Kesehatan Ginjal

Pasien Ginjal dengan Nilai Fungsi Ginjal di Bawah 40 Tak Dianjurkan Puasa

Share

Puasa Ramadan dapat menjadi tantangan bagi sebagian orang dengan kondisi kesehatan tertentu, termasuk gangguan fungsi ginjal. Dokter Spesialis Urologi, Prof. Dr. dr. Nur Rasyid, Sp.U(K), menegaskan bahwa keputusan berpuasa sangat bergantung pada tingkat fungsi ginjal seseorang.

Menurutnya, pasien dengan gangguan fungsi ginjal berat, terutama dengan nilai GFR (Glomerular Filtration Rate) di bawah 40, tidak dianjurkan berpuasa.

“Kalau fungsi ginjal sudah turun, 40 ke bawah, sebenarnya tidak dianjurkan lagi puasa. Karena orang gangguan fungsi ginjal yang paling bahaya itu kekurangan cairan,” ujarnya

GFR merupakan angka yang menunjukkan kemampuan ginjal menyaring limbah dari darah dan dapat diketahui melalui pemeriksaan ureum dan kreatinin. Jika nilainya sudah di bawah 40, risiko dehidrasi saat puasa dapat memperburuk kondisi dan mempercepat penurunan fungsi ginjal.

Jangan Memaksakan Puasa
Di sisi lain, Prof. Rasyid juga mengingatkan bahwa dalam ajaran Islam, puasa Ramadan ditujukan bagi orang yang dalam kondisi sehat.  Maka dari itu, pasien dengan gangguan fungsi ginjal berat tidak perlu memaksakan diri.

“Islam jelas bahwa ibadah itu untuk orang yang sehat. Begitu GFR di bawah 40, sudah bayar fidyah selesai,” katanya.

Ia menegaskan bahwa memaksakan diri berpuasa saat kondisi tubuh tidak memungkinkan justru dapat membahayakan kesehatan. Keputusan berpuasa, menurutnya, sebaiknya didasarkan pada hasil pemeriksaan medis yang jelas. Dengan mengetahui nilai GFR secara objektif, pasien dapat menentukan langkah yang lebih aman tanpa mengambil risiko yang tidak perlu.

Mengatur Minum
Sementara itu, bagi orang dengan kondisi sehat, menjaga kecukupan cairan menjadi kunci utama saat menjalani puasa. Ia menjelaskan bahwa kebutuhan cairan tidak harus dibagi secara kaku setiap jam. Yang terpenting adalah memastikan total asupan cairan harian tetap terpenuhi sejak berbuka hingga sahur.

“Yang penting bukan waktunya yang dibagi rata, tetapi total minum kita,” ujarnya.

Artinya, cairan bisa dipenuhi secara bertahap. Saat berbuka, tubuh yang telah berpuasa seharian perlu segera mengganti cairan terlebih dahulu sebelum makan dalam porsi besar. Setelah itu, asupan cairan dapat dilanjutkan secara perlahan di malam hari dan kembali ditambah saat sahur.

“Begitu buka puasa, minum saja lebih banyak. Terus nanti lebih banyak lagi, tapi dekat-dekat tidur jangan banyak. Bangun sahur dibanyakin lagi,” jelasnya.

Cairan yang Dibutuhkan
Menurut Prof. Rasyid, kebutuhan cairan saat puasa bergantung pada usia dan kondisi tubuh. Ia menyarankan agar kebutuhan cairan dipenuhi secara bertahap tanpa harus terpaku pada pola tertentu. Yang terpenting, tubuh tidak sampai mengalami dehidrasi.

“Sebenarnya tergantung umur. Kalau makin tua, 1.500 ml cukup. Dua liter juga enggak masalah. Satu botol besar itu sekitar satu setengah liter,” jelasnya.

Dengan pemeriksaan rutin dan mengetahui kondisi fungsi ginjal masing-masing, seseorang dapat menentukan secara aman apakah dirinya layak menjalani puasa atau perlu mengambil keringanan sesuai anjuran medis dan agama.

Sumber: Kompas.com

Artikel Terkait

Scroll to Top