kampanye, maupun lainnya.
Pak BS pernah bilang bahwa dia sendiri tidak tahu berapa uang yang dikeluarkan langsung oleh DPP Partai Golkar dan tokoh-tokoh pendukungnya saat itu.
Yang dia tahu, ada yang mengontrak lembaga survei dan tim pemenangan senilai Rp10 miliar dengan perjanjian akan mengembalikan uang tersebut jika Pak BS kalah. Katanya, uang itu benar-benar dikembalikan setelah Pak BS kalah di Pilgub 2008.
Membuat Stres
Hal inilah yang membuat saya stres. Saya sulit tidur memikirkan apa yang sudah saya lakukan bersama tim, pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, dan tentu saja dana.
Lebih stres lagi karena Pak BS tetap tenang, bahkan meminta semua orang untuk tenang. Dia juga menenangkan istrinya. Baginya, yang penting keluarganya bisa menerima kenyataan itu dengan ikhlas.
Namun, saat seperti itu, saya semakin tidak mengerti ketika justru diberi uang untuk jalan-jalan, “Biar tidak stres,” katanya waktu itu. Aneh rasanya, bukan Pak BS yang pergi menenangkan diri, malah saya yang diminta bertamasya untuk menenangkan pikiran.
Pascapemilihan gubernur, masalah bermunculan, termasuk soal finansial. Tagihan menumpuk dan saya yang harus menghadapinya. Aset mulai dijual, termasuk mobil, tanah, dan rumah.
Tabungan terkuras, bahkan harus mencari pinjaman baru. Anehnya, Pak BS tidak pernah mengeluh. Istrinya pun mengikuti saja apa kata suaminya.
Saya sering merasa sedih saat harus mendampingi ke notaris, melihat Pak dan Bu BS melepaskan aset satu per satu. Saya juga kerap menghadapi para penagih utang yang harus diterima dengan sabar.
Rasa marah dan kecewa memuncak ketika setelah kalah pilgub, ada pengurus Partai Golkar yang ingin mengadili Pak BS, terutama soal keuangan. Ada yang menuduhnya memakai uang partai untuk membeli rumah.
Padahal, saya tahu rumah yang ditempatinya hingga kini pun belum lunas cicilan banknya. Saya tahu betul Pak BS tidak pernah menyentuh keuangan partai.
Bahkan, sumbangan berupa mobil-mobil dia kembalikan semua ke organisasi, tanpa sedikit pun niat memanfaatkan aset tersebut. Dia justru berusaha menjaga aset tanah dan bangunan milik organisasi dengan cara menyertifikatkannya.
Hingga kini, dia hanya tersenyum ketika di daerah masih ada mobil-mobil bantuan dari masa kepemimpinan Pak BS yang masih bisa dimanfaatkan.
Terus Berjuang
Perjuangan tidak pernah berhenti. Setelah kalah di Pilgub 2008, tahun 2009 kembali maju mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Provinsi Jateng. Sambil mengajari putrinya,
Padmasari Mestikajati, mulai merintis bisnis kecil-kecilan seperti rental mobil. Pernah mengalami pahitnya kehilangan salah satu mobil yang dibawa kabur orang, tak bisa diurus hingga ke pengadilan.
“Saya tidak pernah sedih atau marah karena kehilangan harta, mungkin itu bukan hak saya. Saya hanya sedih dan marah karena kamu bekerja tidak profesional,” katanya.
Pengalaman-pengalaman itu membuat semakin terbiasa bekerja di bawah tekanan, tetap serius, profesional, dan berusaha tidak panik. “Percayalah, Tuhan tidak pernah salah.
Asal kita lakukan yang terbaik dan tidak punya niat buruk pada orang lain, Tuhan pasti membantu,” katanya. Dengan semangat itu, bekerja keras mendampingi dan mengantarkan Pak BS menjadi anggota DPD RI pada Pemilu 2014.
Namun stres berat kembali datang saat Pak BS menikahkan anaknya di 2015. Tahu betul butuh banyak uang, apalagi baru setahun sebelumnya mengeluarkan biaya besar untuk pemilihan legislatif.
Meski begitu, Pak BS tetap tenang, memimpin langsung persiapan. “Jangan panik, selalu ada yang membantu. Kalau sudah mentok, mengadulah pada Tuhan. Tuhan tidak pernah kehabisan cara untuk membantu kita,” ucapnya.
Masih terus belajar menjaga daya juang, ikhlas untuk tetap berjuang, dan terbiasa menyelesaikan masalah dengan tenang, taktis, serta berhasil. Sabar mendengarkan orang marah atau kecewa. Saran saya, mulai hemat energi, jangan terlalu banyak janji. Usia tak bisa dibohongi.***






