Namun ia mulai akrab dengan BS, ketika menjadi Pemimpin Redaksi Suara Karya (SK), dan Herutjahjo menjadi wakilnya. Setelah purna dari SK, BS memberi kepercayaan untuk menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Legislatif.
Pada kursus Lemhannas Angkatan 27 tersebut, BS merupakan peserta termuda. Heru melihat BS sering melontarkan pertanyaan khas wartawan yang kritis.
Misalnya bertanya mengapa anggota ABRI yang aktif terkesan diam tetapi ketika pensiun menjadi kritis. Purnawirawan Jenderal sebagai tidak menjawabnya, hanya berkomentar “wah wartawan kita ini semakin pintar.”
Setelah kursus selesai, mereka mulai membangun karir sendirisendiri. BS mulai aktif berorganisasi dan menjadi Sekretaris Jenderal (Sekjen) pengurus pusat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan anggota DPR RI.
Tahun 1999, BS menjadi pemimpinredaksi SK. Awalnya di lingkungan SK banyak yang tidak tahu siapa BS dan ada yang meremehkannya.
Heru kemudian menjelaskan, BS adalah orang yang memiliki pendidikan yang baik. Ia memang berasal dari luar Jakarta. Tetapi saat di Semarang, sudah jadi wakil pemimpin redaksi di koran besar di Jawa Tengah, Suara Merdeka.
“Karena Bambang Sadono akomodatif, dapat dengan cepat menyesuaikan diri. Seiring berjalannya waktu, mulai ada tetapi masih ada juga yang menentang dan meremehkannya,” ungkapnya.
Di SK, BS mulai mengubah perilaku kerja wartawan yang masih tidak menggunakan internet. Dijelaskanntya wartawan akan menjadi tertinggal jika tidak bisa menguasai internet. Heru pun mulai belajar. BS juga menyarankan untuk pembuatan web SK.
Menghormati Sistem
Heru merasa BS snagat percaya pada sistem. Karenanya ketika BS tidak berada di kantor tanpa memberitahu apapun, ia sudah paham jika BS sudah menyerahkan semua tugas kepadanya.
Sebelumnya memang ada beberapa calon lain yang ingin menjadi Wakil Pemimpin Redaksi, namun BS memilih Heru yang sudahdikenal ketika sama-sama kursus Lemhannas.
Heru memegang teguh kepercayaan itu. Jika ada yang coba-coba memasukkan berita tanpa sepengetahannya, saat BS tidak di kantor, langsung marah dan menegurnya.
“Bambang Sadono sudah mempercayakan saya sebagai wakilnya. Jadi jika ia tidak ada, maka sayalah yang akan menanggung semua resiko berita itu,” katanya.
Sampai saat ini, Heru sangat respek pada BS. Ia sangat yakin jika BS tidak pernah berbicara jelek tentangnya. Walau BS mengetahui kelemahan Heru, akan menyimpan dalam hatinya.
Heru membalas kepercayaan BS dengan tanggung jawab. Walau bisa saja berbeda pendapat, BS tidak pernah mengurangi rasa hormatnya kepada Heru, yang dari segi usa memang lebih tua.
Menurut Heru, BS cukup kreatif, percaya diri, dan tidak mudah menyerah. Tidak pernah takut kehilangan pekerjaan karena ia pasti bisa bertahan hidup. BS selalu bisa bertahan dalam kondisi apapun.
“BS selalu mengetahui celah yang bisa ia masuki dan jadi peluang. BS juga berani berkurban dan bertanggung jawab untuk keluarga dan teman-temannya,” katanya.
Silaturahmi Tenis
Setelah tidak di SK lagi, BS membuat Majalah Legislatif. Awalnya BS mengajak Heru untuk bermain tenis, seperti kebiasaan selama di SK. Kemudian diajak makan, di situlah Heru ditawari untuk menjadi pemimpin Majalah Legislatif, karena BS akan lebih banyak aktif di Jawa Tengah.
Herutjahjo pun menerima tawaran tersebut karena ajakannya yang halus. Olahraga tenis menjadi kegiatan rutin untuk berkeringat dan menjalin silaturahmi selama ini.
Bahkan pernah ada momen yang sanagat mengharukan, yaitu ketika pelatih tenis BS meninggal dunia di lapangan. BS sering mengajak tim SK bersafari main tennis di beberapa daerah. Saat itu sang pelatih sedang ikut tennis bersama dengan Pemda Boyolali.
“Bambang Sadono waktu itu memberikan tugas kepada saya untuk membawa jenazah pelatih tersebut ke Jakarta. Dan memberikan kepercayaan kepada saya untuk menjelaskan kepada keluarga korban tentang apa yang sebenarnya terjadi,” ungkapnya.
Ketika BS mencalonkan diri sebagai Gubernur Jawa Tengah, tahun 2008, tidak mengajak Heru karena dianggap bukan bidangnya. Heru justru berterima kasih untuk itu karena dia jadi paham akan bidang yang dikuasainya.
Podcast Mencerahkan
Saat mengikuti kursus Lemhannas, BS sudah menunjukan kreativitasnya. BS membuat buku tentang profil para peserta Lemhannas. Dan saat sudah tidak menjadi anggota legislatif, ia tahu bahwa sekarang zamanya media sosial.
Lalu dia membuat podcast untuk mengikuti perkembangan zaman. Heru termasuk yang mengapresiasi ketika dengan cepat merespon saat penyenyi campursari legendaris Didi Kempot meninggal.
BS langsung menghubungi banyak narasumber termasuk tim dan keluarganya, untuk ditayangkan dan dijadikan buku. Heru berharap untuk podcast yang sedang dikelola BS saat ini lebih banyak menghadirkan beberapa tokoh yang bisa memberi bukan yang memberi narasi kontroversi.
“Banyak podcast yang mengambil keuntungan dengan menyajikan konten yang kontroversial. Semoga podcast yang dibuat Bambang Sadono selain aktual juga mencerahkan,” tambahnya.






