Di ruang redaksi, ia berdiri dengan keyakinan yang tidak gemar menjelaskan dirinya sendiri. Katakatanya nyaris tanpa ruang tawar, seolah kebenaran memang tidak memerlukan banyak penjelasan.
Kami mencintai dunia yang sama, tetapi dengan cara yang berbeda. Baginya, pers adalah medan keberanian dan tanggung jawab moral. Tidak ada tempat bagi ragu yang bertele-tele.
Tidak ada ruang untuk empati yang melemahkan prinsip. Sementara saya datang dengan keyakinan bahwa katakata juga harus merawat manusia, bahwa dialog bisa menjadi jembatan, bukan sekadar palu.
Di situlah jarak mulai terbentuk. Bukan karena penolakan, melainkan karena perbedaan cara memeluk nilai yang sama. Ia seperti batu karang di tengah arus: keras dan tak jarang disalahpahami.
Ombak datang silih berganti; kritik, perubahan zaman, kelelahan manusia, tetapi ia memilih tetap di tempatnya. Tidak bergerak demi kenyamanan. Tidak melunak demi diterima.
Keteguhan itu, pada masanya, terasa menekan. Namun waktu adalah guru yang sabar. Jarak yang terasa dingin perlahan berubah menjadi kejernihan.
Saya mulai mengerti bahwa keras tidak selalu berarti kejam, dan sunyi tidak selalu berarti abai. Dari keteguhan itu, saya belajar bahwa empati tanpa prinsip dapat menjelma kompromi yang berbahaya. Komunikasi tanpa keberanian hanya melahirkan kenyamanan semu.
Kami tidak pernah sepakat sepenuhnya, tapi kami bekerja di bawah nilai yang sama, meski dengan langkah yang tidak selalu seirama. Ia menjaga agar pers tetap tegak, saya berusaha agar tetap manusiawi.
Mungkin di sanalah keseimbangan itu terjadi, tanpa diucapkan. Kini, ketika waktu memberi jarak yang cukup untuk mengenang, saya menyadari bahwa relasi kami berdua adalah pendidikan karakter yang tidak pernah ada di bangku kuliah.
Ia tidak mengajar dengan ceramah, tapi mendidik dengan keteguhan dan kesediaan untuk tidak disukai. Dari sana, saya belajar bahwa
hormat tidak selalu lahir dari kesamaan pandangan, melainkan dari keberanian bertahan dalam keberlanjutan.
BS bukan figur yang mudah dicintai, tetapi sulit diabaikan. Seperti batu karang, ia tidak bergerak untuk memikat laut. Namun tanpanya, laut tak pernah benar-benar belajar tentang batas.
Kalau ditanya kesan saya terhadap beliau, hanya satu kalimat: “BS, nggak ada matinya.” Ada saja yang dikerjakan, ada saja ide yang dilontarkan. Suatu ketika dia pernah berkata, “Dhapukanku kan cakil. Yen cakile metu, wayang mesti rame.”






