Kehadiran Fakultas Kedokteran menjadi favorit yang tidak hanya menarik minat mahasiswa, tetapi juga meningkatkan pendapatan lembaga. Banyak pimpinan perguruan tinggi mengakui manfaat besar dari keberadaan program studi atau fakultas ini.
Sejak dilantik sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO), Prof. Dr. H. Abdul Kadim Masaong, M.Pd., menghadapi berbagai dinamika di lingkungan akademik.
Saat awal menjabat, kondisi UMGO belum ideal, dengan struktur organisasi terlalu besar, banyak biro dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) namun efektivitas rendah. Ia mengambil langkah strategis dengan merampingkan fakultas dari delapan menjadi empat, menggabungkan biro, dan menyederhanakan UPT.
Restrukturisasi ini memberi arah baru bagi perkembangan kampus. Fakultas yang dinilai kurang efektif digabung, seperti Fakultas Pertanian ke Fakultas Sains dan Ilmu Komputer, Fakultas Ilmu Budaya ke Fakultas Ilmu Sosial, dan Fakultas Hukum menjadi program studi.
Setelah struktur kembali kokoh, ditambahkan Fakultas Psikologi yang awalnya bergabung dengan Fakultas Kesehatan, serta Fakultas Agama Islam yang berdiri sendiri sesuai regulasi. Puncaknya, pada 2023 Fakultas Kedokteran resmi berdiri.
“Fakultas Kedokteran menjadi salah satu terobosan penting untuk melahirkan tenaga medis di Gorontalo”. ujarnya
Faktor Ilahiah
Pendirian Fakultas Kedokteran adalah perjuangan panjang yang penuh tantangan. Salah satu tantangan terbesarnya adalah menyiapkan 26 dosen, termasuk 10 dosen di bidang biomedik yang langka karena banyak dokter lebih memilih jalur spesialis.
Persaingan untuk sumber daya ini terjadi hampir di semua perguruan tinggi di Indonesia. Berkat pendekatan silaturahim dan dukungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah se-Indonesia, jalan pun terbuka.
Abdul Kadim menjelaskan bahwa rintisan fakultas ini sudah ada sebelum ia menjadi rektor, namun terhambat oleh akreditasi institusi yang masih “C” dan moratorium pendirian fakultas kedokteran.
Momentum baru muncul ketika moratorium dibuka kembali pada November 2022. Meski UMGO adalah kampus kecil dengan sekitar 3.000 mahasiswa, peluang terbuka karena persyaratan di luar Jawa hanya membutuhkan akreditasi “Baik Sekali”. “Itulah faktor ilahiah.
Tanpa pertolongan Allah, sulit sekali,” ujarnya. Keberhasilan ini juga didukung faktor insaniah, yaitu kerja keras membangun jejaring dan silaturahim. Dukungan datang dari Universitas Muhammadiyah Surabaya, PP Muhammadiyah, hingga Pemerintah Daerah Gorontalo.
Setelah perjuangan 11 bulan, pada 2023 izin pendirian Fakultas Kedokteran UMGO resmi keluar. Kini fakultas ini memiliki gedung enam lantai yang representatif dan menjadi perguruan tinggi swasta kedua di wilayah LLDikti XVI (Sulawesi, Gorontalo, Maluku, dan Papua) yang memiliki Fakultas Kedokteran, selain Universitas Alkhairaat Palu.
Tonggak Baru
Keberadaan Fakultas Kedokteran menjadi tonggak baru bagi UMGO. Sejak resmi dibuka pada 2023, fakultas ini langsung mencuri perhatian karena tingginya minat meski kuota masih terbatas.
Abdul Kadim menyampaikan, awalnya Fakultas Kesehatan menjadi penopang finansial utama. Namun, dengan hadirnya Fakultas Kedokteran, UMGO tidak hanya memperluas daya tarik calon mahasiswa, tetapi juga memperkuat posisi ekonominya.
Kini fakultas ini telah memasuki angkatan ketiga, namun perjuangan belum selesai. Tantangan berikutnya adalah menjaga mutu, menguatkan sumber daya manusia, dan memastikan Fakultas Kedokteran benar-benar memberi kontribusi nyata bagi kesehatan masyarakat Gorontalo dan kawasan timur Indonesia.
Saat ini, Fakultas Kedokteran menerima 50 mahasiswa per tahun. Angkatan pertama hanya berjumlah 15 orang karena SK keluar terlambat, sedangkan angkatan kedua dan ketiga masing-masing diisi 50 mahasiswa.
