Dr. Ir. Sahat Sihombing, M.M., M.H., CERG. - Direktur Utama PT Indofarma Tbk

Direktur Utama PT Indofarma Tbk. – Sehatkan Indofarma dari Beban Keuangan

Share

Dr. Ir. Sahat Sihombing, M.M., M.H., CERG, lulusan Teknik Planologi ITB, telah melalaui perjalanan panjang di dunia industri dan keuangan nasional. Selepas menyelesaikan studi di ITB, Sahat melanjutkan pendidikan Magister Manajemen Keuangan di Sekolah Tinggi Pusat Pengembangan Managemen (ST PPM), Magister Hukum Bisnis di Universitas Kristen Indonesia (UKI), dan meraih gelar Doktor Administrasi Bisnis dari Universitas Brawijaya.

Kariernya dimulai di sektor perbankan, termasuk di Bank BTN sebagai Kepala Divisi Dana dan Credit Collection. Ia kemudian menjabat sebagai Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan SDM PT Indofarma Tbk (2021–2022), sebelum mendirikan PT Kaldera Toba Internasional sebagai CEO.

Pada Juni 2025, ia diangkat menjadi Direktur Utama PT Indofarma Tbk melalui RUPST, di tengah tantangan besar yang dihadapi perusahaan.

Indofarma, sebagai BUMN farmasi, tengah berada dalam tekanan berat akibat beban utang besar, keterbatasan likuiditas, dan tantangan menjaga keberlanjutan operasional.

Tantangan utama adalah restrukturisasi keuangan melalui PKPU, yang menuntut pemenuhan kewajiban pascahomologasi serta koordinasi dengan kreditur dan pemegang saham.

“Kami menyadari pelaksanaan kewajiban hukum pascahomologasi bukan hal yang mudah, namun Indofarma berkomitmen penuh untuk menjalankannya,”
katanya.

Efisiensi dan Restrukturisasi
Di sisi operasional, efisiensi dan penyesuaian skala usaha menjadi perhatian utama, termasuk pengendalian biaya dan penataan organisasi agar seimbang dengan kemampuan finansial.

Sahat optimistis dapat memperbaiki kinerja keuangan tanpa menghentikan fungsi utama indofarma sebagai produsen dan distributor produk kesehatan.

“Proses restrukturisasi ini tidak mempengaruhi operasional maupun produksi. Seluruh lini usaha berjalan normal, termasuk pemenuhan permintaan pasar,
produksi, dan distribusi produk kesehatan,” katanya.

Tantangan selanjutnya adalah dampak sosial dari kebijakan penyehatan perusahaan, termasuk penyesuaian jumlah tenaga kerja. Manajemen Indofarma menjelaskan bahwa kebijakan ini merupakan bagian dari restrukturisasi menyeluruh dan dijalankan sesuai ketentuan perundang-undangan.

Sahat menegaskan langkah-langkah tersebut dilakukan demi menjaga kelangsungan perusahaan di tengah keterbatasan sumber daya. Selain pembenahan internal, Indofarma juga menjadi sorotan publik sebagai perusahaan farmasi milik negara.

Karena itu, tata kelola dan kepercayaan pemangku kepentingan menjadi fokus penting. “Kami berkomitmen menjaga integritas dan transparansi. Dengan dukungan pelanggan, karyawan, pemasok, dan pemegang saham, Indofarma mempertahankan kepercayaan publik dan investor,” ujarnya.

Konsistensi Manajemen
Sahat konsisten memimpin manajemen dalam menjalankan restrukturisasi keuangan. Dari sisi pendanaan, ia berhasil mendapatkan dukungan dari pemegang saham pengendali.

Penandatanganan perjanjian pinjaman sekitar Rp220 miliar dengan PT Bio Farma (Persero) menjadi langkah nyata untuk menjaga likuiditas dan kelangsungan operasional perusahaan.

Pinjaman ini tidak berdampak negatif terhadap operasional maupun kondisi hukum, melainkan berfungsi sebagai penyangga sementara selama masa pemulihan.

Sahat juga memaparkan arah strategis Indofarma, termasuk pengembangan Multi Parameter Telehealth Vitalsign Monitoring System yang sudah diuji di berbagai kota dan mendapat sertifikasi dari Sucofindo serta Kementerian Kesehatan.

Indofarma tetap fokus pada inovasi dan layanan kesehatan, terutama untuk menjangkau wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar).

Hingga laporan keuangan kuartal III-2025, perusahaan masih mengalami kerugian dan tekanan finansial signifikan, tanpa pencapaian laba atau pemulihan besar dalam enam bulan pertama kepemimpinan Sahat.

Kondisi ini menunjukkan bahwa periode awal lebih diarahkan untuk membangun fondasi dan menjaga stabilitas daripada mengejar hasil finansial jangka pendek.

