Walaupun belum kenal langsung dengan BS, tetapi sudah sering membaca tulisan-tulisannya baik di Suara Merdeka maupun Minggu Ini, tentang sastra dan seni budaya. Suatu saat Bambang Iss mendapat kesempatan wawancara dengan seorang pemenang lomba baca puisi bernama Restu Lanjari.
“Yang saya wawancarai itu ternyata banyak penggemar dan ada beberapa orang yang menaksir,” katanya.
Satu di antaranya adalah BS. Sejak itu Bambang Iss mengenal langsung, sekaligus tahu hasil akhir persaingan untuk mendapatkan Juara Baca Puisi tersebut.
“BS-lah orangnya yang kemudian memperistri hingga sekarang,” katanya.
Waktu itu Bambang Iss kagum tidak karena BS menang dalam persaingan, tapi hanya karena sangat produktif dalam hal menulis.
“Waktu itu saya belum berani mendekat. Saya merasa masih junior, terus terang saya minder,” tambahnya.
Tak Terlupakan
Melalui proses waktu yang cukup panjang, akhirnya menjadi dekat, karena satu kantor dan sama-sama menyenangi bidang seni.Sering bertemu di berbagai kegiatan terutama seni dan budaya.
Bambang Iss sempat menduga BS kuliah di Fakultas Sastra Undip, tapi ternyata di Fakultas Hukum. Mahasiswa Hukum, tetapi tulisannya banyak tentang sastra dan budaya. Ternyata BS pernah kuliah di Fakultas Sastra Undip, Jurusan Sastra Inggris,
walaupun hanya dua semester.
“Semula saya iri terhadap produktivitas tulisannya, makin lama makin berkurang,” katanya.
Apalagi setelah banyak dilibatkan dalam kegiatan Keluarga Penulis Semarang (KPS) yang secara rutin menggelar pentas tiap bulan di Gedung Pemuda Kota Semarang.
Bambang Iss mengisahkan pengalaman yang tidak terlupakan, peristiwa yang diakui membuat dirinya sangat bangga, ketika suatu hari bisa membonceng BS, dengan sepeda motornya Suzuki A-100/1974 dari Jalan Pemuda ke arah Sampangan.
“Saya merasa sangat bangga bisa membonceng orang yang saya kagumi yang jam terbangnya jauh di atas saya,” katanya.
Waktu itu Bambang Iss akan ke Petompon. Sayangnya, kakinya terjepit ruji. Diam saja karena malu, sambil menahan rasa sakit. Lama-lama saya tidak tahan, lalu minta diturunkan di depan RS. Kariadi.
“Saya baru sadar, kaki saya gores darah. Saya langsung ke rumah sakit. Peristiwa itu tidak diketahui oleh orang lain, saya malu dan takut menceritakan,” katanya.
Bambang Iss, semakin dekat sejak dilibatkan di KPS dan Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) yang diketuai Bambang Sadono. Di kedua organisasi itu banyak terlibat para penyair, cerpenis, seniman dan budayawan, Bambang Iss mendapat mengurus di bidang musik. Di situ ada teman lain seperti Pamudji MS, Edys Wicaksono dan Awang Arifin, mereka ketiga-tiganya sudah almarhum.
Bambang Iss juga dipercaya menjadi juri lomba baca puisi dalam kota maupun luar kota. Padahal bukan penyair seperti para
juri lainnya.
“Sejak itu saya merasa makin dekat dengan Pak BS,” tambahnya.
Kecewa Berat
Menurut Bambang Iss, BS merupakan figur wartawan yang sulit untuk disaingi karena konsistensi dan intensitasnya. Sosok sastrawan yang tidak mudah dikejar karena peluang dan posisi sangat strategis di tempat kerjanya. Juga tokoh politik yang tangguh karena memiliki keteguhan berprinsip.
“Saya salut terhadap tanggungjawabnya sebagai penjaga gawang rubrik sastra dan budaya di Suara Merdeka,” katanya.
Bambang Iss kagum mengenai produktivitasnya dalam hal tulis-menulis. Juga salut bagaimana pinternya melobi banyak pejabat dan supelnya bergaul di berbagai kalangan.
“Tapi saya merasa benar-benar kecewa berat, ketika BS terjun ke dunia politik,” katanya.
Sungguh sangat khawatir, jangan-jangan setelah asyik dalam perpolitikan kemudian lupa tentang dunia seni sastra dan budaya. Namun tanpa disadari, kekecewaan dan kekhawatiran itu akhirnya pupus dan lenyap juga setelah berfikir secara dewasa menyesuaikan irama kehidupan.
BS di usia yang belum terlalu tua, dengan berbagai capaiannya, seakan kehidupan duniawi sudah selesai. Tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, ada saja yang diberikan kepada teman-teman yang lagi membutuhkan.
“Yang saya rasakan dan alami sendiri, belum lama ini buku karya saya yang berjudul Monumen diborong,” katanya.
BS memborong buku dalam jumlah cukup banyak, kemudian diberikan kepada teman-temannya secara gratis. Secara bisnis Bambang Iss senang karena buku itu laku terjual jadi uang. Buku itu kemudian bisa sampai ke tangan banyak orang. Mudah mudahan bermanfaat.
“Batin saya mengatakan bahwa dengan cara itu BS sedang membantu saya,” katanya.
Istilah Resi
Atas pencermatan dan catatan pribadinya, Bambang Iss menyebut bahwa BS layak diposisikan sebagai “Resi”. Banyak orang sukses dalam berkarier tapi untuk diri sendiri.
“Tidak berlebihan jika saya sebut sebagai Resi. Andaikata BS mendirikan padepokan sastra budaya dan jurnalisme, saya yakin
akan diikuti banyak cantrik,” katanya.
Bambang Iss akan menjadi orang yang mendaftarkan diri paling awal untuk itu.
“Mungkin saja, tanpa disadari bahwa yang BS jalankan selama ini sesungguhnya sudah laku dari seorang resi tersebut,” katanya.






