Juga menerbitkan berbagai buku, antara lain 100 Perguruan Tinggi Akreditasi Unggul, 100 Rektor Inspiratif, 100 Anggota DPR-DPD RI Inspirasi Bangsa, serta buku buku alumni dari sejumlah kampus seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Institut Pertanian Bogor (IPB).
Segera diterbitkan pula buku alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Airlangga (Unair).
Menurut BS, pengembangan media dan penerbitan ini ibarat membuka lahan baru, belajar dari tragedi yang dihadapi media cetak pada umumnya menghadapi media berbasis digital.
Selain mencoba menyajikan apa yang dibutuhkan masyarakat umumnya, juga mencari model manajemen yang sederhana, sekaligus efisien.
Manajemen Angkringan
BS menjelaskan, pola kerja yang fleksibel sebenarnya sudah lama diterapkan sebelum istilah work from home (WFH) dikenal luas.
Bekerja dari rumah bukan hal baru. Dalam mengelola media, berbagai tantangan sering muncul, mulai dari persoalan efisiensi hingga cara mencari sumber pendapatan.
“Desainer majalah dan bukubuku kami, hampir tidak pernah masuk kantor,” katanya.
BS menyebut yang dijalankan sebagai “manajemen angkringan”. Konsepnya sederhana, yaitu menjual apa yang memang dibutuhkan orang sekaligus menerima titipan.
Dalam konteks media, tulisan dari para penulis dianggap sebagai titipan yang harus dikelola dan dipasarkan.
Karena itu pengelola media tidak cukup hanya menerbitkan, tetapi juga harus mampu menjual gagasan yang ada di dalamnya.
Menurutnya, membuat makanan atau tulisan bukan hal yang sulit. Membuat media online pun kini dapat dilakukan siapa saja.
Tantangan sebenarnya terletak pada kemampuan mengkapitalisasi karya tersebut sehingga menjadi produk yang dihargai dan membuat orang bersedia mengeluarkan biaya.
Ia juga mengakui, hingga sekarang masih banyak membutuhkan striker dalam tim. Posisi lain seperti penjaga gawang atau gelandang sudah cukup.
Namun pemain yang mampu memasukkan bola hingga benar benar menghasilkan pendapatan, terutama iklan bagi media, masih sangat terbatas.
“Dibutuhkan talenta muda yang kreatif, bersemangat, disiplin, dan mau bekerja keras,” katanya.
Jurnalistik Tokoh
Jurnalistik yang dikembangkan BS di Kelompok Majalah Indonesia adalah jurnalistik tokoh. Dalamkonsep ini, tokoh menjadi pusat dari seluruh tulisan.
Jika merujuk pada prinsip dasar jurnalistik 5W-1H, unsur who atau siapa berada di posisi paling menentukan, karena dari tokoh itulah cerita berkembang, mulai dari apa yang dilakukan, bagaimana prosesnya, di mana berlangsung, hingga kapan peristiwa itu terjadi.
Karena itu dalam satu tulisan fokusnya hanya pada satu tokoh atau satu institusi. Penyebutan tokoh lain diupayakan seminimal mungkin agar pembaca tidak bercabang.
Dengan cara ini tulisan tetap terarah dan tidak menimbulkan kebingungan bagi pembaca. Dalam menyajikan tulisan di Kelompok Majalah Indonesia, yang ditampilkan adalah fakta dan data, dengan seminimal mungkin komentar atau pandangan subjektif penulis.
Dengan cara itu pembaca dapat menilai sendiri sosok narasumber. Jika pembaca kemudian menganggap narasumber sebagai tokoh yang hebat, penilaian itu muncul dari data, fakta, serta ungkapan yang disampaikan narasumber, bukan dari penilaian penulis.
Bagian awal diupayakan langsung memuat hal yang penting sekaligus menarik, misalnya prinsip, visi, atau tekad yang kuat dari tokoh yang ditulis.
Dengan cara ini pembuka tulisan tidak terasa sebagai kesimpulan atau tafsir dari penulis maupun editor.
Judul juga diusahakan bersifat substantif, tidak sekadar formalitas. Judul dipilih yang mampu menggambarkan isi tulisan dan memberikan gambaran mengenai tokoh yang dibahas.
Biodata narasumber juga penting dicantumkan, terutama tanggal lahir agar pembaca dapat membayangkan usia nya.
Jabatan yang ditampilkan dipilih yang paling strategis, terutama jabatan terakhir yang sedang diemban.
Targetnya, tulisan menjadi lebih jelas, ringkas, komunikatif, dan tidak melelahkan pembaca. Bahan tulisan memang sering berasal dari berbagai sumber, termasuk media sosial yang kadang memiliki pola atau template serupa. Karena itu setiap tulisan tetap diusahakan memiliki karakter sendiri.














