Suhartono Sanjoto

Dikenal Sangat Piawai Mencari Iklan Sponsor — Oleh Suhartono Sanjoto

Share

Suatu saat pada pertengahan 1980-an, saya mengikuti rapat redaksi Koran Kampus Manunggal Universitas Diponegoro (Undip). Pemimpin Redaksi Drs Darmanto Jatman, SU tidak hadir. Mas Bambang Sadono kemudian memimpin rapat, terutama perencanaan.

Karena secara faktual menangani penerbitan, saya banyak mengajukan usulan. Namun, Mas BS selalu mempertanyakan identitas saya, yang waktu itu memang belum tercatat secara resmi sebagai pengelola. Suasana jadi panas. 

Sebagai aktivis mahasiswa, setidaknya memimpin aksi solidaritas Kedung Ombo, tentu saja saya merasa tidak dianggap dalam forum itu. Sebagai aktivis pers mahasiswa pun, perasaan itu meletup dahsyat. Apalagi, waktu itu tidak banyak pengelola Manunggal yang aktif menerbitkan koran kampus satu-satunya di Undip saat itu.

Waktu itu ada beberapa wartawan aktif seperti Heddy Lugito (kelak menjadi pemimpin redaksi Gatra dan komisaris beberapa BUMN dan Ketua DKPP), Nanik Ismiani (Tempo), Bakarudin, Bekti Nugroho (Editor), Masturi Wijaya Syafaat (Suara Merdeka), Adi Nugroho (Wawasan), dan senior lain. Tentu, mereka sudah tidak banyak waktu untuk Manunggal.

Sebagai ‘bukan siapa-siapa” di Manunggal saat itu, saya hanya bisa diam. Semua rapat perencanaan berakhir nyaris tanpa keterlibatan saya. Namun, saya konsekuen dengan situasi itu. Menjaga agar Manunggal terbit tepat waktu adalah komitmen pribadi saya. Itu jauh lebih penting dibandingkan perasaan saya. Mengapa?

Saya masuk Manunggal dengan misi “mengubah” koran kampus ini menjadi koran mahasiswa, menjadi media yang tidak hanya menjadi corong kampus. Usai rapat redaksi yang menyakitkan itu, saya akhirnya diangkat sebagai pengelola, bahkan menjadi redaktur pelaksana. Jabatan tertinggi bagi mahasiswa saat itu. Petingginya tetap para dosen dan alumni seperti Mas BS.

Manajemen Keredaksian 

Catatan saya tentang Mas BS tidak berubah sampai saya bekerja di Mingguan Kartika, yang kemudian menadi Harian Kartika. Di sini, saya memang langsung menjadi redaktur bersama sejumlah redaktur senior lain. Dari interaksi dengan para wartawan yang lebih senior, saya mendapatkan informasi mengenai pribadi Mas BS. Banyak kabar miring mengenai beliau yang terbantahkan. 

Di sini pula akhirnya saya sadar, Mas BS waktu itu sebenarnya sedang mendidik saya mengenai manajemen keredaksian. Ya, ilmu itu saya bawa dalam petualangan karir saya berikutnya, baik di Jawa Pos Group maupun di Harian Berita Kota Jakarta.

Selama bekerja bersama di Manunggal, tentu banyak hal lain yang saya pelajari dari Mas BS. Sangat konsisten pada perannya sebagai Wakil Pemimpin Redaksi (Wapemred). Tidak pernah saya lihat Mas BS melampaui kewenangan. Saat saya menyiapkan liputan khusus gerakan mahasiswa pun, dengan tegas Mas BS memberikan keputusan mana berita dan data yang boleh dan tidak boleh dimuat. Tegas dan jelas.

Liputan khusus itu memang menjadi menarik perhatian. Saya sudah menyiapkan segalanya, termasuk data aksi mahasiswa ketika itu. Namun, data ini tidak boleh dimuat. Saya melawan. Tanggal tetap saya muat namun rincian aksinya dikosongkan. Di berbagai kesempatan, banyak rekan mahasiswa mencari tahu rincian aksi mahasiswa yang kosong itu.

Belakangan, ketika saya benar-benar menjadi jurnalis, saya tahu bahwa sikap saya itu tidak dapat dibenarkan. Apalagi ketika Wapemred sudah memberikan arahan yang jelas dan tegas. Biarlah itu menjadi catatan sejarah!

Mencari Iklan
Di Manunggal, Mas BS juga dikenal sangat pawai mencari iklan dan sponsor. Kemampuan ini diteruskan oleh senior saya, Wahyurudhanto (kelak menjadi dosen PTIK dan anggota Kompolnas).

Kedua senior ini sangat pintar mendatangkan iklan dan sponsor kegiatan. Waktu itu, tentu saya tidak terlalu memperhatikan namun sangat terasa ketika benar-benar mengelola penerbitan profesional. Media tidak hanya memerlukan konten bagus namun juga kelangsungan hidup dari pendapatan iklan dan tiras. Faktanya, kelangsungan hidup jauh lebih penting bagi perusahaan media.

Saya banyak belajar dari Mas BS yang berada di sisi seberang. Idealisme saya waktu itu memang sangat tinggi dan terbawa ke media yang saya kelola. Tidak heran kalau pada akhirnya saya diminta menanggalkan jabatan redaktur halaman depan Harian Kartika. Saya dipaksa menangani halaman olahraga, kemudian ekonomi.

Ternyata, liputan olahraga pula yang kemudian saya tekuni. Ya, saya dikenal sebagai wartawan olahraga produktif dan redaktur olahraga kreatif. Ini terbukti Ketika saya menangani halaman olahraga Harian Berita Kota Jakarta. Koran yang tadinya hanya diduduki agen, tiba-tiba laris manis dan mencapai tiras di atas 120 ribu. Salah satunya karena halaman olahraga. Saya terima dengan senang hati ketika halaman olahraga ditambah menjadi empat halaman dan diposisikan di tengah-tengah. Pada event tertentu, jumlah halaman bisa bertambah menjadi enam halaman.

Guru Dari Seberang

Bagi saya, Mas BS Adalah guru dari seberang. Ilmu yang diberikan kepada saya selama di Manunggal, masih ditambah dengan konsistensi Mas BS dalam menulis serta menerbitkan media dan buku. Insting bisnisnya luar biasa. Saya meniru ini ketika bertemu klien. Saya menjadi editor buku yang dipesan PT Pegadaian: Semua Orang Bisa Sukses 1 dan 2, Buku Mengenal Permata. Saya juga pernah menangani Media Keuangan milik Kementerian Keuangan dan sejumlah media lain.

Insting bisnis Mas BS ini memang langka. Kebanyakan jurnalis hanya fokus liputan dan menulis. Kemampuan lain dinilai tidak menarik. Maka, ketika kesempatan meliput dan menulis itu hilang, periuk nasi di rumah pun ikut goyang. Kini, malah banyak jurnalis hebat pada masanya yang tidak mampu mengikuti perkembangan jaman dan perlahan tersisih.

Mereka yang mau menambah ilmu di luar jurnalistik terbukti lebih tahan banting bahkan mampu menciptakan lapangan kerja bagi rekan-rekan jurnalis. Lihatlah Mas BS, yang hingga saat ini masih menerbitkan media dan sejumlah buku secara konsisten. 

Terima kasih Mas BS, guru dari seberang! Dari Mas BS ini saya bisa merakit karir sebagai reporter, fotografer, redaktur, asisten redpel, pemred, dan general manager di sejumlah media. Kini, izinkan saya “mengkhianati’ perjalanan panjang itu dengan mengelola rumah sakit swasta.*** 

Artikel Terkait