Berobat di Singapura apalagi di private hospital biayanya sangat tinggi, demikian pula biaya hidup untuk yang mendampingi. Singapura sekarang merupakan kota termahal di dunia.
Bahkan bagi masyarakat Singapura sendiri berobat di Singapura itu mahal, padahal mereka dirawat di rumah sakit umum yang mendapatkan subsidi dari pemerintahnya.
Data mengenai jumlah orang Indonesia yang berobat di Singapura, angka pastinya, KBRI tidak punya datan. Orang yang berobat tidak pernah melaporkan atau memberitahukan.
Mereka umumnya baru menghubungi KBRI kalau ada masalah seperti perlu perpanjangan izin tinggal atau mengurus surat-surat berkaitan dengan keperluan pasien.
Seseorang memilih layanan kesehatan di Singapura bisa karena dua hal. Pertama karena saran dari dokter yang menangani di Indonesia. Atau kedua diberitahu sanak saudara atau pun teman agar lebih baik berobat ke Singapura.
Lebih Perhatian
Layanan dokter di Singapura memang lebih baik karena dokternya lebih perhatian dan lebih menjelaskan.
Kedua peralatan di Singapura memang lebih canggih misalnya alat radiotherapy yang menggunakan proton sehingga lebih tepat sasaran.
Ketiga, paramedis lebih terampil dalam menggunakan teknologi kedokteran dan dokter lebih tajam menganalisis hasil pemeriksaan.
Keempat, penanganan di Singapura lebih higienis. Kelima, waktu perawatan di rumah sakit lebih singkat karena pasien diminta untuk keluar rumah sakit ketika dianggap sudah bisa memulihkan dirinya sendiri.
KBRI di Singapura juga tidak memiliki data mengenai tren jumlah masyarakat Indonesia yang berobat ke Sungapura. Tetapi kecenderungan memilih berobat di Singapura seperti dua alasan yang tersebut di atas, tetap tinggi dan mungkin meningkat.
Kelompok masyarakat tertentu bahkan lebih percaya untuk ditangani di Singapura. Ada juga kelas menengah Indonesia banyak yang berobat ke negara lain seperti Penang Malaysia dan Bangkok Thailand.
Semua Bisa
Sebenarnya, semua bisa ditangani di Indonesia, tetapi perawatan kesehatan berkaitan dengan keyakinan, atas dasar kepercayaan.
Untuk penyakitpenyakit yang memerlukan penanganan khusus orang memilih ke Singapura karena dokter yang tersedia bukan terbatas pada spesialis, tetapi sudah sub-sub spesalis.
Sebagai contoh dokter ortopedik di Singapura bukan hanya ahli tulang tetapi bagian khusus dari bagian tulang. Ada spesialis lengan bagian atas sebagai contoh.
Dokter-dokter di Singapura secara reguler mengikuti program peningkatan kapasitas di luar negeri sehingga mereka well informed dengan penanganan dan teknologi terbaru.
Tidak ada orang yang pergi berobat ke luar negeri untuk wisata. Itu dua hal yang tidak bisa digabungkan. Kalau keluarga kita sakit maka tidak mungkin pikiran kita untuk jalan-jalan. Apalagi biaya di Singapura sekarang ini paling mahal di dunia.
Hanya saja sebagai negara jasa, Singapura memfokuskan sektor kesehatan sebagai bidang jasa yang prospektif. Karena itu mereka mendorong layanan kesehatan sebagai salah satu yang terbaik di dunia.
Persaingan Bisnis
Singapura selalu melihat bisnis sebagai sebuah persaingan. Untuk bisa memenangi persaingan harus memiliki kualitas. Peningkatan kualitas itu yang selalu dilakukan para pemangku kepentingan sektor kesehatan di Singapura.
Kalau Malaysia, Thailand melihat jasa kesehatan sangat prospektif sangat wajar. Belanja kesehatan di dunia nilainya semakin tinggi. Singapura tidak mungkin meraup semua peluang itu karena jumlah kamar rumah sakit di Singapura juga terbatas.
Mereka total hanya memiliki sekitar 10 ribu tempat tidur. Waktu terjadi pandemi COVID-19 Singapura membatasi jumlah orang dirawat karena semua fasilitas
kesehatan diprioritaskan untuk orang Singapura atau mereka yang tinggal di negeri tersebut.
Banyak dokter asal Indonesia yang sekolah di luar negeri berpraktek di Singapura. Sebenarnya dokter Indonesia lulusan luar negeri maunya praktik di Indonesia, karena secara ekonomi orang Indonesia juga kuat dan jumlahnya banyak.
Hanya saja mereka terkendala izin praktik. Karena mereka tidak bisa menerapkan ilmunya, mereka mencari tempat kerja di negara lain.
Best Practises
Untuk mengurangi orang yang berobat ke luar negeri, layanan Kesehatan di Indonesua harus menerapkan best practices seperti di negara – negara
yang lebih maju.
Pertama jumlah tenaga medis maupun paramedis harus mencukupi. Ada jumlah dokter per penduduk yang harus terpenuhi termasuk jumlah spesialisnya.
Dengan hanya 200 ribu dokter untuk menangani 280 juta penduduk jauh dari mencukupi.
Kedua, tenaga medis harus meningkatkan kemampuan karena dunia kedokteran berkembang luar biasa. Peralatan kedokteran harus mencukupi dan ditangani oleh orang yang terampil.
Orang berobat tidak membutuhkan kemewahan, tetapi penanganan yang cepat dan akurat. Penanganan kesehatan harus dekat dengan tempat tinggal orang yang membutuhkan perawatan.
Tidak mungkin orang sedang kesakitan harus terbang dulu ke kawasan khusus kesehatan. Bukan hanya biayanya lebih mahal, tetapi dalam kesehatan dikenal adanya golden hours dalam penanganan.
Kesehatan bukan bisnis apalagi ekonomi, tetapi untuk menjaga kualitas kehidupan warga. Persoalan well-being, persoalan dimanusiakan. Pemerintah Singapura berupaya memberikan kualitas kehidupan kepada warganya.
Di Singapura kalau ada orang yang membutuhkan penanganan segera, tidak pernah ditanyakan siapa yang menjamin biaya kesehatannya, harus terlebih dahulu menempatkan uang deposit,
tetapi diselamatkan dulu jiwa pasien yang membutuhkan penanganan. Itu berlaku kepada semua termasuk kepada mereka yang sedang berkunjung ke Singapura.
***