“Peminatnya tetap tinggi. Dengan tambahan fakultas ini, UMGO kini sejajar dengan kampus-kampus besar di kawasan timur,” katanya.
Mahasiswa Berasrama
Untuk membangun ciri khas UMGO dan membedakan diri dari perguruan tinggi umum, Abdul Kadim menitikberatkan pada dua hal: budaya mutu dan identitas kampus. Sebagai institusi Islam Muhammadiyah, UMGO menjadikan program berasrama sebagai salah satu keunggulan.
Program ini berlaku untuk semua mahasiswa, dengan durasi setahun penuh bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran dan sekitar 4–5 bulan untuk program lain. Kegiatan meliputi penguatan soft skill, hard skill, kepemimpinan, dan aspek keagamaan.
Sebelum mengikuti, mahasiswa baru menjalani tes kemampuan membaca Alquran. Meski sempat menuai kritik dari orang tua mahasiswa kedokteran yang khawatir mengganggu studi, penelitian di Fakultas Kedokteran justru menunjukkan peserta asrama memiliki prestasi akademik lebih baik.
Jadwal kegiatan dibuat ketat untuk membentuk disiplin, berlangsung dari pukul 17.00 hingga 05.00 dengan ibadah berjamaah, pengajian, diskusi kelompok, dan evaluasi belajar, lalu dilanjutkan kegiatan akademik di kampus hingga pukul 17.00.
“Mahasiswa tetap bisa keluar dengan izin, siang hari melalui kaprodi dan malam hari melalui pimpinan asrama”. tambahnya
Pengalaman UMB Palopo
Prof. Dr. Hj. Nilawati Uly, S.Si., Apt., M.Kes., CIPA memulai karier sebagai Apoteker Penanggung Jawab Apotek di Sorowako setelah menyelesaikan Profesi
Apoteker di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 2004. Tahun 2006, ia mulai aktif mengajar di beberapa perguruan tinggi kesehatan dan dipercaya menjabat sebagai Plh. Ketua sekaligus Wakil Ketua STIKes.
Pada 2007, Nilawati membuka bimbingan belajar di Palopo melalui franchise Primagama. Melihat kesungguhan dan dedikasinya dalam bekerja serta mengelola perguruan tinggi milik orang lain, suaminya, H. Rahim Munir, S.P., M.M., yang dinikahinya pada 2006, mengajaknya mendirikan perguruan tinggi sendiri.
Mei 2008, berdirilah Yayasan Pendidikan Mega Buana Palopo. Juni 2009, STIKes Mega Buana Palopo resmi memperoleh izin membuka Program Studi S1 Keperawatan, S1 Kesehatan Masyarakat, dan D4 Bidan Pendidik sekaligus izin pendirian institusi.
Nilawati dipercaya menjadi Ketua, sementara sang suami menjabat Ketua Pembina Yayasan, dengan dukungan keluarga yang juga terlibat sebagai pengurus.
“Saya dan suami mendirikan STIKes Mega Buana Palopo yang pada 24 Agustus 2020 resmi berubah menjadi Universitas Mega Buana Palopo,” jelasnya.
Perkembangan Pesat
Sebagai Rektor UMB Palopo, Nilawati Uly menegaskan bahwa pendirian perguruan tinggi yang dipimpinnya adalah bentuk kepedulian terhadap pendidikan dan kesehatan di Kota Palopo.
Kampus ini hadir sebagai solusi bagi masyarakat di enam daerah—Kabupaten Luwu, Kota Palopo, Kabupaten Luwu Utara, Kabupaten Luwu Timur, Kabupaten Tana Toraja, dan Kabupaten Toraja Utara—untuk menempuh pendidikan tinggi di lingkungan representatif dengan biaya terjangkau.
Perkembangan layanan pendidikan terlihat dari jumlah program studi yang meningkat, dari lima pada 2020 menjadi 17 pada 2025, mencakup 1 program doktor, 2 magister, 4 profesi, dan 10 sarjana.
Dari sisi fasilitas, UMB Palopo membangun kampus di enam lokasi; tiga sudah aktif, tiga lainnya dalam proses pembangunan. Kampus 1 untuk Fakultas Hukum, Bisnis, dan Informatika; Kampus 2 untuk Rektorat dan Fakultas Kedokteran; Kampus 3 untuk Fakultas Kesehatan.
Untuk keberlanjutan pendidikan, dibuka Program Studi S1 Kebidanan terintegrasi Profesi Bidan, serta didirikan CBT Center gratis bagi lulusan tenaga kesehatan—pertama di Tana Luwu dan Tana Toraja.
