Untag Semarang

Prof. Dr. Drs. Suparjo, M.P. – Menjaga Nasionalisme Perkuat Internasionalisasi

Share

Sebelum menekuni dunia akademik, Prof. Dr. Drs. Suparjo, M.P., sempat bekerja di sektor swasta serta aktif sebagai penulis buku pendidikan kewarganegaraan untuk anak sekolah dasar. Ia tercatat menulis sedikitnya 12 judul buku yang digunakan sebagai bahan penunjang pembelajaran.

Ia bergabung sebagai dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang sejak 1985.

Dalam perjalanan kariernya, ia pernah menjabat sebagai Pembantu Dekan, Kepala Pengabdian kepada Masyarakat, serta Dekan Fakultas Ekonomi selama dua periode.

Ia dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang ilmu manajemen di Untag Semarang pada 2023. Di lingkungan badan pengelola dan yayasan, ia mengemban berbagai amanah, antara lain sebagai Sekretaris Pengurus periode 2003 hingga 2020, Ketua Pengawas pada 2021, serta Wakil Ketua
Pengurus periode 2022 hingga 2025.

Puncak pengabdian panjangnya di Untag Semarang dicapai setelah hampir 40 tahun berkiprah sebagai akademisi dan pengelola institusi, ketika ia dipercaya memegang kepemimpinan universitas secara penuh sebagai Rektor untuk masa bakti 2025 hingga 2030.

Sebagai rektor, ia memfokuskan kebijakan pada penguatan tata kelola perguruan tinggi, khususnya penataan administrasi dan keuangan berbasis good university governance, serta percepatan internasionalisasi Tridharma Perguruan Tinggi.

Penguatan Tata Kelola
Menurut Suparjo, penguatan tata kelola menjadi fondasi utama bagi perguruan tinggi yang ingin tumbuh sehat dan berdaya saing.

Tanpa sistem pengelolaan yang jelas dan disiplin, berbagai program akademik akan berjalan lambat
dan tidak terukur.

Karena itu, ia menempatkan pembenahan tata kelola sebagai agenda awal kepemimpinannya di Untag Semarang.

Salah satu fokus utamanya, penataan administrasi dan keuangan berbasis prinsip good university governance.

Selama ini, sistem keuangan di Untag Semarang belum sepenuhnya terpusat sehingga proses pengambilan keputusan kerap membutuhkan waktu panjang.

Kondisi tersebut dinilai menghambat respons institusi terhadap dinamika akademik dan persaingan antar perguruan tinggi.

Suparjo mendorong penerapan centralized financial management agar perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi keuangan berjalan lebih efisien.

Ia menilai keuangan sebagai elemen vital dalam organisasi. Tanpa aliran keuangan yang sehat, institusi pendidikan tinggi akan kesulitan menjalankan tridharma secara optimal.

“Keuangan itu darah organisasi. Kalau alirannya tidak sehat, seluruh sistem akan terganggu,” ujarnya.

Internasionalisasi Akademik
Rendahnya aktivitas internasional masih menjadi tantangan bagi Untag Semarang. Hal ini tercermin dalam hasil asesmen akreditasi, di mana sejumlah program studi belum meraih predikat unggul meskipun didukung sumber daya dosen yang memadai.

Menurut Suparjo, internasionalisasi tidak cukup dilakukan secara parsial. Kegiatan berskala internasional harus terintegrasi dalam pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Selama ini, aktivitas internasional kerap terbatas pada seminar atau kunjungan singkat dengan dampak yang belum signifikan.

Sebagai langkah konkret, Untag Semarang mulai mengirim dosen sebagai pengajar paruh waktu ke universitas luar negeri, antara lain di Filipina dan Malaysia.

Program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas dosen, tetapi juga membuka jejaring
internasional bagi mahasiswa dan institusi.

Di tingkat pascasarjana, mahasiswa program magister dan doktor diarahkan mengikuti kuliah kerja lapangan serta kegiatan akademik di luar negeri.

Ia juga terlibat langsung mendampingi mahasiswa doktoral dalam berbagai aktivitas akademik internasional.

Internasionalisasi turut diarahkan pada pengabdian kepada masyarakat melalui kolaborasi lintas negara, sehingga kegiatan tersebut tidak sekadar memenuhi laporan beban kerja dosen, tetapi
benar-benar berdampak dan berkualitas.

“Kalau ingin unggul, tridharma harus kita bawa ke level internasional, bukan hanya administrasinya,” ujarnya.

Identitas Nasional
Suparjo menilai tantangan utama perguruan tinggi swasta saat ini terletak pada kemampuan beradaptasi dengan persaingan global tanpa meninggalkan nilai dasar institusi.

