Triyanto Triwikromo - pakar budaya dan Tim Komite Pengawasan dan Pembinaan Eksternal PPDS

Pendekatan Glokasi Pendidikan Dokter Spesialis – Oleh Triyanto Triwikromo

Share

DALAM perspektif sosial dan budaya, tak ada kejadian apa pun baik yang menjadi tren maupun numpang lewat yang lahir dalam ruang vakum sejarah. Semua bergantung kepada situasi atau perubahan sosial yang ada.

Saat ini apa yang berubah? Dari situasi normal ke abnormal ke normal baru. Dari situasi aman-aman saja ke kondisi pandemi ke endemi ke kehidupan pascaendemi. Dari minim informasi ke kemelimpahan informasi.

Apa akibatnya? Akibatnya kita berada dalam the net and the next, screen culture, time screen. Dalam situasi semacam ini, kita (termasuk bidang kesehatan dan kedokteran) hidup dalam pengaruh internet dan hal-hal keakanan (eksperimen, temuan-temuan baru).

Tak pelak karena kita hidup dalam realitas dan posrealitas sekaligus dalam memandang klien, pasien, konsumen kesehatan bukan lagi sekadar sebagai manusia konsemen, melainkan manusia hibrida, bahkan poshuman, manusia yang melampaui kemanusiaannya.

Tak pelak siapa pun yang berkubang dalam dunia kedokteran dan kesehatan mesti berpindah dari dunia yang serbafisik ke serbafigial alias serbafisik dan serbadigital sekaligus.

Jangan kaget juga jika dunia kesehatan dan kedokteran beranjak dari kebenaran post-truth. Tak gampang memasuki dunia kebenaran yang tak pasti, kebenaran (kesehatan maupun kedokteran) hasil klaim-klaiman dari berbagai pihak.

Salah sedikit memahami kebenaran dalam dunia kesehatan dan kedokteran, ambyarlah segalanya. Pasien salah tertangani, klien tak terobati.
**
Mari kita lihat bagaimana kita memahami dokter spesialis dipersiapkan hari ini? PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis) ini merupakan program pendidikan untuk melatih seorang dokter umum untuk menjadi dokter spesialis tertentu.

Program tersebut dapat ditempuh oleh dokter yang telah berhasil menamatkan Sarjana Kedokteran dan telah meraih gelar profesi dokter (dr). Sederhananya, seorang dokter yang ingin menguasai ilmu kedokteran tertentu harus menjalani program pendidikan profesi spesialis atau PPDS agar dapat menjadi dokter spesialis yang dikehendaki.

Cukupkah sekarang ini dengan dokter spesialis semacam itu? Sangat tidak cukup. Program Pendidikan Dokter Spesialis harus melakukan transformasi terus-menerus di segala lini. Ini karena secara tak terhindarkan PPDS hidup dalam waktu dan ruang yang juga terus bergerak.

Pendidik harus berubah, konten pendidikan berubah, peserta didik berubah, etika berubah, kebenaran berubah. Jangan lupa PPDS tak lahir di ruang kosong. Sistem politik berubah akan memengaruhi keberadaan dan eksistensinya.

Agar kokoh (tak terombang-ambing perubahan politik, misal-nya), PPDS harus dibangun di atas fondasi etika, keilmuan, dan kemanusiaan, serta keadilan yang kuat. Jika fondasinya gampang goyah (termasuk akibat perubahan politik), sangat dimungkinkan PPDS tak stabil. Gampang diombangambingkan oleh keaadaan.

Persoalannya sekarang, dalam era the net and the next, mahasiswa bukan lagi sebagai human. Mereka adalah poshuman. Mereka adalah makhluk-makhluk yang hidup dalam dunia hibrida, dunia yang terbelah, dunia yang skizofrenik.

Tak pelak pendidikan dokter spesialis harus memperhatikan keterbelahan dunia para mahasiswa yang kian menjadi-jadi. Pendidikan dokter spesialis harus memberikan kemungkinkan-kemungkinan yang bisa terjadi di dunia figital (dunia yang jalin-menjalin antara yang fisik dan digital).
**
Kehidupan dunia sosial yang berlaku saat ini juga mengubah segalanya. Digital behavior tak bisa diabaikan. Digital behavior paling tidak, pertama mengubah pola pikir yang semula berbasis dunia fisik ke dunia hibrida.

Kedua, tak mungkin sekarang tak hidup dalam situasi yang adaptif. Dalam soal pendidikan dokter spesialis, tak boleh berada dalam titik stagnan, melainkan mesti ke pendidikan doKter spesialis yang kontekstual.

Ketiga, mesti dipikirkan pola kerja dokter spesialis yang kolaboratif. Aib jika dokter spesialis bekerja sendiri. Kolaborasi adalah kata kunci, Pendidikan dokter spesialis dengan demikian harus dipenuhi dengan hal-hal yang eksperimental.

Ada penjelajahan metode. Ini akan mengakibatkan dokter spesialis punya multitarget. Dengan kata lain, program pendidikan dokter spesialis mesti melakukan aneka pembaruan. Berubah dari konvensional ke inkonvensional.

Jangan lupa komunikasi juga mesti diubah. Cara berelasi dengan klien, pasien, dan kolega lain harus menyesuaikan era the net and the next, mesti memperhatikan waktu layar dan kultur layar. Pasienpasien saat ini bukanlah pasien konvensional. Mereka mengakses segala informasi dengan dunia layar alias screen culture.
**
Dalam 3-5 tahun terakhir ini, kita juga hidup dalam era glokalisasi (bukan globalisasi). Karena itulah, dokter spesialis tak bisa bersandar kepada “yang nasional” maupun “yang global”.

Mereka mesti mengarah ke glokalisasi (jalin menjalin antara yang global dan lokal), harus memperhatikan hiperlokal atau potensi daerah. Tanpa memperhatikan hiperlokal atau potensi daerah Pendidikan Dokter Spesialis hanya menjadi pendidikan yang mengawang-awang.  Tak membumi.

Lalu karena ada perubahan dari human ke poshuman, ketenagakerjaan dokter spesialis juga mesti diarahkan ke poshuman. Intinya kita butuh tenagatenaga kerja yang memenuhi spesifikasi poshuman, figital, dan dunia yang hibrida.

Sulit? Tidak jika kita mengikuti kehendak zaman. Mengikuti kehendak zaman adalah mengikuti ke mana angin bertiup, mengikuti kebudayaan memproses dunia kesehatan dan kedokteran ke titik yang tak ditinggalkan klien.

Artinya janganlah dunia kedokteran dan kesehatan tak mengikuti perkembangan zaman. Itu berarti bisa memanfaatkan kecerdasan buatan, bisa memanfaatkan mukjizat dunia digital, dan tak berdiam di masa jahiliah kedokteran dan kesehatan.

Artikel Terkait

Scroll to Top