Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita

Rumah Sakit Kebanggaan Indonesia

Share

Kami beruntung dalam edisi ini bisa menyajikan wawancara dengan pucuk pimpinan rumah sakit utama, rujukan, dan pengampu di bidang penyakit jantung dan pemuluh darah, penyakit bayi bawaan, dan penyakit yang berhubungan dengan otak.

Direktur Utama Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita, Dr. dr. Iwan Dakota, Sp. JP(K), MARS, FACC, FESC, mengatakan rumah sakit yang dipimpinnya, berdiri sejak 9 November 1985.

Bukan sekadar fasilitas Kesehatan, melainkan simbol harapan, inovasi, dan pengabdian yang membentang lebih dari empat dekade. RSJPD Harapan Kita yang kini berdiri di atas lahan seluas 22.000 m² di Jalan S. Parman, Jakarta Barat, adalah realisasi dari ide itu, yang dirancang menyerupai Austin Hospital Texas, rumah sakit rujukan jantung paling bergengsi saat itu.

Saat diresmikan tahun 1985, hanya memiliki satu gedung. Namun kini, rumah sakit ini telah berkembang menjadi lima gedung dengan berbagai layanan canggih, menjadi pusat rujukan nasional dalam penanganan penyakit jantung dan pembuluh darah. Bahkan, operasi bedah jantung pertama di Indonesia dilakukan di sini dengan bantuan tim dari Amerika.

RSJPD Harapan Kita menjadi penggerak pengampuan layanan jantung ke berbagai daerah—seperti Medan, Bali, dan Makassar. Mulanya informal, pengampuan dilakukan secara personal oleh dokter spesialis dari Harapan Kita.  Kini, pengampuan tersebut telah menjadi kebijakan nasional.

Menurut dr. Iwan, penyakit jantung tetap menjadi penyebab kematian nomor satu atau nomor dua di Indonesia dan dunia. Selain itu, berdasarkan data BPJS Kesehatan, biaya pengobatan penyakit ini menjadi beban paling besar dalam sistem pembiayaan kesehatan nasional.

Oleh karena itu, pemerintah menaruh perhatian besar agar kematian dan kesakitan akibat jantung bisa ditekan dengan deteksi dini dan layanan menyeluruh. ***

Direktur Utama Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita Dr. Ockti Palupi Rahayuningtyas, MPH., MH, mengatakan rumah sakit yang dipimpinnya, berdiri tahun 1979 diiniasiasi oleh ibu Tien Soeharto.

Tahun 1988, bayi tabung pertama di Indonesia lahir di RSAB Harapan Kita. Program bayi tabung hingga saat ini menjadi salah satu layanan unggulan di rumah sakit ini. Proses bayi tabung dilakukan melalui percampuran antara sel telur dan sperma di laboratorium, hingga terjadi embrio.

Namun sebelum embrio ini ditanamkan kembali ke rahim, harus dilakukan pemeriksaan Preimplementation Genetic Testing for Aneuploidi (PGTA) yang belum semua rumah sakit bisa melakukannya.

Hingga saat ini untuk menjadi dokter yang ahli di bidang bayi tabung, hanya dibutuhkan kursus selama kurang lebih 3 bulan yang bisa dilakukan di RSAB Harapan Kita. Dengan demikian untuk bayi tabung belum termasuk subspesialis.

Diakui, biaya untuk proses bayi tabung memang tak murah. RSAB Harapan Kita mempunyai peralatan yang up to date dan modern yang tidak kalah dengan swasta. RSAB Harapan Kita bisa jadi merupakan rumah sakit yang memberikan layanan komprehensif tertua.

Karena sejak awal KESEHATANINDONESIA 7 didirikan rumah sakit ini memang sudah didesain untuk end to end.  Memberikan pelayanan dari mulai pra kehamilan, dengan mempersiapkan remaja agar kelak siap saat menyambut kehamilannya, dan menjadi seorang ibu dari anak-anak yang hebat.

Salah satu layanan unggulan lain di Harapan adalah BIDIC (Birth Defect Integrated Center). Birth defect adalah kelainan bawaan pada bayi. Hingga saat ini kasus Birth Defect memiliki angka yang cukup besar, yakni hampir 20 % bayi dari total kelahiran yang ada.

Di BIDIC Center ini berkumpul dokter-dokter dari multidisiplin ilmu. Dilengkapi dokter anak dengan subspesialis penangan bayi baru lahir dengan kelainan bawaan. ***

Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON),Dr. Adin Nulkhasanah Sp.S, MARS. bercerita awal lahirnya RSPON yang dilatarbelakangi tingginya kasus stroke di Indonesia selama tiga dekade terakhir.

Karenanya diperlukan Rumah Sakit (RS) yang memberikan pelayanan terbaik untuk penanganan stroke di Indonesia. RSPON memiliki misi, pertama mewujudkan layanan otak dan sistem persarafan yang bermutu dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat.

Kedua mewujudkan pendidikan dan penelitian yang mampu memberikan kontribusi pemecahan masalah otak dan sistem persarafan nasional maupun internasional. Untuk memenuhi visi dan misi tersebut,

RSPON ditetapkan sebagai rumah sakit pengampu untuk stroke, dan diharapkan menjadi rumah sakit pusat mengembangkan layanan otak dan sistem persarafan terbaik di Indonesia, dengan memberikan layanan komprehensif.

Sebagai rumah sakit pengampu nasional, menurut RSPON memberi alur dan contoh bagaimana layanan stroke secara komprehensif kepada RS-RS daerah. Targetnya agar tahun 2027, 514 kabupaten kota, dan 38 provinsi di Indonesia hmampu melakukan tindakan trombolisis dan trombektomi.

Trombolisis adalah prosedur medis yang menggunakan obat untuk memecah gumpalan darah yang menyumbat pembuluh darah. Trombektomi adalah prosedur medis untuk mengangkat bekuan darah (trombus) dari pembuluh darah.

Artikel Terkait

Scroll to Top