Ir. H. Awang Sasongko, ST, MH, IPU, ASEAN Eng -Direktur Operasional PT Tosan Aji Mumpuni

Kunci Berani Ambil Risiko Batam Sangat Menjanjikan – Ir. H. Awang Sasongko, ST, MH, IPU, ASEAN Eng

Share

Ir. H. Awang Sasongko, ST, MH, IPU, ASEAN Eng, tumbuh dan besar di lingkungan perkotaan Surabaya yang dekat dengan dunia kerja dan industri. Ketertarikan pada bidang teknik membawanya menempuh pendidikan Teknik Kelautan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Setelah meraih gelar sarjana pada 2002, ia langsung terjun ke dunia industri sebagai welding inspector atau inspektor pengelasan.

Pada 2003, ia memutuskan pindah ke Batam, sebagai commercial officer di sebuah galangan kapal. Pengalaman tersebut memperluas wawasannya, tidak hanya pada aspek teknis, tetapi juga pada pemahaman kontrak, negosiasi, serta hubungan dengan klien, termasuk perusahaan asing dengan standar kerja internasional.

Ia kemudian bergabung dengan PT Dharma Pratama, perusahaan kontraktor blasting dan painting. Di perusahaan ini, ia mulai mendalami secara serius bidang pelapisan logam dan perlindungan baja
terhadap korosi, yang menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan dan umur struktur industri.

“Pernah bekerja di sektor fabrikasi bejana tekan, dan terlibat dalam proyek-proyek di Newmont Nusa Tenggara,” katanya.

Membangun Usaha
Kesadaran untuk membangun usaha sendiri tumbuh setelah merasa memiliki pengalaman lapangan yang memadai.

Pada 2012, bersama sejumlah rekan, ia mendirikan PT Tosan Aji Mumpuni. Nama Tosan Aji dimaknai sebagai besi berharga, simbol nilai dan kekuatan yang ingin dihadirkan melalui perusahaan.

PT Tosan Aji Mumpuni bergerak sebagai spesialis protective coating atau pelapisan logam untuk melindungi baja dari korosi, khususnya bagi industri maritim serta minyak dan gas. Perusahaan ini didukung dua mesin automatic blasting, masing masing untuk plat dan struktur baja.

“Salah satu keunggulannya adalah kemampuan melakukan automatic blasting untuk plat dengan lebar hingga tiga meter, kapasitas yang tergolong langka di Batam,” katanya.

Sebagai perusahaan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), Tosan  Aji Mumpuni beroperasi di tengah persaingan dengan perusahaan asing, terutama dari Singapura.

Meski demikian, perusahaan ini mampu menempatkan diri sebagai pemain penting berkat kapasitas,
kualitas, serta kedekatan dengan pasar lokal.

Adaptasi Krisis
Awang Sasongko mengatakan, pada awal berdirinya Tosan Aji Mumpuni berorientasi pada sektor
minyak dan gas (migas), khususnya struktur lepas pantai.

Namun, krisis industri migas yang melanda Batam sekitar 2019 memaksa perusahaan beradaptasi. Keputusan strategis kemudian diambil dengan mengalihkan fokus usaha ke sektor galangan kapal, khususnya layanan subprimer.

“Subprimer itu pelapisan sementara pada baja sebelum dirakit menjadi kapal. Fungsinya untuk melindungi baja dari karat selama proses penyimpanan dan distribusi,” jelasnya.

Langkah tersebut terbukti tepat. Permintaan subprimer sangat tinggi karena galangan kapal membutuhkan perlindungan material dalam jumlah besar.

Dari sinilah Tosan Aji Mumpuni justru mengalami pertumbuhan signifikan di tengah krisis. Saat ini, Tosan Aji Mumpuni mampu memproses sekitar 100 hingga 120 keping baja per hari.

Dengan rata-rata berat dua ton per keping, kapasitas harian mencapai sekitar 200–240 ton. Dalam satu bulan, volume produksi berkisar antara 6.000 hingga 7.000 ton baja.

Ia menjelaskan ukuran plat yang dilapisi rata-rata memiliki lebar 2,4 meter dan panjang 9,1 meter, dengan ketebalan bervariasi antara 8 hingga 16 milimeter.  Mesin yang dimiliki perusahaan bahkan mampu menangani plat hingga ketebalan 25 milimeter.

“Bahan baku baja berasal dari berbagai produsen, baik dalam maupun luar negeri, tergantung kebutuhan atau keinginan pemilik proyek,” ujarnya.

Ekspansi Bisnis
Setelah Tosan Aji Mumpuni berjalan stabil, Awang Sasongko mendirikan PT Energi Graha Sagara, perusahaan yang bergerak di bidang galvanisasi dengan sistem hot-dip atau pencelupan.

Energi Graha Sagara dibangun untuk mengisi kekosongan fasilitas galvanisasi di Batam, setelah dua perusahaan sejenis di wilayah tersebut berhenti beroperasi.

Melihat peluang tersebut, fasilitas lama diakuisisi dan teknologi galvanisasi dari Austria diadopsi. Kehadiran Energi Graha Sagara memperkuat ekosistem industri logam di Batam sekaligus membuka
peluang pasar baru tanpa kompetitor langsung. Bidang layanannya memberikan perlindungan baja melalui lapisan seng,” katanya.