Inovasi ini menarik minat pendaftar dari dalam maupun luar provinsi. Sistem hybrid learning untuk kelas karyawan memperluas akses, mayoritas di bidang kesehatan.
Pada 2012, Program Studi D4 Bidan Pendidik menjadi yang pertama di Indonesia Timur meraih akreditasi B dari BAN-PT. UMB Palopo pun menjadi perguruan tinggi pertama di Tana Luwu dan Tana Toraja yang
Fakultas Kedokteran
UMB Palopo menjadi PTS pertama di wilayah timur yang meraih akreditasi Baik Sekali dari BAN-PT, menandai peningkatan mutu pendidikan dan tata kelola institusi. Kampus ini membuka Program Doktor Kesehatan Masyarakat, satu-satunya di luar Kota Makassar.
Selain itu, UMB Palopo menjadi perguruan tinggi pertama yang memiliki rumah sakit di luar Makassar dan menyediakan CBT Center untuk tenaga kesehatan di wilayah Tana Luwu dan Tana Toraja.
Fakultas Kedokteran dibina langsung oleh Universitas Hasanuddin. UMB Palopo juga menjadi yang pertama membuka pendidikan kedokteran umum dan kedokteran gigi di luar Kota Makassar, Sulsel.
Antusiasme masyarakat terlihat sejak proses visitasi lapangan, dengan dukungan pemerintah dan jumlah pendaftar mencapai 600 orang untuk 50 kuota.
Semangat ini mendorong dibukanya Program Studi S1 Kedokteran Gigi dan Profesi Dokter Gigi pada 2025.
“Dengan dibukanya program studi ini juga menjadi rujukan bagi PTS lain untuk membuka program studi kedokteran”. katanya.
Pengalaman UKIM
Perjalanan Dr. Hengky Herson Hetharia, M.Th., dari seorang pendeta hingga menjadi Rektor Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) adalah kisah panggilan iman yang berkembang menjadi panggilan akademik.
Kini ia memimpin kampus kebanggaan masyarakat Maluku yang terus tumbuh menjadi universitas multi-disiplin. UKIM memiliki Fakultas Teologi, Teknik, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Ekonomi, Kesehatan, Ilmu Komputer, Hukum, serta Program Pascasarjana.
Jumlah program studi meningkat pesat hingga 18, mencakup jenjang D3, S1, profesi, S2, dan S3. Meski berkembang dengan banyak disiplin ilmu, UKIM tetap mempertahankan citra teologi sebagai ciri khas yang menjadi akar pengembangan visi akademik, memperluas jangkauan tanpa meninggalkan dasar rohani.
Sejak memimpin pada 2021, Dr. Hengky berhasil membuka tiga program studi baru, memperkuat akademik dengan 185 dosen termasuk lima guru besar.
Ke depan, UKIM menargetkan bersaing tidak hanya di Maluku tetapi juga secara nasional, dengan fokus pada peningkatan kualitas pendidikan, penguatan akreditasi, dan perluasan jejaring kerja sama internasional.
Buka Fakultas Kedokteran
Selain fokus pada akreditasi, UKIM juga tengah menyiapkan pembukaan fakultas baru. Dr. Hengky menjelaskan bahwa pada 2023, Direktur Kelembagaan Kemdikbudristek berkunjung ke UKIM dan mendorong kampus ini membuka Fakultas Kedokteran.
Dorongan ini muncul karena di Maluku saat ini hanya ada satu fakultas kedokteran, yaitu di Universitas Pattimura (Unpatti). UKIM dinilai layak karena sudah memiliki Fakultas Kesehatan yang besar serta didukung oleh Rumah Sakit Gereja sebagai syarat utama pendirian fakultas kedokteran.
UKIM pun berhasil beradaptasi dari konsep Kampus Merdeka menuju Kampus Berdampak. Pada masa Kampus Merdeka, mahasiswa aktif mengikuti pertukaran, magang, dan KKN, sementara dosen mengembangkan riset dan pengabdian dengan dukungan pendanaan kementerian.
Memasuki era Kampus Berdampak, kontribusi mahasiswa, dosen, dan institusi UKIM semakin nyata dan langsung dirasakan masyarakat. “Salah satu ciri khas UKIM yang kini menjadi perhatian nasional adalah Program Studi S3 Doktor Agama dan Kebangsaan,” ujarnya.













