Hendro Basuki - Wartawan Senior

Kekuatan Leadership Adalah Modalnya – Oleh Hendro Basuki

Share

Mengawali karier sebagai wartawan, tampaknya akan mengakhiri sebagai politikus. Ini yang saya bayangkan tentang sosok Mas Bambang Sadono (BS). Dunia politik, bagi dirinya lebih menarik daripada dunia jurnalisme

Mungkin, jurnalisme adalah dunia yang cenderung diam, sedangkan politik bergerak tanpa henti. Sebagai jurnalis, kariernya tidak terlalu gemilang. Ia jarang membuat berita investigatif dan tidak banyak menghasilkan headline.

Namun, ia memiliki kekuatan lain di bidang penulisan sastra. Puisinya cukup bagus dan enak dibaca, begitu pula beberapa cerpen yang ia tulis, meski belum membuat namanya bersinar di jagat sastra Indonesia.

Bagi saya, karya jurnalistik dan sastranya tidak meninggalkan jejak spektakuler, melainkan lebih sebagai batu loncatan untuk membangun namanya. Justru di dunia kepemimpinan dan politik ia meninggalkan jejak yang kuat.

Pernah menjabat Ketua PWI Jawa Tengah, lalu menjadi Sekretaris Jenderal PWI Pusat. Dalam politik, ia juga dikenal karena pernah menjadi Ketua DPD Partai Golkar Jawa Tengah.

Di dua ranah itu, BS menunjukkan kemampuan leadership yang mumpuni. Pada masa Orde Baru, jabatan strategis memerlukan dukungan lobi yang kuat dan keterampilan yang piawai.

Untuk mencapai posisi Ketua DPD Golkar, tentu perlu restu dari Pimpinan Pusat Partai Golkar, dan ia mampu melewatinya dengan baik.

Di Suara Karya
Kekuatan itu kembali terbukti ketika ia “ditunjuk” menjadi Pemimpin Redaksi Suara Karya. Dari namanya saja sudah jelas siapa pemilik koran ini, yang berarti posisinya di partai sangat strategis.

Ia banyak mengubah budaya perusahaan, menunjukkan bahwa kemampuan kepemimpinannya teruji. Meski karya jurnalistiknya tergolong biasa saja, bukan berarti Mas Bambang bukan wartawan yang baik, melainkan kepemimpinannya mampu menutupi kekurangannya.

Dalam industri media, sosok dengan leadership kuat memang langka. Ada wartawan yang piawai menulis tapi tak punya kemampuan memimpin, atau sebaliknya, justru terlalu individualis dan sibuk dengan karyanya sendiri.

Keberhasilan memimpin wartawan itulah yang menjadi modal BS untuk memimpin partai. Seperti diketahui, perilaku wartawan dan politikus mirip: sok tahu dan kurang mau belajar.

Karena itu, saya pribadi lebih melihat Mas Bambang sebagai politisi ketimbang wartawan. Jabatan seperti Sekjen PWI, Ketua DPD, dan lainnya lebih banyak didapat dari manuver politiknya.

Justru di situlah letak alasan ia selalu eksis di setiap medan politik. Saat harus “menepi” dari Golkar, lalu bergabung di Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, ia pun tetap cukup menonjol.

Sekali lagi, saya ingin menegaskan bahwa ia lebih sukses di dunia politik dibanding sebagai wartawan. Organisasi atau perusahaan media akan terlalu repot “memanfaatkan” kemampuannya karena cara pandangnya dalam mengelola orang lebih sarat nuansa manuver politik daripada manajerial.

Dunia politik begitu membentuk cara pandangnya hingga saya, sebagai teman atau sahabat, sering kali merasa kecewa. Namun, sosoknya tidak sepenuhnya hitam putih, dan justru di situlah letak kekuatannya. ***

Artikel Terkait