Langkah ekspansi berikutnya diwujudkan melalui pendirian PT Delta Inti Wangsa sekitar 2021. Perusahaan ini bergerak di bidang pemeliharaan pembangkit listrik, khususnya pekerjaan boiler pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

“PT Delta Inti Wangsa memiliki basis operasional di Surabaya dan Medan,” katanya.

Berani Ambil Risiko
Awang Sasongko menyatakan, modal utama dalam berbisnis bukan semata uang, melainkan keberanian dan sikap mental.

Menurutnya, rasa takut gagal sering menjadi penghambat utama, terutama bagi mereka yang ingin membangun usaha sendiri.

Berangkat dari pengalaman panjang sebagai pekerja, ia memahami keterbatasan modal finansial, sehingga memilih menumbuhkan usaha melalui pola kemitraan.

Ia meyakini bahwa naik dan turun dalam bisnis adalah keniscayaan. Karena itu, menjaga sikap, etika, dan hubungan baik dengan semua pihak menjadi hal yang utama, termasuk dengan kompetitor.

Reputasi dan kepercayaan dipandang sebagai aset jangka panjang yang nilainya jauh melampaui keuntungan sesaat.

Menyadari dunia proyek dan industri sangat erat dengan bahasa hukum, Awang Sasongko melanjutkan pendidikan Magister Hukum di Universitas Internasional Batam.

Kontrak, spesifikasi teknis, dan klausul perjanjian kerap menjadi titik krusial dalam menjalankan bisnis. Pengalaman menghadapi sengketa hukum dengan perusahaan asing di Singapura semakin memperkuat tekadnya untuk memahami aspek hukum secara lebih mendalam sebagai  bekal dalam mengelola risiko dan mengambil keputusan bisnis.

“Bukan ingin beralih menjadi praktisi hukum, tapi pendidikan ini sangat membantu lebih kritis dalam menganalisis kontrak dan memitigasi risiko usaha,” jelasnya.

Industri Batam Masih Potensial

Awang Sasongko menepis anggapan bahwa sektor maritim Batam mulai mengalami penurunan. Menurutnya, aktivitas maritim justru masih cukup ramai, meski arah pengembangannya mulai bergeser. Jika sebelumnya didominasi proyek-proyek besar, kini Batam diproyeksikan berkembang sebagai basis logistik dan pariwisata.

Selama ini sektor maritim Batam dikenal melalui industri perkapalan. Namun di balik itu, terdapat keterkaitan kuat dengan industri minyak dan gas, meski sebagian besar konsumennya berasal dari luar negeri.

Berbeda dengan perkapalan yang banyak melayani pasar domestik, industri migas di Batam lebih berorientasi internasional.

Menurutnya, peluang Batam sebagai basis logistik masih sangat menjanjikan, mulai dari penyediaan gudang, perbaikan, hingga penyimpanan peralatan kapal dan proyek internasional.

Batam dinilai masih memiliki prospek kuat setidaknya hingga 2035, dengan sektor maritim dan fabrikasi tetap menjadi tulang punggung yang berkembang ke arah logistik regional.

Keterbatasan lahan dan meningkatnya aktivitas industri justru membuka peluang baru di bidang penyimpanan, perawatan, dan logistik peralatan.

Ia juga mulai melirik sektor pariwisata sebagai diversifikasi dan penyeimbang setelah lama berkecimpung di dunia proyek.

“Itu salah satu bentuk refreshing bagi saya. Tiga bisnis sudah di dunia proyek, masa bikin bisnis lagi di sektor yang sama, kapan santainya,” katanya.

Peran Sosial
Di luar dunia bisnis, Awang Sasongko juga aktif dalam kegiatan sosial dan pendidikan. Sebagai Ketua IKA ITS Kepulauan Riau, ia memimpin komunitas alumni yang beranggotakan sekitar 800 orang.

Fokus utama kegiatan organisasi diarahkan pada pembukaan akses pelatihan tenaga kerja. Bersama Ikatan Alumni ITB, Undip, dan Politeknik Negeri Batam, ia menginisiasi program pelatihan bagi lulusan SMA dan SMK yang belum memiliki keterampilan industri.

Pelatihan dirancang berbasis praktik dan dilaksanakan langsung di lingkungan kerja nyata, termasuk di fasilitas PT Tosan Aji Mumpuni.

Hingga saat ini, lebih dari 120 peserta telah menyelesaikan program pelatihan dengan tingkat penyerapan kerja sekitar 80 persen.

Para lulusan program ini bekerja di berbagai perusahaan industri maritim dan pendukungnya. Hubungan dengan almamater, ITS Surabaya, terus dijaga melalui peran sebagai dosen tamu, pembicara, dan penghubung kerja sama institusi. Ia juga aktif mendorong kolaborasi antara ITS dan Badan Pengusahaan (BP) Batam.

“Sinergi antara kampus dan industri adalah kunci untuk mencetak lulusan yang siap kerja dan mampu menjawab kebutuhan nyata dunia industri,” katanya.

Tonton Video Selengkapnya

Artikel Terkait