“Enam bulan pertama kami adalah fase konsolidasi dan penataan ulang, termasuk pengamanan likuiditas lewat dukungan pemegang saham dan upaya menjaga relevansi perusahaan melalui inovasi produk,” katanya.

Program ke Depan
Sahat Sihombing melihat masa depan Indofarma tak lepas dari peran inovasi teknologi kesehatan untuk menjawab tantangan akses layanan. Menurutnya, teknologi adalah solusi sistemik bagi kesenjangan layanan kesehatan nasional.

Pengembangan telehealth menjadi bagian penting untuk memperluas jangkauan layanan. Pemikirannya tentang masa depan industri farmasi melampaui pendekatan konvensional, karena model biopharma tradisional akan menemui batas jika tidak disertai terobosan teknologi dan pendekatan baru.

Ia menekankan perlunya pergeseran paradigma ke arah inovasi berbasis pencegahan dan teknologi digital.

“Traditional biopharma bisa dikalahkan lewat breakthrough innovation, seperti pencegahan dan deteksi dini, customized treatments, curative therapies, serta digital therapeutics,” ujarnya.

Visi ke depan Sahat juga tercermin dari fokusnya pada tata kelola dan integritas sebagai fondasi transformasi. Restrukturisasi, menurutnya, harus berlandaskan kepatuhan regulasi dan prinsip good corporate governance.

Stabilitas hukum dan tata kelola ia anggap sebagai syarat agar perusahaan bisa kembali berperan strategis di industri farmasi nasional tanpa mengorbankan kredibilitas institusi.

Perbankan ke Farmasi
Karier Sahat Sihombing berawal dari sektor perbankan, yang membentuk fondasi profesionalnya dalam bidang keuangan, manajemen risiko, dan pengelolaan organisasi.

Bekal tersebut menjadi modal penting saat ia terjun ke industri farmasi nasional. Pada 2021–2022, ia dipercaya menjabat sebagai Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Sumber Daya Manusia PT Indofarma Tbk,

posisi yang menempatkannya di pusat pengelolaan BUMN farmasi dengan tanggung jawab mencakup penataan keuangan, pengendalian risiko, dan pengelolaan SDM.

Usai menyelesaikan masa tugasnya, ia memilih jalur kewirausahaan dan pada 2022–2025 mendirikan serta memimpin PT Kaldera Toba Internasional sebagai Founder dan CEO.

Pengalaman lintas sektornya membantu saat memimpin Indofarma melewati fase krusial yang memerlukan penataan ulang fundamental perusahaan.

Berbekal Ilmu Teknik Keuangan dan Hukum

Fondasi akademiknya dibangun di Institut Teknologi Bandung (ITB), tempat Sahat menempuh pendidikan Sarjana Teknik Planologi. Pendidikan teknik ini membekalinya dengan cara berpikir sistematis, kemampuan analisis ruang dan kebijakan, serta pendekatan terstruktur dalam memecahkan persoalan kompleks.

Sahat mengembangkan dasar keilmuannya lewat pendidikan pascasarjana yang tak hanya berfokus pada satu bidang, tetapi mencakup spektrum ilmu yang saling melengkapi.

Ia meraih Magister Manajemen Keuangan di Sekolah Tinggi PPM, institusi ternama dalam pengembangan manajemen dan kepemimpinan profesional di Indonesia,

lalu melanjutkan dengan Magister Hukum Bisnis di Universitas Kristen Indonesia (UKI) yang memberinya pemahaman mendalam soal aspek legal korporasi, kontrak bisnis, kepatuhan regulasi, dan tata kelola perusahaan, khususnya dalam konteks badan usaha dan BUMN.

Puncak pendidikannya ia capai melalui Program Doktor Administrasi Bisnis di Universitas Brawijaya, di mana ia mendalami strategi dan kebijakan pengelolaan organisasi, kepemimpinan, pengambilan keputusan tingkat atas, serta dinamika perubahan di dunia bisnis dan institusi.

Pengalaman ini menjadi bekal berharga saat memimpin perusahaan farmasi dalam situasi yang menuntut ketepatan analisis, kepatuhan regulasi, dan keberanian mengambil keputusan.

Sahat juga memiliki keterikatan erat dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai alumnus Teknik Planologi, yang kerap disebut dalam profil resmi dan dokumen korporasi hingga ia dipercaya memimpin PT Indofarma Tbk.

Secara profesional, ia pernah menjadi pembicara di forum PRIMA × CEO Summit ITB 2025 di kampus Ganesha, membahas tantangan industri kesehatan dan inovasi teknologi sebagai pimpinan BUMN farmasi mengenai tantangan industri kesehatan dan inovasi teknologi.

Saat masih menjabat sebagai Direktur Keuangan Indofarma, pernah mewakili perusahaan dalam penyaluran bantuan logistik kesehatan melalui jaringan alumni ITB pada masa pandemi.

 

Artikel Terkait

Scroll to Top