Ini adalah gambaran visual dari ketangguhan layanan kesehatan yang melintasi zaman. Untuk memahami jiwa institusi ini, kita perlu memutar waktu seratus tahun ke belakang.
Tahun 1925, suasananya sangat berbeda. Di sebuah gang sempit bernama Gang Gambiran, beberapa sosok visioner meletakkan batu pertama sebuah poliklinik sederhana.
Tak ada peralatan canggih, pendingin ruangan, apalagi sistem digital. Yang ada hanyalah semangat filantropi dan tekad tulus untuk memberi layanan kesehatan bagi masyarakat yang kala itu hidup dalam keterbatasan.
Kini, di akhir tahun 2025, poliklinik kecil itu telah menjelma menjadi raksasa medis yang memadukan kecanggihan High Tech dengan kehangatan High Touch.
Menapaki usia satu abad, RS Telogorejo membuktikan bahwa eksistensinya bukan sekadar keberuntungan sejarah, melainkan narasi ketangguhan yang mampu melewati masa kolonial, revolusi kemerdekaan, hingga tantangan pandemi global.
Seratus tahun bukan hanya perayaan usia, tapi simbol evolusi dari harapan sederhana menjadi pusat inovasi medis berstandar internasional. Dari Gang Gambiran menuju Simpang Lima, RS Telogorejo telah membangun jembatan satu abad yang menyatukan dedikasi masa lalu dengan visi masa depan.
Sejarah & Fondasi
Bertahan hingga satu abad bukanlah hal yang umum tanpa fondasi yang kokoh. Bagi RS Telogorejo, fondasi itu tertanam sejak 1 Desember 1925 saat berdirinya poliklinik kecil di bawah naungan yayasan yang kini dikenal sebagai Yayasan Kesehatan Telogorejo.
Berawal dari inisiatif komunitas Tionghoa di Semarang dengan semangat filantropi, sejak awal rumah sakit ini tidak dimaksudkan semata sebagai unit bisnis, melainkan wujud nilai “kasih” yang inklusif.
Perjalanan seratus tahun ini jauh dari mulus. Sebagai lembaga yang tumbuh bersama Republik, RS Telogorejo melewati berbagai krisis besar—tetap berdiri di tengah depresi ekonomi 1930-an, beroperasi saat pendudukan Jepang, hingga bertahan pada masa transisi kemerdekaan Indonesia yang penuh gejolak.
Ketangguhan ini lahir dari kemampuan manajemen beradaptasi menghadapi perubahan politik dan ekonomi nasional tanpa meninggalkan misi sosialnya. Kuncinya ada pada kesinambungan pengelolaan yang baik.
Di bawah kendali Yayasan, rumah sakit ini menerapkan manajemen transparan dan visioner. Estafet kepemimpinan antar generasi dilakukan rapi, memastikan kebijakan baru tetap berpegang pada nilai luhur pendiri namun relevan dengan perkembangan zaman.
Profesionalisme yang dibalut empati menjaga kepercayaan masyarakat. RS Telogorejo bukan sekadar institusi medis, tapi warisan manajemen yang membuktikan bahwa jika dikelola dengan hati melayani dan sistem yang kuat, waktu justru memperkokoh fondasinya.
Menuju Smart Hospital
Memasuki milenium baru, RS Telogorejo mengambil langkah berani dengan merebranding diri menjadi SMC (Semarang Medical Center) RS Telogorejo.
Transformasi ini bukan sekadar pergantian logo, tetapi pernyataan visi untuk menjadi pusat kesehatan rujukan utama yang mengintegrasikan layanan klinis, riset, dan teknologi.
Perubahan terlihat jelas dari evolusi infrastrukturnya; dari gedung rumah sakit konvensional menjadi fasilitas medis modern dengan kapasitas ratusan tempat tidur dan fasilitas setara hotel bintang lima.
Pencapaian prestisius di usia satu abad adalah diraihnya validasi HIMSS EMRAM Stage 6, bukti bahwa rumah sakit telah menerapkan sistem rekam medis elektronik yang hampir sepenuhnya paperless dan terintegrasi cerdas.
Bagi pasien, digitalisasi ini bukan sekadar teknologi canggih, tetapi jaminan keselamatan dan efisiensi, tanpa lagi membuang waktu mencari berkas fisik atau risiko kesalahan input manual, karena semua informasi medis mengalir real-time ke meja dokter dan perangkat perawat.
Modernisasi fisik dan digital saja tidak cukup; RS Telogorejo paham bahwa inti layanan kesehatan adalah manusia. Karena itu, STIKES Telogorejo ditransformasi menjadi Universitas Telogorejo Semarang (UNTS),
menciptakan ekosistem pendidikan dan kesehatan mandiri yang menghasilkan SDM berkualitas seperti perawat, bidan, dan tenaga kesehatan profesional.
