Sebagai alumnus Teknik Mesin Institut Teknologi SepuluhNopember (ITS) Surabaya, Lukman memegang peran penting dalam proyek-proyek strategis nasional.
Tidak sedikit proyek energi berskala besar —baik di sektor hulu migas, LNG, maupun industri hilir— yang dikelola atau dipimpin oleh lulusan ITS.
Perjalanan Lukman dari kampus ke industri energi nasional bukanlah lompatan instan. Apa yang ia pelajari di ITS cara berpikir sistemik, ketelitian teknis, dan disiplin rekayasa baru menemukan relevansinya secara utuh puluhan tahun kemudian, ketika ia berhadapan dengan proyek-proyek kompleks yang melibatkan teknologi tinggi, regulasi negara, dan kepentingan ekonomi nasional.
Pendidikan Teknik Mesin di ITS dikenal keras dan menuntut. Bukan hanya karena beban akademik yang berat, tetapi karena pendekatan pembelajarannya yang menekankan pemahaman sistem secara menyeluruh.
Mahasiswa tidak diajarkan menghafal rumus semata, melainkan dilatih untuk memahami keterkaitan antarvariabel, efisiensi proses, serta konsekuensi teknis dari setiap keputusan rekayasa.
Disiplin Kuat
Karakter pendidikan ITS juga menanamkan disiplin kerja yang kuat. Deadline ketat, tugas lapangan, serta budaya menyelesaikan masalah secara langsung membentuk lulusan yang terbiasa bekerja di bawah tekanan.
Pendidikan ITS membentuknya sebagai insinyur lapangan seseorang yang memahami bahwa teori harus diuji di kondisi nyata,sering kali dalam situasi yang jauh dari ideal.
Dalam dunia energi, pendekatan semacam ini menjadi penting. Proyek besar tidak pernah berjalan sempurna sesuai desain awal.
Dibutuhkan insinyur yang mampu membaca masalah secara sistemik, mencari solusi praktis, dan mengambil keputusan dengan perhitungan matang.
Formasi intelektual itulah yang dibawa Lukman dari ITS ke berbagai peran strategis yang ia jalani kemudian. Di balik disiplin teknik dan kerasnya dunia industri, Lukman Mahfoedz membawa nilai-nilai yang dibentuk jauh sebelum ia mengenal bangku kuliah ITS.
Ia tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya adalah guru agama yang juga berdagang sarung dan batik, sementara ibunya mengabdikan diri sebagai guru madrasah.
Lingkungan keluarga tersebut membentuk etos hidup yang menekankan kerja keras, kesederhanaan, dan integritas.
Nilai-nilai itu tidak berhenti di rumah. Ia membawanya ke kampus, lalu ke dunia kerja. Disiplin belajar di ITS bertemu dengan disiplin hidup yang ditanamkan keluarga.
Kejujuran akademik sejalan dengan prinsip moral yang ia pegang sejak kecil. Dalam berbagai fase kariernya, nilai-nilai tersebut menjadi penopang ketika ia harus mengambil keputusan sulit di lingkungan kerja yang sarat kepentingan.
Sektor Konstruksi
Selepas menyelesaikan pendidikan di Teknik Mesin ITS, 1980, Lukman Mahfoedz memulai karier profesionalnya di sektor konstruksi.
Dunia ini menjadi ruang awal baginya untuk menerjemahkan ilmu teknik ke dalam praktik nyata:
membaca gambar, memahami spesifikasi, mengelola waktu, serta berhadapan langsung dengan
dinamika lapangan.
Pengalaman tersebut membentuk ketangguhan mental sekaligus ketelitian teknis yang kelak menjadi ciri kepemimpinannya. Ia mengenang fase awal itu sebagai masa pembelajaran yang menentukan.
“Di konstruksi, kita belajar bahwa kesalahan kecil di atas kertas bisa menjadi masalah besar di lapangan. Di situ disiplin teknik benar-benar diuji,” ujarnya.
Transisi penting terjadi ketika Lukman bergabung dengan Huffco/VICO Indonesia, perusahaan yang berperan sentral dalam pengelolaan gas alam di Kalimantan Timur.
Masuknya ia ke industri gas alam menandai pergeseran dari proyek konstruksi menuju sistem energi yang jauh lebih kompleks, terintegrasi, dan berorientasi jangka panjang.
Di VICO, ia tidak hanya berurusan dengan fasilitas produksi, tetapi juga dengan rantai pasok gas
yang menopang industri strategis nasional.
“Di gas alam, saya mulai melihat energi bukan sekadar soal fasilitas, tetapi soal kesinambungan bagaimana satu keputusan bisa berdampak ke industri, negara, bahkan hubungan internasional,” katanya.
Proyek LNG
Puncak profesional teknis Lukman Mahfoedz terwujud dalam keterlibatannya di berbagai proyek LNG strategis Indonesia.
Di sektor inilah seluruh pembelajaran teknik, pengalaman lapangan, dan kemampuan membaca konteks bisnis diuji secara simultan.