Karena itu, menjaga nasionalisme dan nilai Pancasila sebagai identitas Untag Semarang menjadi penting, sekaligus membuka ruang kolaborasi internasional yang lebih luas.

Menurutnya, perguruan tinggi perlu berani tampil di level internasional tanpa kehilangan jati diri. Untag Semarang sejak awal berdiri membawa nasionalisme dan Pancasila sebagai identitas utama.

Ciri khas ini menjadi kekuatan sekaligus tantangan. Nasionalisme relatif mudah diucapkan, tetapi tidak selalu mudah diterjemahkan ke dalam penelitian dan pengabdian yang terukur dan berdampak.

Ia mengakui bahwa dibandingkan perguruan tinggi berbasis agama, identitas nasionalisme menuntut pendekatan yang lebih kreatif agar dapat diwujudkan dalam program akademik.

Karena itu, Untag Semarang terus mencari bentuk aktualisasi nasionalisme yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

“Nasionalisme itu harus bekerja, bukan hanya dikatakan,” ujarnya.

Pendidikan Inklusif
Untag Semarang memiliki 6 fakultas dan 19 program studi yang tersebar di Fakultas Hukum, Ekonomi, FISIP, Teknik, Teknologi Pertanian, serta Fakultas Budaya dan Bahasa.

Keragaman bidang ini menjadi fondasi pengembangan akademik yang menyentuh aspek hukum, sosial, ekonomi, teknologi, hingga kebudayaan.

Salah satu program yang mendapat perhatian nasional adalah Pendidikan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Program studi ini menjadi satu satunya di Indonesia dan dibuka untuk menjawab kebutuhan negara dalam menyiapkan guru pendidikan kepercayaan di tingkat SMA.

Pada tahap awal, program tersebut didukung penuh melalui skema beasiswa pemerintah. Dalam perjalanannya, dukungan tersebut sempat menghadapi kendala seiring perubahan struktur kementerian.

Meski demikian, Untag Semarang tetap mempertahankan program ini sebagai wujud komitmen terhadap inklusivitas.

Hingga kini, puluhan mahasiswa dari berbagai daerah telah lulus dan mengabdi di wilayah masing masing.

“Pendidikan adalah hak, bukan privilege,” ujarnya.

Kembangkan Prodi S2 dan S3 Untuk Tingkatkan Mahasiswa

Dalam enam tahun terakhir, jumlah mahasiswa Untag Semarang sempat mengalami penurunan seiring persaingan yang semakin ketat. Namun, dalam tiga tahun terakhir tren tersebut mulai berbalik meningkat.

Pada tahun ajaran terakhir, jumlah mahasiswa baru mencapai sekitar 1.900 orang. Hingga kini, alumni Untag tersebar di berbagai posisi strategis, mulai dari Jaksa Agung, pimpinan KPK, kepala daerah, hingga Gubernur Papua Pegunungan.

Suparjo menilai pasar pendidikan sarjana mulai jenuh, terutama di kota dengan kepadatan perguruan tinggi seperti Semarang.

Karena itu, strategi pengembangan diarahkan ke pendidikan pascasarjana, baik program magister maupun doktor.

Salah satu program unggulan yang dikembangkan adalah Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Program ini menyasar kalangan profesional, aparatur negara, dan pekerja yang memiliki pengalaman kerja panjang tetapi belum menyelesaikan pendidikan formal.

“Kami harus menyesuaikan strategi dengan realitas persaingan pendidikan tinggi,” katanya.

Akar Kehidupan
Suparjo tumbuh dalam keluarga sederhana di pedesaan Banyumas. Ibunya tidak mengenyam pendidikan formal, sementara ayahnya merupakan pensiunan pegawai negeri golongan terendah karena keterbatasan ijazah.

Kondisi tersebut membentuk karakter mandiri dan kesadaran sosial sejak usia dini. Nilai utama yang ditanamkan orang tuanya adalah kejujuran dan etos kerja.

Ia diajarkan untuk tidak memilih pekerjaan selama dilakukan dengan sungguh sungguh dan bertanggung jawab.

Prinsip ini kemudian menjadi fondasi dalam menjalani kehidupan profesionalnya. Salah satu pesan hidup yang paling membekas adalah filosofi pohon pisang.

Tanaman yang dapat hidup di mana saja selama ada air. Filosofi tersebut mengajarkan adaptabilitas dan daya juang.

“Bekerja apa pun asal dilakuka dengan baik, di situlah nilai kehidupan,” ujarnya

Tonton Video Selengkapnya

Artikel Terkait