Didukung lebih dari 100 dokter spesialis dan subspesialis serta ratusan tenaga medis kompeten, RS Telogorejo kini bukan hanya tempat penyembuhan, tetapi juga pusat pengembangan ilmu pengetahuan.
Integrasi antara rumah sakit dan universitas inilah yang menjadi jaminan bahwa standar layanan medis yang tinggi di Telogorejo akan terus berlanjut secara berkesinambungan hingga masa depan.
Inovasi Medis
Di usia satu abadnya, SMC RS Telogorejo tak hanya merayakan sejarah, tetapi juga menatap masa depan kedokteran di Indonesia lewat tema “Future of Hope”.
Salah satu lompatan teknologi paling menonjol adalah investasi besar pada Bedah Robotik, yang memungkinkan dokter spesialis melakukan operasi dengan presisi, stabilitas, dan kendali melebihi kemampuan tangan manusia.
Bagi pasien, ini berarti sayatan lebih kecil, risiko pendarahan minim, dan pemulihan jauh lebih cepat—sebuah standar baru dalam layanan bedah modern. Tak berhenti di situ,
RS Telogorejo juga mengadopsi Precision Medicine, pengobatan berbasis profil genetik atau DNA yang disesuaikan secara personal, menjadi kunci penanganan penyakit kompleks seperti kanker dan penyakit degeneratif.
Inovasi pun merambah ke Rehabilitasi Medik yang kini diperkaya teknologi robotik melalui Paket ROMEO, membantu pasien pasca-stroke atau cedera saraf melatih kembali fungsi motorik secara terukur dan presisi demi mempercepat pemulihan.
Di balik kemegahan teknologi robotik dan laboratorium genetik yang canggih, RS Telogorejo tetap setia pada semangat sosialnya. Sebagai hadiah satu abad, diluncurkan program “100 Operasi Gratis” sebagai pesan bahwa secanggih apa pun teknologi, ia hanyalah alat untuk mengabdi pada kemanusiaan.
Di RS Telogorejo, inovasi masa depan dan dedikasi sosial berjalan beriringan, memastikan bahwa kemajuan medis dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
Menatap Abad Kedua Bertumpu Teknologi AI
Keberhasilan mencapai usia 100 tahun bukanlah titik henti bagi manajemen SMC RS Telogorejo. Dalam sebuah refleksi strategis, Direktur Utama SMC RS Telogorejo, dr. Alice Sutedjo Lisa, menekankan bahwa esensi dari perayaan satu abad ini adalah persiapan menuju lompatan berikutnya. Ia sering menegaskan bahwa adaptabilitas adalah kunci utama keberlangsungan institusi.
Kami tak hanya merayakan pencapaian yang telah diraih, tetapi juga merancang kontribusi untuk seratus tahun ke depan,” ujarnya. Strategi rumah sakit kini berfokus pada integrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam diagnosa medis.
AI diharapkan menjadi asisten cerdas bagi dokter dalam menganalisis data radiologi dan patologi dengan akurasi lebih tinggi dan waktu lebih singkat. Selain teknologi, penguatan pusat riset kesehatan melalui kolaborasi dengan Universitas Telogorejo menjadi prioritas utama.
Visi pimpinan adalah menjadikan RS Telogorejo sebagai Academic Medical Center, di mana praktik klinis dan penelitian ilmiah berjalan beriringan. Meski melaju cepat di jalur digitalisasi,
Ketua Yayasan Kesehatan Telogorejo, Ir. Hendro Sutantyo, terus mengingatkan pentingnya etika medis. Komitmen mereka jelas: RS Telogorejo akan tetap adaptif terhadap perubahan zaman,
namun tak akan meninggalkan nilai-nilai etika dan integritas yang telah menjadi fondasi sejak masih berupa poliklinik kecil di Gang Gambiran. Perjalanan satu abad SMC RS Telogorejo membuktikan bahwa institusi yang berdiri di atas dasar kemanusiaan dan dikelola profesional mampu melampaui batas zaman.
Ia telah menjadi saksi sejarah kesehatan di Kota Semarang sekaligus aktor utama transformasi medis di Indonesia. Kini, saat lampu-lampu di Simpang Lima menyala dan gedung megah Telogorejo memantulkan cahaya,
janji itu tetap terjaga: dedikasi untuk memberi kesembuhan dan harapan bagi setiap pasien tak akan pernah padam. Jika abad pertama adalah membangun fondasi kokoh lewat nilai dan tradisi, maka abad kedua adalah akselerasi tanpa batas menuju pelayanan medis yang lebih inovatif.
“Seratus tahun telah berlalu, namun bagi RS Telogorejo, ini hanyalah sebuah awal baru. Sesuai dengan semangatnya, ia akan terus menjadi “Future of Hope”—masa depan yang memberikan harapan bagi generasi yang akan datang,” katanya.