Proyek LNG bukan sekadar pembangunan fasilitas, melainkan kerja multidimensi yang menyatukan
teknologi tinggi, investasi besar, regulasi ketat, dan kepentingan negara.
Lukman terlibat langsung dalam pengembangan Tangguh LNG Train 1 dan 2 di Papua Barat —proyek
raksasa yang menempatkan Indonesia sebagai pemain penting di pasar LNG global.
Kompleksitas proyek ini tidak hanya terletak pada aspek teknis, tetapi juga pada tantangan geografis, sosial, dan lingkungan. Setiap keputusan teknis harus berjalan seiring dengan sensitivitas sosial dan
keberlanjutan jangka panjang.
Pengalaman serupa ia jalani dalam proyek Donggi Senoro LNG di Sulawesi Tengah. Proyek ini sempat tertunda hampir 18 tahun sejak pertama kali ditemukan.
Sebelum akhirnya berjalan, tercatat sekitar 15 nota kesepahaman (MoU) pernah ditandatangani namun tidak membuahkan hasil.
Baru setelah skema komersial dan struktur pembiayaan disesuaikan dengan kondisi sponsor nasional, proyek tersebut dapat direalisasikan.
“Pelajaran terpenting dari proyek-proyek LNG itu adalah bahwa proyek besar tidak akan jalan tanpa breakthrough, terutama di sisi komersial dan regulasi,” katanya.
Setelah Pimpin Medco Fokus Hilirisasi Energi
Rekam jejak panjang dan solid di sektor gas dan LNG membuka babak baru dalam karier Lukman Mahfoedz ketika ia dipercaya bergabung dengan Medco Energi Internasional. Kepercayaan ini datang langsung dari pendiri Medco, almarhum Arifin Panigoro, dan kemudian dilanjutkan oleh Hilmi Panigoro.
Bagi Lukman, kepercayaan tersebut bukan sekadar amanah profesional, tetapi juga tanggung jawab kebangsaan.
“Memimpin perusahaan energi nasional sebesar Medco adalah kehormatan sekaligus tanggung
jawab besar,” ungkapnya.
Di Medco, ia mengemban berbagai jabatan puncak yang menempatkannya pada level pengambilan keputusan strategis, mulai dari hulu migas hingga pengembangan bisnis lintas sektor dan lintas negara.
Operasi Medco yang meluas ke Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Serikat memperluas
cakrawala kepemimpinannya.
Ia berhadapan dengan berbagai rezim regulasi, dinamika geopolitik, serta tantangan risiko di wilayah – wilayah konflik.
“Bekerja di luar negeri mengajarkan saya bahwa konsistensi regulasi adalah kunci. Di banyak negara konflik sekalipun, aturan migas dijaga tetap stabil,” katanya.
Medco, bagi Lukman, adalah ruang aktualisasi kepemimpinan energi nasional: perusahaan
Indonesia yang tidak hanya bertahan, tetapi mampu bersaing di tingkat global.
Keberadaannya di jajaran pimpinan memperkuat karakter Medco sebagai perusahaan yang bertumpu pada profesionalisme, kompetensi teknis, dan tata kelola yang kuat.
Fase ini menandai transformasi Lukman Mahfoedz dari insinyur proyek menjadi pemimpin energi dengan skala nasional dan internasional.
Hilirisasi Energi
Gagasan tentang hilirisasi dan nilai tambah energi tidak berhenti sebagai wacana bagi Lukman
Mahfoedz. Ia memilih membawanya ke ranah praktik melaluiketerlibatannya di PT Butonas Petrochemical Indonesia (BPI), tempat ia kini menjabat sebagai Deputy President Director.
Fokus utamanya adalah pembangunan pabrik methanol berkapasitas satu juta ton per tahun di Bojonegoro, Jawa Timur.
Proyek ini telah ditetapkan pemerintah sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) sejak 2022 dan diperbarui dalam daftar PSN tahun 2024 dan 2025.
Dengan total investasi sekitar 1 miliar dolar AS dan teknologi dari Air Liquide, Prancis, proyek ini dirancang untuk mulai beroperasi (COD) pada awal 2029.
“Ini bukan sekadar proyek industri, tetapi bagian dari strategi kemandirian energi nasional,” kata Lukman.
Methanol yang dihasilkan akan menjadi komponen penting dalam pengembangan biofuel B40. Skema ini memungkinkan pencampuran methanol dengan CPO untuk menghasilkan FAME, yang kemudian menggantikan sebagian konsumsi diesel nasional.
Dengan kapasitas tersebut, Indonesia berpotensi menghemat impor sekitar 5 juta ton diesel per tahun, setara dengan penghematan devisa sekitar 2,5 miliar dolar AS.
Selain itu, proyek ini dirancang dengan pendekatan rendah karbon. Gas buang CO2 dari proses produksi akan ditangkap dan dimanfaatkan kembali dalam proses konversi menjadi methanol.
“Transisi energi tidak bisa hanya bicara pengurangan emisi, tetapi juga bagaimana industri tetap tumbuh secara realistis dan berkelanjutan,” ujarnya.














