Seiring meningkatnya taraf hidup masyarakat, penyakit jantung perlahan mulai menggantikan pola penyakit yang dulu didominasi oleh penyakit infeksi. Kini, penyakit jantung hampir menjadi penyebab kematian utama.
Salah satu yang sering menyebabkan kematian mendadak adalah penyakit jantung koroner. Banyak yang tidak menyadari bahwa penyakit ini punya kaitan erat dengan perilaku dan kebiasaan hidup sehari-hari.
Bahkan, sebagian besar penyebabnya berasal dari kebiasaan hidup yang kurang sehat, yang menjadi faktor risiko umum. Stres emosional, pola makan yang buruk, kurang aktivitas fisik, dan merokok adalah beberapa faktor risiko di antaranya.
Stres
Stres emosional kini melanda berbagai lapisan masyarakat, terutama akibat beban ekonomi yang makin berat, kerasnya persaingan hidup, ketidakpuasan atas pencapaian, hingga kesulitan dalam hubungan antarmanusia.
Dalam batas tertentu, stres adalah hal normal dalam keseharian dan jika diatasi dengan baik tidak membahayakan kesehatan. Namun, stres berkepanjangan dapat memengaruhi jantung.
Ada orang yang mudah mengatasi kondisi sulit, tapi tak jarang yang terjebak berlarut-larut. Beberapa orang memang lebih rentan terhadap stres, tetapi hal ini sering kali disebabkan kebiasaan yang kurang tepat.
Untuk menghindari risiko, sebaiknya stres dicegah atau ditanggulangi sebelum berdampak pada kesehatan fisik. Stres kronis dapat meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah, membuat jantung bekerja lebih berat, dan menambah risiko penyakit jantung koroner.
Umumnya, penderita penyakit jantung memiliki perilaku terburu-buru, mudah marah, dan berambisi besar—kondisi yang memicu munculnya penyakit tersebut.
Pola Makan
Pola makan dalam keluarga tertentu, misalnya yang tinggi lemak jenuh atau kolesterol, meski berisiko memicu penyakit jantung koroner, sering ditiru anggota keluarga seperti anak-anak hingga mereka dewasa dan berkeluarga.
Tak heran jika dalam satu garis keturunan ada beberapa orang yang mengidap penyakit ini. Makanan berlemak jenuh memang lezat, dan terasa hambar jika semangkuk bakso disajikan tanpa jeroan atau bebas lemak.
Namun, jika disadari bahwa makanan tersebut menjadi faktor risiko penyakit jantung koroner, sebaiknya dikurangi atau dihindari. Mengubah kebiasaan memang sulit, meski ada banyak makanan lain yang sama lezatnya namun rendah kolesterol “jahat”.
Pola makan tidak terbentuk begitu saja, melainkan sejak masa kanak-kanak. Kebiasaan makan keluarga yang cenderung tinggi lemak sulit diubah, padahal terbukti bahwa keluarga dengan pola makan rendah lemak memiliki risiko lebih rendah terkena penyakit jantung koroner.
Kurang Gerak
Kehidupan modern sering ditandai dengan kurangnya aktivitas fisik dan keinginan serba praktis tanpa banyak mengeluarkan tenaga. Mengapa harus naik tangga jika ada lift atau eskalator?
Padahal, kebiasaan ini menjadi salah satu faktor risiko penyakit jantung koroner. Secara umum, orang yang kurang aktif, terutama pria, memiliki risiko dua hingga tiga kali lebih besar terkena serangan jantung dibandingkan mereka yang aktif berolahraga secara teratur.
Latihan rutin dapat memperkuat otot jantung, memperlancar peredaran darah, dan membantu mengurangi kegemukan. Kegemukan sendiri dipengaruhi oleh perilaku, seperti pola makan yang buruk dan minimnya aktivitas fisik, yang akan semakin berisiko jika disertai riwayat tekanan darah tinggi atau diabetes (mellitus).
Merokok
Hampir semua perokok tahu bahwa merokok adalah kebiasaan yang buruk, namun banyak yang sulit menghentikannya. Perokok berat, yaitu yang menghabiskan 20 batang atau lebih per hari, punya risiko dua kali lipat terkena serangan jantung.
