Mengenang Konsistensi Untuk Blora, Jateng, Dan Indonesia – Oleh: Roy Kurniadi

Share

Saya mengenal pak Bambang Sadono, sejak tahun 2012, saat aktif di dunia Lembaga Swadaya Masyarakat Institute Of Development, Education and Social yang disingkat LSM Indes. Namanya memang seperti Non Government Organization atau LSM Luar Negeri.

LSM Indes jangan dibayangkan adalah organisasi nirlaba yang dibiayai oleh pemerintah apalagi dapat bantuan dari Luar Negeri, seperti Ford Fondation atau Rockeefeler Fondation.

Nama Indes yang singkatan berbahasa Inggris itu adalah kebalikan dari LSM Insed, yang sudah off actions, karena pendirinya sibuk jadi Anggota Komisioner KPUD Kabupaten Blora, dan teman yang lain sibuk mengelola media. Maka kita ambil namanya dengan membalik huruf saja dari Insed menjadi Indes. 

Waktu itu LSM Indes lebih banyak bergerak di bidang kesehatan, pertama menggelar khitanan massal gratis, dibiayai oleh Donatur Diaspora dari Jakarta, yang tidak mau disebut namanya, benar – benar ikhlas lillahita’ala, yang penting jalan kegiatannya. 

Kegiatan khitanan massal itu, digelar di Pendopo Gedung Kantor Perpustakaan Dan Arsip Kabupaten Blora, di Komplek GOR Kridosono, alhamdulillah berjalan dengan lancer. Berawal dari kegiatan khitanan massal itulah, kita menemukan kondisi kesehatan masyarakat yang jauh dari ideal, itu terjadi Di Desa Singonegoro, Kecamatan Jiken.

Seorang anak usia 9 tahun, bernama Abdul Rozak, siswa Sekolah Dasar setempat, anak sekecil itu harus mengalami penderitaan yang luar biasa, menderita femosis dan harus dioperasi, namun apa daya mereka hanya orang miskin, yang tinggal di gubuk jauh dari permukiman.

Sebagai LSM, langsung kita carikan bantuan melalui Pemkab Blora, dengan cara bersurat dan kebetulan ada Wartawan dari Koran Harian Suara Merdeka ikut memberitakan anak itu.

Ketemu Pak BS

Kalau harus menceritakan pengalaman pendampingan LSM kami dari tahun 2010 hingga sekarang, tidak akan ada habisnya, sejak pendampingan akses operasi gratis berhasil, mulai banyak orang menghubungi kami, meminta pendampingan.

Hingga pada suatu ketika, saat saya mendampingi seorang anak usia 8 tahun, bernama Hanan, yang harus pulang paksa dari RSUD Karyadi, Semarang, meskipun belum sembuh, dengan perut membesar, namun badan kurus, diagnosanya pun mengerikan yaitu diduga sakit leukimia. 

Karena sudah tidak mampu lagi membiayai, sudah habis dua ekor sapi, dan hutang yang menumpuk, putra warga Dukuh Dulang, Desa Bangsri Kecamatan Jepon Kabupaten Blora, terpaksa harus dibawa pulang.

Singkat cerita, kita buat kegiatan ngamen untuk mengumpulkan bantuan Hanan, agar bisa dirawat kembali, dengan mengambil thema “Koin Peduli Untuk Hanan” kami menyewa seniman tradisional kecapi dan kendang, di beberapa lokasi strategis, termasuk Kantor Pemkab Blora, dan alhamdulillah mendapatkan sumbangan dari seluruh ASN di situ. 

Hasil ngamen tiga hari itu belum cukup untuk membawa Hanan berobat kembali. Kita tidak patah semangat, saat ada acara Sarasehan Pancasila di Pendopo Samin Klopoduwur, yang dihadiri oleh Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, yang asli dari Blora, bernama Bambang Sadono yang akrab dipanggil Pak BS, kami nekad meminta koin peduli di sana, dan ternyata disambut baik.

Bahkan menurut Pak BS, kegiatan kami mengumpulkan koin peduli itu, justru menjadikan lebih bermakna dan menurutnya kita disebut sebagai tindakan Pancasilais Sejati. Pak BS pun berjanji akan menindaklanjuti bantuan kesehatan gratis itu di Solo, di Rumah Sakit milik Pemprov yaitu RSUD dr. Moewardi.

Benar saja, Pak BS sudah mengontak Dirut RSUD dr. Moewardi untuk pengobatan gratis Hanan, sampai sembuh.

Puji syukur pun tak.lupa kami panjatkan kepada Tuhan YME, Hanan sembuh, dan penyakitnya ternyata hanya gizi buruk, bukan leukimia. Pak BS pun menyampaikan apresiasi atas pendampingan kami, dirinya pun berjanji akan selalu membantu, mumpung masih jadi pimpinan DPRD Jateng. Dan ternyata konsisten antara tindakan ucapannya.

Dongkrak Posyandu

Pada suatu waktu, Pak BS beserta istri dan anaknya yang diperkenalkan bernama Padmasari i Mestikajati, yang akrab dipanggil mbak Mesti, atau mbak Padma, saat ini anggota DPRD Jateng. Saat itu datang ke kontrakan saya, belakang Toko Menara, Jetis Kota Balora. Pak BS tertarik mampir ke kontrakan keluarga kami, untuk membahas Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu).

BS ingin membantu Posyandu, yang pada saat itu tidak memiliki anggaran untuk melaksanakan kegiatannya, yaitu penimbangan balita, pemberian makanan tambahan, dan kader Posyandu hanyalah sukarelawan tanpa honor, alias murni pengabdian di kampung – kampungnya.

Program Posyandu diharapkan akan mendapat anggaran yang layak, mengingat strategisnya kegiatan itu dalam pemenuhan pelayanan dasar masyarakat. Berkat kritikan pedas kami di media, terkait sangat minimnya anggaran Posyandu, hal itu dibawa isu di DPRD Kabupaten Blora.

Namun isu Posyandu ternyata membuat perhatian para Pemimpin Daerah, termasuk Bupati Blora, langsung memerintahkan kenaikan anggaran untuk tiap Posyandu yang sebelumnya hanya Rp. 100.000, – per tahun, ditingkatkan menjadi Rp. 2.500.000,- per tahun/Posyandu.

Dan kini, menjadi urusan wajib yang harus dibiayai oleh Dana Desa, sekitar 15% dari pagu Dana Desa. Jadi perjuangan Pak BS mendampingi LSM Indes, tidaklah sia – sia, dan berdampak luas dari daerah hingga nasional.

Semoga Pak Bambang Sadono beserta keluarga besarnya mendapatkan keberkahan dari Tuhan Yang Maha Esa, atas segala darma baktinya, bahkan tidak berhenti hingga saat ini, sebagai wartawan senior Indonesia.*** 

Artikel Terkait