Sentiono Santoso

Ketika SMP-SMA Pendiam Diperhatikan Guru Bahasa – Oleh Setiono Santoso

Share

Mungkin secara kebetulan saya dimasukkan sekolah menengah negeri di Blora yang ternyata merupakan sekolah terbaik. Penuh warna dan toleransi, para pendidik menerima siswa dari berbagai asal dan latar belakang profesi orang tuanya.

Ada yang dari desa, dari kota, anak pejabat, dari bupati, pegawai negeri, anak tentara, polisi, anak pedagang, pengusaha sampai anak petani semua diterima.

Perjumpaan dan perkenalan saya dengan Bambang Sadono (BS) melalui proses yang lama. BS anak yang pendiam dan saya pun demikian, bahkan cenderung kuper.

Meski pendiam, waktu mulai kelas IIB dan seterusnya saya ditunjuk oleh guru wali kelas untuk menjadi ketua kelas. Sekarang saya bisa melihat, bahwa menunjuk siswa yang minoritas, bahkan double minority, karena saya etnis Tionghoa dan Kristen, di tengah mayoritas siswa yang muslim dan etnis Jawa, itu adalah kebijaksanaan yang sangat baik.

Di situ saya baru mengetahui indahnya toleransi yang dalam hidup saya selanjutnya, di SMA, semasa kuliah, masa kerja bahkan menjadi pengusaha seperti sekarang, saya selalu merasa menjadi bagian dari “team” di manapun saya diamanahkan.

Salah satu even yang kami alami adalah ikut menjadi panitia Idul Qurban, kebersamaan itu sangat terasa. Bahkan sebelumnya, ada seorang penganut Budha, anak seorang pengusaha kayu jati, yang menyumbang seekor kambing dan dibawa sendiri ke sekolah.

Anak itu akahirnya menjadi biksu terkenal dengan nama Sri Panyavaro. Di kelas IIB, saya sekelas dengan pak BS, kami mempunyai guru Bahasa Indonesia, yang secara diam diam memperhatikan bakat terpendam salah satu muridnya yaitu BS. Suka meminjami buku-buku sastra.

Saya juga pernah dipinjami sebuah buku sastra karya Marah Rusli, Siti Nurbaya. Mungkin karena lama waktu membacanya, sampai dua bulan baru saya kembalikan, saya dianggap kurang berbakat di bidang sastra.

Masa SMA
Pak BS dan saya sama-sama melanjutkan sekolah di SMA Negeri Blora dan sama-sama mengambil jurusan Ilmu Pasti-Alam (IPA). Walau satu jurusan tapi tidak lagi dalam kelas yang sama.

Banyak kenangan indah di masa SMA, masa pembentukan karakter dari remaja ke arah dewasa.Kebetulan di tahun kedua SMA, saya mengalami goncangan ekonomi dalam keluarga yang mempengaruhi studi saya.

Ada empat nilai rapor menjadi merah, padahal sebelumnya, saya juara kelas. Kondisi itu tidak menjadikan saya patah semangat, bisa bangkit, dan naik kelas.

Saat mau lulus SMA, saya sempat berpikir untuk kerja, karena tak ada biaya uuntuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Semasa kuliah juga tidak mudah bagi saya.

Saya memberanikan diri mendaftar di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Jurusan Teknik Elektro karena iming-iming adanya beasiswa di sana. Tapi setelah diterima, dari tiga pemberi beasiswa yang saya lamar, tidak ada satupun yang mengabulkan.

Salah satu even yang kami alami adalah ikut menjadi panitia Idul Qurban, kebersamaan itu sangat terasa. Bahkan sebelumnya, ada seorang penganut Budha, anak seorang pengusaha kayu jati, yang menyumbang seekor kambing dan dibawa sendiri ke sekolah. Anak itu akahirnya menjadi biksu terkenal dengan nama Sri Panyavaro.

