Haryono Suyono - Mentan Menko Taskin

Dari Pejuang KB ke Tokoh Politik – Oleh Haryono Suyono

Share

Saya telah mengenal mengenal Bambang Sadono (BS) lama sekali. Saya mengenalnya sebagai seorang pejuang yang tidak kenal lelah. Perkenalan pertama saya dimulai pada waktu saya sebagai Kepala Badan Koordinasi Keluarga Nasional (BKKBN) di awal tahun 1980-an.

BS Saat itu adalah seorang wartawan yang gigih memperjuangkan kesuksesan program KB di Provinsi Jawa Tengah. Ia kemudian bergabung dalam Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) dan bahkan menjadi Ketua IPKB Jawa Tengah.

Hingga kini, ia masih menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat IPKB. Lewat reportase dan artikel tentang kependudukan dan KB yang awalnya kurang menarik,

ia berhasil mendorong masyarakat secara bertahap untuk mendukung keberhasilan program KB, khususnya di Jawa Tengah dan umumnya di tingkat nasional.

Tulisan segarnya tidak hanya membuat masyarakat lebih mengenal dan sadar akan pentingnya KB, tetapi juga memotivasi para bupati dan wali kota untuk memberi dukungan luar biasa, menjadikan program KB bagian tak terpisahkan dari kegiatan pemerintah daerah dan masyarakat.

Hubungan dan komunikasi dengan BS terus terjalin hingga saya menjadi Menteri Kependudukan merangkap Kepala BKKBN, lalu berlanjut saat menjabat sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat dan Pengentasan Kemiskinan.

Bahkan setelah saya berhenti dari pemerintahan, perjuangan itu dilanjutkan melalui Yayasan Damandiri, sebuah yayasan sosial yang digagas oleh mantan Presiden RI H.M. Soeharto.

Terus Bekerjasama
Kerja sama terus berlanjut hingga Bambang Sadono menjadi anggota DPR RI. Namun, di bidang media ia pindah lembaga, dari Suara Merdeka di Semarang ke Suara Karya di Jakarta.

Setelah pindah ke Jakarta, BS yang awalnya menjabat Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Jawa Tengah kemudian menjadi Sekretaris Jenderal PWI Pusat.

Saya sendiri, selain menulis di berbagai surat kabar, juga menjadi penulis tetap di harian Suara Karya. Bahkan, Yayasan Damandiri pernah bekerja sama dengan Suara Karya untuk menyosialisasikan program bantuan bagi calon mahasiswa miskin yang memiliki potensi besar untuk kuliah di perguruan tinggi.

Keberadaan BS di PWI maupun IPKB semakin mampu mengajak jajaran media mendukung program-program kependudukan, pengentasan kemiskinan, kegiatan BKKBN, dan lainnya.

Berbagai kegiatan tersebut mendorong program KB yang awalnya hanya dikembangkan pemerintah menjadi gerakan masyarakat luas yang menyebar sangat cepat.

Penyebaran KB tidak lagi sekadar program, melainkan gerakan dengan dampak besar, menjadikan peserta KB sebagai manusia baru yang mampu menjadi kekuatan pembangunan dahsyat.

Pengembangan gerakan ini juga membuat BS mendapat simpati masyarakat sehingga ia dicintai rakyat. Terlebih lagi, kecintaannya pada budaya nenek moyang seperti gamelan dan tari wayang membuatnya sekaligus memelihara budaya tersebut dan menjadikannya modal budaya untuk maju bersama masyarakat.

Pengalamannya membina dan meningkatkan kesadaran ber-KB membawa BS menjadi tokoh politik yang disegani, sehingga akhirnya ia diangkat menjadi Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi Jawa Tengah.

Tampaknya kecintaannya kepada rakyat, saat ini membawanya menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI yang memberikan sumbangan tersendiri kepada bangsa dan negara..***

Artikel Terkait