Bahkan, peluang mengalami kematian mendadak lima kali lebih besar dibandingkan orang yang tidak merokok. Bagi mereka yang berhasil berhenti total, risikonya bisa turun hampir setara dengan non-perokok.
Nikotin dalam rokok, meski jumlahnya kecil, tetap beracun bagi. Setiap hisapan memang tidak langsung mematikan, tapi tetap membahayakan jantung, menyebabkan pengerasan pembuluh darah, dan mengganggu irama jantung.
Kebutuhan Jam Tidur
Tidur yang cukup dapat membantu menjaga kesehatan dan mencegah penyakit jantung. Orang dewasa sebaiknya tidur setidaknya 7–8 jam setiap malam.
Jika kebutuhan tidur tidak terpenuhi dalam jangka panjang, hal ini bisa berdampak buruk bagi kesehatan dan memicu penyakit seperti obesitas, hipertensi, diabetes, depresi, dan serangan jantung.
Selain itu, menghindari kebiasaan merokok juga penting karena merokok dapat merusak pembuluh darah, mengganggu sirkulasi, serta meningkatkan tekanan darah yang berujung pada risiko penyakit jantung.
Bagi yang memiliki risiko tinggi akibat diabetes, kolesterol tinggi, atau hipertensi, lakukan pemeriksaan rutin ke dokter dan ikuti pengobatan sesuai anjuran agar penyakit jantung dapat dicegah sejak dini.
Mengubah Perilaku
Mengubah perilaku salah atau maladaptif adalah proses sadar dan terencana untuk mengganti kebiasaan yang tidak sehat atau merugikan dengan perilaku yang lebih positif dan bermanfaat.
Proses ini memerlukan motivasi, usaha, dan dukungan agar perubahan dapat berlangsung secara berkelanjutan. Setiap perilaku memiliki tantangan dan kesulitannya masing-masing, dan meski setiap orang berusaha sebaik mungkin, hasilnya belum tentu sesuai harapan.
Sebelum mencoba mengubah perilaku yang berhubungan dengan penyakit jantung koroner, penting untuk mencegah dan segera memperbaiki perilaku yang menjadi faktor risikonya.
Obat bagi penderita penyakit jantung koroner tidak akan banyak berarti jika perilaku salah tersebut tidak diubah, karena serangan mematikan bisa saja terjadi sewaktu-waktu. Pencegahan jauh lebih murah, meskipun memerlukan kedisiplinan tinggi.
Sebaiknya jangan memendam kemarahan atau kekecewaan, tapi ungkapkan pada orang yang tepat atau dokter keluarga. Mengingat kesalahan masa lalu hanya menambah stres, jadi luangkan waktu untuk bersantai dan berekreasi bersama keluarga.
Meninggalkan makanan atau kebiasaan yang disukai memang tidak mudah, tapi bisa dilakukan secara bertahap. Pola makan tinggi lemak dan kebiasaan merokok sebaiknya mulai dikurangi sedikit demi sedikit.
Sementara itu, olahraga dan aktivitas fisik perlu menjadi rutinitas harian yang tidak boleh ditinggalkan. Penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mencegah dan mengendalikan penyakit jantung,
dimulai dari diri sendiri, keluarga, hingga lingkungan sekitar, dengan menerapkan perilaku CERDIK bagi yang sehat dan PATUH bagi penderita penyakit jantung.
CERDIK berarti C: Cek kesehatan rutin, E: Enyahkan asap rokok, R: Rajin berolahraga, D: Diet seimbang, I: Istirahat cukup, K: Kelola stres dengan baik.
Sedangkan PATUH berarti P: Periksa kesehatan rutin dan ikuti anjuran dokter, A: Atasi penyakit dengan pengobatan tepat dan teratur, T: Tetap diet bergizi seimbang, U: Upayakan aktivitas fisik aman, H: Hindari asap rokok, alkohol, dan zat karsinogenik.
Karena itu, pencegahan penyakit jantung penting dilakukan sejak dini agar fungsi jantung tetap terjaga, dengan langkah-langkah gaya hidup sehat seperti pola makan menyehatkan jantung, olahraga teratur, menghindari rokok, mengelola stres, menjaga berat badan ideal, mengontrol tekanan darah dan gula darah, serta melakukan pemeriksaan kesehatan rutin.
***