Saya tetap melanjutkan kuliah dengan bantuan kakak yang masih kuliah di Undip, sambil membeayai sendiri dengan memberi les anak-anak SMA/SMP dan menyisihkan uang untuk biaya saya.

Akhirnya saya juga ikut memberi les di Semarang, tapi tidak sampai satu semester, saya jatuh sakit, dan kuliah jadi terbengkalai. Setelah program sarjana muda saya capai, saya baru mendapat dukungan beasiswa.

Walau skripsi saya belum tuntas, dosen pembimbing saya orang Belanda memberi rekomendasi untuk melamar di perusahaan asing Schlumberger, dan diterima. Skripsi dan beasiswa saya tinggal agar busa bekerja penuh.

Gaji dari peusahaan itu kira kira tiga kali gaji fresh graduate kalau kerja di swasta nasional. Sejak itu saya mengambil alih beban beaya hidup untuk orang tua dan sekolah adik-adik.

Bertemu BS Kembali
Saya tidak ingat tahun berapa waktu itu, karena di rumah berlangganan koran Suara Merdeka, saya sering menemui tulisan tulisan BS, biasanya di bidang sosial budaya. Ketika saya cek di kolom penerbit, tercantum nama Bambang Sadono sebagai Wakil Pemimpin Redaksi.

Memori saya langsung dihidupkan, dan surprise campur bangga. Dulu orangnya pendiam, kurang menonjol di kelas, ternyata sudah menggapai posisi penting di penerbit koran kebanggaan Jawa Tengah.

Kira-kira awal 1997 saya bersama istri mengunjung dokter kandungan di Jl. Bugangan Semarang. Sementara menunggu antrian dipanggil untuk periksa, di depan kami duduk seorang pria bersama istrinya yang tidak saya kenali atau terlintas dalam ingatan.

Ternyata pria tersebut adalah teman sekolah yang 20 tahun lebih tidak pernah bertemu, yaitu BS. Barangkali karena nama kami dipanggil duluan masuk kamar periksa, pak BS yakin mengenali saya dan pada giliran berikutnya BS masuk bersama istri dan kami keluar.

BS sempat panggil nama saya. Sempat saya ditinggali kartu nama, karena tak ada waktu lagi berbincang. Walau sangat singkat, sangat berkesan bagi saya, karena keramahan BS tidak berubah.

Di tahun-tahun berikutnya, karena saya aktif mengikuti berita, saya tahu pak BS semakin melangkah jauh di PWI pusat, di Partai Golkar dan di parlemen sampai menjadi calon gubernur Jawa Tengah.

Itu yang membuat saya kagum dan bangga. Karier saya selama 9 tahun di Schlumberger dan kemudian 21 tahun di Elnusa datar saja karena saya tidak mau terjun di managemen atau eksekutif.

Di Elnusa, saya merasa punya andil ikut merintis perluasan operasi, mulai dari satu wilayah operasi sampai menjadi enam wilayah yang tersebar di Sumatra, Kalimantan dan Jawa.

Mungkin yang tidak datar adalah remunerasinya, sehingga bisa berinvestasi sambil membantu mengentaskan beberapa orang dalam studi.

Setelah masa purna tugas, saya baru merintis menjadi wira usaha di bidang properti di Salatiga sampai sekarang. Perjumpaan secara fisik dg pak BS baru terjadi pada reuni paska Covid, yaitu pada 24 Juli 2022.

Silahturahmi berikutnya di kediaman pak BS di Semarang, dan di kemudian hari berlanjut dengan kunjungan BS beserta keluarga ke Salatiga.

Kesan saya, pak BS telah memberi teladan yang sangat lengkap, tetap berkarya di masa tua, juga sukses membina keluarga yang harmonis dan ramah terhadap semua orang. Pak BS tetap sama, masih seperti yang dulu. Semoga bisa menikmati segala kemurahan Tuhan, sehat dan bahagia bersama keluarga.

Artikel Terkait