Kecintaannya pada organisasi bukan untuk mencari keuntungan pribadi, melainkan sebagai sarana membangun jaringan dan memperluas pertemanan.
Perjalanan menjadi anggota DPD RI, tidak direncanakan secara matang, bahkan ia menyebutnya sebagai sebuah “kecelakaan” yang membawa dirinya ke panggung politik nasional.
Motivasi utamanya berasal dari pengalaman panjangnya di organisasi profesi dan dunia konsultan. Selama 23 tahun berkarier sebagai konsultan arsitektur,
Abraham banyak menghasilkan karya-karya monumental di Kota Kupang, seperti perancangan kantor Walikota, rumah jabatan gubernur NTT, dan gedung-gedung representatif lainnya termasuk bank NTT.
Salah satu momen penting dalam kariernya adalah studi banding ke Semarang yang menginspirasinya dalam merancang rumah jabatan gubernur NTT, sebuah proyek yang hingga kini tetap menjadi kebanggaan dan digunakan oleh beberapa gubernur berturut-turut.
Kini, sebagai anggota DPD RI yang telah menjabat selama empat periode, Abraham juga dipercaya memimpin Badan Sosialisasi di Kelompok DPD di MPR.
Tenaga Kerja Migran
Abraham berasal dari keluarga miskin dengan sembilan saudara. Keberhasilannya menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi tidak lepas dari dukungan empat kakaknya yang bekerja sebagai tenaga kerja di luar negeri,
khususnya di Australia.Pengalaman keluarganya inilah yang kemudian membentuk motivasi untuk terjun mengurusi masalah tenaga kerja migran asal NTT.
Ia aktif dalam organisasi Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (Apjati) yang menaungi perusahaan penempatan tenaga kerja ke luar negeri dan berjuang melawan praktik mafia yang merugikan para pekerja migran.
Kisah pilu tenaga kerja asal NTT yang mengalami penyiksaan di luar negeri, seperti kasus Nirmala Bonat di Malaysia, menjadi titik balik bagi Abraham untuk lebih serius mengurusi nasib para pekerja migran.
Ia mendirikan Balai Latihan Kerja (BLK) untuk melatih calon tenaga kerja agar memenuhi standar kesehatan dan keterampilan, meski menghadapi banyak kendala dan perlawanan dari oknum-oknum yang terlibat dalam praktik ilegal.
Karena sulitnya memberantas mafia tenaga kerja dan keterbatasan sistem, Abraham akhirnya menutup BLK dan beralih fokus pada pengiriman tenaga kerja terdidik, khususnya perawat.
Melalui kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah Jepang, Abraham berhasil mengirimkan perawat asal NTT yang telah terlatih dan bersertifikat ke luar negeri dengan jaminan kesejahteraan yang baik.
Kemudian mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan yang kemudian berkembang menjadi Universitas Citra Bangsa, yang kini memiliki akreditasi baik dan sedang membuka fakultas kedokteran.
Meskipun bukan gubernur atau anggota DPR, perannya di DPD RI cukup signifikan untuk mendorong perubahan dan memberikan dampak positif bagi masyarakat NTT.
Kiprah di DPD
Abraham terus mempromosikan potensi besar NTT yang selama ini kurang diperhatikan, seperti kekayaan alamnya dan sumber daya manusia yang cerdas serta berbakat.
Ia memberikan contoh keberhasilan anak-anak NTT dalam bidang akademik dan teknologi, sekaligus berupaya mengembangkan produk lokal seperti kelor dan berbagai jenis kacang-kacangan yang bermanfaat sebagai bahan obat-obatan.
Semangatnya untuk membangun dimulai dari akar rumput, dengan terus meningkatkan kualitas pendidikan dan kesejahteraan masyarakat NTT melalui berbagai inisiatif yang telah ia jalankan selama lebih dari 16 tahun di DPD RI.
Sebagai anggota DPD RI, Abraham memahami keterbatasan kewenangan lembaga ini sesuai Pasal 22D Konstitusi, khususnya dalam hal legislasi, penganggaran, dan pengawasan. Namun, ia tetap memaksimalkan perannya dengan menyerap aspirasi masyarakat dan memperkuat jaringan di daerah.
Salah satu pencapaian pentingnya adalah keberhasilannya memisahkan pengelolaan pendidikan tinggi di NTT dari Bali dan NTB dengan membentuk Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) yang berdiri sendiri.
Langkah ini sangat membantu dalam meningkatkan mutu dan pengawasan perguruan tinggi di NTT, yang tersebar di berbagai pulau, sehingga lulusan perguruan tinggi di wilayah ini menjadi lebih kompeten dan mampuaing di pasar kerja nasional maupun internasional.
Abraham juga mengkritik penurunan kewenangan dan posisi DPD RI dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Menurutnya, sejak awal berdiri hingga sekarang, kewenangan DPD justru semakin berkurang dan posisinya semakin lemah dibandingkan yang lebih dominan.
Ia menyoroti bagaimana DPD diperlakukan seperti fraksi biasa dalam MPR, padahal seharusnya DPD berperan sebagai kamar setara yang mampu menjalankan fungsi check and balance secara independen.
Dalam internal DPD sendiri, pembagian kursi pimpinan yang tidak proporsional menjadi tantangan lain, di mana DPD hanya mendapatkan sedikit kursi pimpinan dibandingkan dengan fraksi-fraksi di DPR.
Meski demikian, ia tetap vokal memperjuangkan penguatan posisi DPD demi kemajuan demokrasi dan pemerintahan yang lebih seimbang. Perjalanan panjang dari latar belakang keluarga sederhana hingga menjadi tokoh penting di DPD RI dan dunia pendidikan di NTT adalah cermin perjuangan dan dedikasi tanpa henti.
Melalui pengalamannya, ia mengajak masyarakat dan pemerintah untuk tidak menyerah menghadapi tantangan daerah tertinggal seperti NTT. Pendidikan dan penguatan kelembagaan menjadi kunci utama untuk membuka peluang kemajuan dan kesejahteraan.
Meski dengan keterbatasan kewenangan, Abraham membuktikan bahwa kontribusi nyata dapat diberikan melalui kerja keras, inovasi, dan semangat untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.
Perubahan Besar
Oleh karena itu, rencana dan harapannya untuk lima tahun ke depan, meskipun menyadari keterbatasan lembaga DPD RI, yakni perubahan besar pada institusi DPD RI menjadi senator Indonesia, masih sulit terwujud tanpa dukungan kuat dari partai politik untuk melakukan amandemen konstitusi.
Abraham tetap berharap agar DPD dapat berdiri sendiri dengan payung hukum yang jelas melalui Undang-Undang DPD RI yang mengatur kewenangan dan hubungan dengan daerah secara lebih efektif.
Dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut, Abraham memilih fokus pada pengembangan sumber daya manusia dan pendidikan di Nusa Tenggara Timur, khususnya di bidang kesehatan.
Ia bangga telah berhasil membangun institusi pendidikan dari tingkat TK hingga universitas, termasuk membuka Fakultas Kedokteran yang diharapkan dapat segera beroperasi.
Menurutnya, legasi yang ingin ia tinggalkan adalah peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan yang dapat mengangkat prestasi masyarakat NTT tanpa harus menuntut mereka menempuh pendidikan di luar daerah.
Abraham juga menyoroti pentingnya membangun jaringan dan kolaborasi sebagai modal utama dalam berorganisasi dan berkontribusi bagi daerahnya.
Meski keterbatasan sistem politik dan representasi menjadi kendala, ia tetap bertahan di DPD RI dengan keyakinan bahwa melalui pengalaman dan kerja keras, ia dapat memberikan dampak positif dan mewariskan perubahan yang berarti bagi Nusa Tenggara Timur.






